Diposting pada August 16, 2006 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.
Al Islamu Qobla Jama’ah ….
Yap, sebuah idiom yang seharusnya sangat dimengerti bagi mereka yang ngakunya anak-anak ngaji. Sebuah istilah yang seharusnya dipahami bagi mereka yang ngaku udah ikutan tarbiyah. Namun, kadang kita terlalu larut dalam hiruk pikuk bendera jama’ah, sehingga justru melupakan untuk apa jama’ah itu ada, untuk apa selama ini ia berda’wah, untuk apa selama ini ia menghafal ayatul jihad dari suratul Anfal dan At Taubah ….
Al Islamu Qobla Jama’ah …
Hasan Al Banna mengatakan, da’wah kita adalah da’wah Islamiyyah yang sifatnya universal, menyeluruh, tidak juz’iyyah, tidak parsial. Namun justru kita yang kurang memahami makna ukhuwwah Islamiyyah.
Hasan Al Banna mengatakan, janganlah kamu mengolok-olok gerakan Islam yang lain dengan membanding-bandingkan da’wah kita dan da’wah mereka, hendaklah kita senantiasa menjaga hubungan persaudaraan di antara ummat Islam. Hendaklah kita sesuai dengan nama jama’ah kita yang merujuk pada sebuah makna persaudaraan antara kaum muslimin …..
Al Islamu Qobla Jama’ah …
Kini, pemahaman universalitas ini justru dimentahkan oleh mereka yang menyandang label akhi, ukhti bahkan masyaikh dan ulama’. Dengan pongah mereka berkata, “ Acaranya siapa nih, gerakan A atau gerakan B ? “. “Huh, kalau nggak pakai bendera partai A aku nggak mau ikutan, ah ! “ , atau dengan ‘nylekitnya berkata “ Paling arahnya ke sana atau ke situ, paling ntar diajak follow up dengan ustadz A ! “
TERUS KENAPA ?!
Ayyuhal muslimun ! Allah SWT tidak akan menanyai golongan kita ketika kita di akhirat nanti ! Surga tidak hanya untuk harokah A atau partai B atau organisasi C ! Surga adalah untuk ummat Islam dan mereka yang benar-benar teruji dengan apa yang sudah Allah ujikan untuk mereka. Surga adalah untuk mereka yang menjunjung tinggi Alqura’an dan Assunnah dan mereka yang mempertahankannya walaupun harus menggigitnya dengan geraham !
Bagi mereka yang masih ragu akan keharusan memelihara izzah ummat di atas izzah jama’ah barangkali mereka bisa melihat kembali materi Bina’ Al Izzah yang menyiratkan pesan yang amat jelas pentingnya meletakkan kepentingan ummat di atas kepentingan golongan atau jama’ah …..
Ayyuhal muslimun ! Seorang da’i dan da’iyyah harusnya menjadi bagian dari solusi, bukan masalah. Ummat ini sudah bermasalah dengan ukhuwwahnya yang amburadul ditelan hiruk pikuk ashobiyyah dan taklid buta tanpa landasan ilmiah yang cukup. Lalu kenapa ketika kita diseru untuk membela suatu problematika ummat dengan cover ISLAM semangat kita tidak lebih besar daripada ketika diseru dengan cover HAROKAH atau PARTAI atau GERAKAN ? Laa haula walaa quwwata illa billah …..
Ketahuilah, gerakan atau harokah atau apapun itu adalah sebuah kendaraan untuk mencapai tegaknya aqidah tauhid di muka bumi dan khilafah Islamiyyah yang akan melindunginya dari serangan musuh. Maka, belajarlah kembali dari Rasulullah SAW,
“Al Islamu Ya’lu Wala Yu’la ‘Alaih” (Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain).
Lalu mengapa kita masih ragu ?
» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:
September 19th, 2006 at 6:54 am
Sekarang kita harus bertanya kembali, diatas persatuan apakah Al Islam dibangun??. Apakah diatas manhaj persatuan yang digembar-gemborkan oleh seorang tokoh besar sekaligus pendiri Al Ikhwanul Muslimin : Hasan Al Banna dengan prinsipnya : “Saling ta’awun terhadap hal-hal yang kita sepakati, dan saling bertoleransi terhadap hal-hal yang bertolak belakang”.??, sekalipun yang bertolak belakang itu adalah perkara ushuluddin??. Diatas prinsip inilah mereka (Ikhwan dan firqah sempalan sunnah lainnya) menyerukan persatuan dengan Syiah Rafidhah dll. Bagi mereka, musuh utama adalah kaum kuffar dari kalangan Yahudi, Nashara dan Majusi, sedangkan pencela Allah Ta’ala dan Rosul-Nya serta Shahabat radhiallahu ‘anhum ajma’in dianggap sebagai teman. Dimanakah prinsip Al Wala’ wal Bara’ ditempatkan??. Abu Fadhl Al Hamadzani berkata : “Ahli bid’ah serta orang-orang yang memalsukan hadits lebih berbahaya daripada orang-orang kafir yang secara terang-terangan menentang Islam. Orang-orang kafir bermaksud menghancurkan Islam dari luar sedangkan ahli bid’ah bermaksud menghancurkan Islam dari dalam. Mereka seperti penduduk suatu kampung yang ingin menghancurkan keadaan kampung tersebut sedangkan kaum kuffar bagaikan musuh yang sedang menunggu di luar benteng sampai pintu benteng tersebut dibuka oleh ahli bid’ah. Sehingga ahli bid’ah lebih jelek akibatnya terhadap Islam dibanding orang yang menentang secara terang-terangan.” (Al Maudlu’at Ibnul Jauzi lihat kitab Naqdur Rijal halaman 128). Hal serupa juga dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Majmu’ Fatawa. Dan perkara (mencela Rosul dan Shahabat, memalsukan hadits dll) telah dilakukan oleh kaum Rafidah itu. Apakah dengan dalih persatuan prinsip ini dijadikan pembenaran??. Al Jama’ah yang haq hanyalah satu sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadits shahih, yakni golongan yang Rosul dan para shahabatnya serta yang mengikuti mereka dengan ihsan berada diatasnya, baik manhaj, aqidah, akhlaq, muammalah dlsb, termasuk dalam hal ini adalah persatuan, manhaj tarbiyyah dan tashfiyyah.
November 12th, 2006 at 2:44 pm
Assalamu’ alaykum …
Alhamdulillah wa syukurillah ……
Dan insya Allah, Hasan Al Banna atau ulama’ ikhwan atau
yang (sering dikata2in) surury memang tidak pernah
menyerukan berteman dengan syi’ah, selain dalam kondisi
sebagaimana perang antara Hizbullah dan Israel kemaren,
dan ini hanyalah untuk kemashalahatan ummat Islam di
daerah tersebut, yang tentu berada dalam kondisi yang
tidak membutuhkan keluarnya fatwa-fatwa : “perangnya
ahlul bid’ah dengan kafir, atau musyrikin melawan
kafirin, jadi karena nggak ada yang bener aqidahnya,
nggak usah dibantu !”.
(coba Antum baca kitabul jihadnya syaikh Abdullah Azzam,
di bawah naungan surat At Taubah, atau kitab yang lain.
Sesungguhnya, berpegang pada ulama’ ahluts tsugur itu
lebih utama, karena ulama’ ahluts tsugur lebih mengetahui
kondisi lapangan dan berpikir 1000x untuk mengeluarkan
fatwa). Insya Allah, aqidah beliau dan ulama’ ikhwani dan
surury berada dalam kelurusan ….
Yang jadi pertanyaan Ane, mengapa kibaril ulama’ saudi,
dan beberapa syaikh di Yaman (yang hobi mentahdzir,
mengkafirkan, dan membid’ahkan orang lain – padahal
membid’ahkan sesama muslim itu sendiri kan bid’ah karena
Rasulullah tidak pernah melakukannya, dan ini bukanlah
manhaj da’wah ahlussunnah yang menda’wahkan sunnah dengan
sunnah, yakni dengan lemah lembut dan santun-lihat Q.S.
Ali Imran:159) tidak menyerukan fatwa jihad untuk
membantu saudara-saudara kita di palestina dan libanon ?
Smoga Allah SWT memuliakan mereka, semoga Allah
memuliakan mereka yang dengan jelas melihat
saudara-saudara mereka dibantai oleh Yahudi la’natullah
‘alaih. Semoga bukan karena mereka memakan uang Amerika
yang dihibahkan kepada amir-amir mereka (ya, memang
Amerika tidaklah memusuhi secara langsung. Namun
mendirikan pangkalan militer, memberi uang kepada
pemerintah, dan memasung penyebaran sirah dan pemahaman
jihad untuk membebaskan negeri muslim adalah sebuah
kedzoliman yang harus dilawan, dan ini nyata di hadapan kita ….).
Mengapa pula mereka (terutama cs-nya Syaikh Muqbil, afwan silahkan aja ikut pengajiannya, atau dengarkan pengajian ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh)
seolah-olah menafikan jihad (karena kadang fatwa beliau diucapkan kepada khalayak tidak secara langsung oleh beliau, artinya ada kemungkinan distorsi dan subyektifitas dalam menggunakan fatwa para ulama’) , padahal Syaikh Ibnu Taimiyyah, Syaikh Fauzan, Syaikh Abdullah bin Baz adalah ulama’ yang benar-benar meletakkan makna jihad dalam konteks yang mulia, dan ini ada dalam buku-buku mereka. Silahkan Antum dalami lagi,
terutama dalam kitab Risalatul Qital (Ibn Taimiyyah) dan kitab-kitab lainnya. Semoga Allah memuliakan Syaikh Utsaimin, syaikh Muqbil bin Hadi, dan memberikan
karunia-Nya kepada beliau …..
Memang, kami bukanlah orang yang seilmiah Antum. Kami
belum terlalu sanggup pula untuk berteriak bid’ah,
padahal barangkali yang dibid’ahkan lebih baik dari yang
membid’ahkan (ada di Qur’an juga, Antum pasti lebih hafal
dari saya…). Tapi maksud tulisan di atas saya dalam
blog itu adalah, belajarlah untuk meletakkan kepentingan
Islam di atas kepentingan jama’ah atau kelompok atau
harokah atau majelis ta’lim atau halaqoh ilmiyyah atau
kumpulan-kumpulan apapun dan di sanalah kesholihan sosial
seorang da’i akan terlihat. Bukanlah seorang da’i, mereka
yang tidak bisa menerima ikhtilaf dengan akhlaq Islami
yang sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah (Q.S. Al
Jatsiyah:23 – menjauhkan diri dari hawa nafsu dalam
memandang permasalahan).
Mungkin ada buku yang perlu dikaji juga,
“Siapa Teroris Siapa Khawarij” (membantah “Mereka adalah
Teroris!” secara ilmiah) dan cukuplah bagi kita untuk
beramal dan mencukupkan berseteru antar sesama kaum
muslimin, karena dengan amal inilah kita akan mampu
menjawab pertanyaan-pertanyaan Allah tentang peran kita
dalam meninggikan Dinullah ….
Wallahu Waliyut Taufiq ……
February 23rd, 2007 at 8:18 am
mas insya allah kita mendoakan sodara2 kita di palestin dan di libanon dan sodara muslim kita di seluruh dunia yang mereka jg terdiskriminasi kita akn mmbantu sekuat mungkin. mas bantuan allah pasti akan datang ane yakin aslkn kita bnr2 kmbli kpd alquran dan sunnah mas islam pasti tegak dibumi allah swt ane yakin, tapi kita harus mempersiapkan diri mas cm ada 2pilihan menegakan kalimat tauhid di bumi allh swt/ syahid dan mendapatkan kedudukan yang paling mulia jannah! kita ga usah sibuk berpartai kita ga ush sibk cari muka di masyarakat,kita ga ush berpolitik yang notabennya adalah sebuah prodak yahudi yang diagung2kan, demokrasi bkn islam,sangat berbedajauh islam adalah agama yang sempuraa
May 22nd, 2007 at 3:55 am
test
November 11th, 2007 at 11:27 am
Wahai seluruh saudaraku sesama muslim… Ingatlah bahwa apa yang kita ucapkan, lakukan, yakini, maupun tuduhkan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak… Jadi WASPADALAH!!! WASPADALAH !!!!