Diposting pada August 22, 2006 | Awan: Mazjid | oleh : sunu wibirama.
Itulah sebuah keluhan yang pernah saya dengar, tak lama setelah teman-teman masjid saya menggarap sebuah acara pengajian, yang menurut mereka terlalu menguras tenaga, pikiran dan waktu. Maklum, mereka bukanlah orang-orang yang pernah mencicipi nikmatnya tarbiyah Islamiyah, mencicipi nikmatnya ukhuwah, sebagaimana selama ini sering digembar-gemborkan para aktivis da’wah, yang justru kadang kehilangan rasa ‘humanis’nya manakala mereka telah bergabung di komunitas da’wah.
Ya benar, logika kerja dan amal memang sedikit demi sedikit harus kita perkenalkan kepada mereka manakala kita mengampu amanah di ranah publik yang memerlukan banyak tenaga, pikiran bahkan uang. Namun, logika kerja dan amal yang kita kenal selama ini tidaklah selalu sama dengan apa yang ada di otak saudara-saudara remaja masjid kita, ataupun adik-adik kita yang dalam kesehariannya masih mengenal budaya-budaya begadang, tetek di pinggir jalan dan malu-malu kalau ada undangan tadarusan di masjidnya. Jangankan lancar membaca qur’an, ada salah satu di antara mereka yang bahkan belum bisa mengaji sama sekali, namun kita menyamaratakan mereka seolah-olah logika yang kita gunakan sama dengan logika mereka.
Alhasil, keluarlah keluhan yang sebenarnya mereka sendiri pun enggan mengatakannya kepada kita, entah karena sungkan atau karena takut dimarahi, wallahu a’lam. Yang jelas, ini adalah masalah serius yang mesti ditanggapi, kalau da’wah kita nggak mau bubar atau jalan di tempat (emange pitulasan ?). Bener, memang kadang harus ada pola-pola reward (penghargaan) yang kita terapkan manakala teman-teman kita berprestasi, setidaknya (kalau anak masjid nih..) ditraktir makan (bahasa gaulnya : disirukke) atau minimal diberi ucapan selamat atau hadiah secara khusus. Memang gak harus semua sih, tapi kalau cerdas kita bisa bikin acara pembubaran panitia ramadhan misalnya, hanya dengan uang Rp.50.000 rupiah saja, dan sudah mengena ke semua segmen anak masjid. Nggak percaya ? Ajak aja mereka jalan-jalan ke pantai Parangtritis atau naik ke Gunung Kidul. Urusan makan besar dan motor, suruh bawa sendiri-sendiri. Ntar di sana kita bikin acara tukar kado atau kado silang, dan uang Rp.50.000 tadi cukup kita jadiin snack kecil aja, atau aqua yang menemani perjalanan kita. Beres kan ?
Itu yang pertama. Yang kedua, jangan cuma menguras potensi tanpa memperhatikan masalah mereka. Omong kosong, kalau da’wah yang kita kenalkan kepada mereka adalah beban dan beban (baca : amanah dan amanah). Omong kosong, karena Rasulullah SAW tidak membebani shahabat kecuali sesuai dengan kemampuan mereka. Omong kosong, kalau da’wah kita tidak sesuai dengan “bahasa” yang mereka kenal. Mereka (teman-teman masjid kita, adik-adik kita) adalah aset yang harus kita jaga dan kita pupuk keterikatannya dengan da’wah, sejauh dan semampu kita. Konsep “semampu kita” bukannya ikhtiar tanpa rencana. “Mastatho’tum” (sesuai dengan kemampuan) yang dimaksud Allah SWT adalah mastatho’tum dengan pertimbangan manusiawi dan perencanaan ke depan yang matang. Ora wathon nggasruk, lempar amanah ke sana dan lempar beban ke sini.
Dan kadang, akhi dan ukhti aktivis da’wah ini sudah kehilangan rasa humanisnya, sampai-sampai nggak tahu kalo temannya juga mempunyai masalah yang cukup berat. Masalah bayar sekolah, masalah indeks prestasi kuliah yang cuma NASAKOM (nasib satu koma), masalah keluarga, masalah skripsi yang terus tertunda (ups!), masalah beban mencari penghasilan supaya mandiri, beban karena nilai di sekolah yang tidak kunjung membaik, beban karena mereka harus putus sekolah dan bekerja, beban karena mereka kehilangan panutan dan muncul masalah baru karena kakak-kakak atau bapak mereka yang tidak kunjung bertaubat dari kemaksiatan yang mereka lakukan, dan masih banyak lagi. Dan ini adalah masalah da’wah juga …..
Da’wah tidak hanya ngajak pengajian, tidak hanya ngajak tadarusan, tapi juga ngajak ngobrol di angkringan, menemani adik-adik main sepak bola di sore hari, atau sekedar duduk-duduk di serambi masjid untuk mendengar mereka mengeluh dan curhat kepada kita. Ketahuilah, kepercayaan mereka kepada kita timbul tidak dari banyaknya mereka mengisi presensi pengajian, atau banyaknya peserta tadarusan kita. Kepercayaan adalah ketika kita mau mendengar keluhan orang lain di saat kita pun harus mengeluh. Di sanalah timbul Tsiqoh (percaya) nya seorang adik kepada kakak, timbul tsiqohnya mad’u (objek da’wah) kepada da’i dan seterusnya. Sulit memang, bahkan sangat sulit. Tapi tidak ada jalan lain sepertinya. Ketika kita tidak bersama mereka, tidak memperhatikan masalah-masalah mereka juga, maka kita akan berhadap-hadapan dengan mereka dan sangat boleh jadi akan merugikan kerja-kerja da’wah kita ke depan.
Simpelnya, proporsional dalam mencapai target. Bukan hanya target kualitas amanah yang layak kita laporkan dalam sesi qodhoya dalam ‘lingkaran’ kita masing-masing, namun juga berapakah mad’u yang masih bertahan, berapa jumlah remaja masjid yang datang ke masjid kita minggu ini, bagaimana hubungan remaja masjid dengan takmir, bagaimana hubungan remaja masjid kita dengan mereka yang belum ke masjid, dengan cah-cah prapatan, dengan lik-lik kita yang ‘dodholan’ angkringan, dengan cah-cah ‘ndhlogok’ yang tiap malem ‘nglotce’ meminum minuman yang mempererat ‘ukhuwah’ mereka (vodka, connecting people…), dengan cah-cah pos rondha. So ? Nggak banyak biasanya yang bisa kita laporkan, bahkan kadang ditanya siapa RT dan RW di kampungnya saja kita nggak tahu. Duh ! Da’wah macam apa sih yang kita bawa ? Islam model apa yang kita kenalkan kepada ummat kita ? Kadang kita lantang menda’wahkan sunnah tapi tidak dengan metode yang ‘nyunnah’, kadang kita meributkan pentingnya isbal dan jenggot, tapi ada saudara kita yang masih bermaksiat kita diem aja. Kadang kita syuro’ hanya untuk menentukan kapan syuro’ lagi, tapi amal kita nol ! Nol, karena produktivitas tidak diukur dari frekuensi syuro’, tapi dari berapa jumlah ‘lingkaran’ yang kita bina, apa prestasi da’wah kita dalam setahun ini, apa langkah kita untuk menambah ma’isyah yang meringankan beban da’wah.
Jangan kecil hati dong. Masih ada peluang koq. Cuma, jadilah lebih humanis, sehumanis Rasulullah SAW dan para shahabatnya. Sehumanis mereka yang ‘tega’ mengorbankan separuh rumahnya untuk dihuni saudaranya, kaum muhajirin. Sehumanis mereka yang melindungi saudaranya dari sabetan pedang dan tombak. Sehumanis mereka yang ikhlas menginfakkan seluruh kebun kurmanya untuk jihad fi sabilillah. Kapan lagi kita bertindak ? Masihkah bermimpi menunggu bangkitnya Abu Bakar r.a, atau Ali bin Abi Thalib r.a ? Nggak deh ! Ya cuman kita yang tersisa, dan tentu bersama adik-adik dan teman-teman remaja masjid kita yang masih jauh dari suasana Islami. Ya hanya kita, pewaris nabi dan shahabat yang ada saat ini. Tinggal kitanya, sadar atau tidak kalau kita sedang diwarisi risalah yang mulia ini. “Anda puas kami lemas”, ya emang beginilah terkadang gambaran bagaimana da’wah ini harus kita hadapi. Mad’u tetap terikat dengan da’wah, sementara da’i senantiasa memperbarui semangatnya. Ibarat marathon, staminalah yang menentukan, bukan panjangnya kaki atau bagus tidaknya postur tubuh kita.
Last but not least, jangan sampai kedengaran lagi retaknya ukhuwah, mental dari jalur da’wah, de el el, ibarat sebuah lirik lagu :
tiada guna kau kembali
mengisi ruang hati ini
semuanya telah berlalu
bersama lukaku
tiada guna kau berjanji
untuk setia menemani
hatiku yang tlah terluka
karena dustamu …
semua yang telah berakhir
antara hatiku dan hatimu
tak kan ada cinta
seperti yang dulu
semua yang telah berakhir
antara diriku dan dirimu
tak kan ada rindu
seperti yang dulu
kekekekekeke ……![]()
» Diposting pada awan Mazjid. Artikel lainnya pada awan ini: