Diposting pada August 22, 2006 | Awan: Umum, Waton_nggasruk | oleh : sunu wibirama.
Alhamdulillah, dua orang saudaraku telah melangsungkan pernikahan, di usia mereka yang relatif masih muda, mas Yoga (23 tahun) dan mbak Noviyanti (21 tahun). Bukan sesuatu yang mengherankan apabila saat ini banyak pasangan-pasangan muda yang menyegerakan menikah (bukan tergesa-tergesa menikah), maklum pengetahuan dinul Islam saat ini relatif lebih mudah disebarluaskan dan diterima oleh anak-anak muda daripada saat jaman mbah-mbah dan orang tua kita. Yup, bukan sesuatu yang mengherankan bila orang tua kita saat ini terheran-heran dengan gaya gauk anaknya yang kagak mau pacaran dan penginnya langsung ‘tancep gas’, sekali lagi ini adalah barokah dari da’wah yang kadang kurang kita syukuri ….
Ada yang menarik dari khutbah nikahnya KUA Mantrijeron saat saya menyimak isinya. Di sana Pak KUA menekankan pentingnya percaya kepada keputusan Allah yang akan memberikan rizkinya pada mereka yang membulatkan niat untuk menikah. Dan Pak KUA mengatakan, mereka yang tidak percaya berarti bisa dianggap fasik. Luar biasa, FASIK ! Jujur, masalah keyakinan akan rizki Allah sebelum seseorang menikah ini adalah hal yang biasa terjadi, menjadi hambatan bagi mereka yang akan menikah. Ma’isyah, pekerjaan, pendapatan, dan hal-hal yang gak jauh-jauh dari itu (dan Allah SWT sudah mengetahui hal ini, makanya Allah tuh langsung berfirman dalam kitab-Nya , bahwa Dialah yang akan memberikan karunia-Nya pada pengantin-pengantin ini).
Dan saya pun tercekat dalam hati manakala kata-kata ‘fasik’ diulang-ulang oleh Pak KUA, seolah-olah beliau memvonis dan menyindir saya di depan orang banyak (karena saya sebelumnya pernah khilaf akan hal ini …). Hahahahaha, enggak ding. Yah, kira-kira gitulah perasaan ketika ‘dikumbah’ dengan ayat-ayat Al Qur’an tentang pernikahan (plus hadits Rasulullah SAW). Jengah, bingung, dan yang pasti merasa bersalah juga. Lha kepriwek, tanggung jawab itu musti dilaksanakan ketika seseorang sudah memilih jalan hidupnya untuk menikah. Modalnya percaya kepada Allah, modal ulet, dan nggak ragu-ragu jihad bil mal. Kata ustadz Jazir ASP, “Insya Allah, Allah akan memberi jalan keluar …..”
Masalahnya, berapa banyak dari kita yang tahan berpikir secara paralel, berbagai masalah menumpuk di otak dan masing-masing mereka, ibarat kelinci, melompat-lompat meminta untuk segera diselesaikan ? Hmm, istilah IT-nya Parallel Processing. Semoga kita semua tetap bertahan dan istiqomah dengan apa yang telah Allah SWT jelaskan dan Rasulullah SAW tuntunkan ….
Yang jelas, satu hal lagi telah saya dapatkan. Bahwa tanggung jawab itu sebuah pilihan hidup juga. Artinya, tidak semua orang, bahkan bagi mereka yang memiliki ilmu agama yang lebih, memiliki keberanian untuk bertanggung jawab setelah menentukan pilihannya meskipun ia meyakini sepenuhnya bahwa Allah SWT akan memberikan rizki bagi pasangan yang telah menikah melalui karunia-Nya. Ini tentu bukanlah masalah aqidah yang menyimpang, atau kefasikan dalam diri seseorang, tapi lebih kepada perlunya kita melihat hal-hal positif dari sebuah pernikahan dan memantapkan hati kita untuk menyegerakannya (soalnya kalau dilihat susahnya terus, bakalan nge-jomblo sampai tuwa, rugi amiittt..).
Minimal, ketika kita masih merasa miskin harta setelah kita menikah, setidaknya kita memiliki istri yang siap berbagi pusing dengan kita (dan inilah karunia Allah jua, istri kita). Daripada jomblo, miskin, pusing dimakan sendirian ?
Hehehehehe ……. , terakhir, Barakallahu lakum kang Yoga dan mbak Noviyanti. Jangan sampe BIREN yah, bar rabi terus leren (da’wahnya).
» Diposting pada awan Umum, Waton_nggasruk. Artikel lainnya pada awan ini:
September 20th, 2006 at 7:54 am
trus kapan dong massunu nyusul..?