Barrier Mental

Diposting pada August 25, 2006 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

Pernah denger ungkapan di atas ? Yup, kira-kira ini adalah sebuah ungkapan yang muncul ketika seseorang disemati predikat-predikat tertentu, yang justru menghambat kreativitasnya dalam bertindak. Yah, ada sih kebanggaan ketika menerima gelar itu, tapi itu berarti kita harus-setidaknya- setara dengan apa yang membuat orang lain berpikir bahwa kita seperti yang mereka gambarkan. Inilah yang dinamakan barrier mental, sesuatu yang kadang tidak kita sadari telah menggerogoti kita dalam berkreativitas.

Banyak orang yang mengeluh kepada saya, mengapa mereka seolah-olah mandheg dari riset mereka yang dulu setelah mereka menerima predikat-predikat baru yang disematkan orang lain padanya. Padahal, hal itu sebenarnya tidak boleh mempengaruhi semangat kerja dan risetnya, serta semangatnya untuk memperbaiki keadaan di sekelilingnya. Salah ketika gelar yang disematkan menghambat produktivitasnya, bukan gelarnya maksud saya, tapi penyikapan orang tersebut terhadap apa yang ia terima.

Whatever lah kata orang, bagi saya, apa yang saya lakukan selama ini adalah pilihan dan jalan hidup saya. Ingat kisah katak yang memenangkan lomba panjat menara ? Ya, saat katak-katak lain kalah, karena semangatnya dikikis oleh katak-katak penonton yang mencerca mereka, seekor katak kecil justru menjadi pemenang lomba panjat menara. Semua bertanya-tanya, apa sih rahasia katak kecil tadi ? Ternyata simpel, si katak kecil tadi TULI alias gak bisa denger. Alhasil, semangatnya tetap terjaga karena pikiran-pikiran negatif tidak menyerangnya. However, kita bukanlah orang tuli ansich, yang menolak pikiran positif maupun negatif. Pastikan, kita hanya TULI saat ada yang mencoba menggoyahkan semangat kita dengan teriakan-teriakan negatif …

Masalahnya bagi kita, predikat yang kita terima itu disejajarakan dengan teriakan positif ataukah negatif ? Hanya kita yang bisa menyikapinya, bukan orang lain, bukan ortu kita, bukan bapak kita, ibu kita. Dan cita-cita membara itulah yang membuat kita tetap hidup. Kalau bukan karena jannah dan ridho Allah atas perbuatan kita, buat apa kita capek-capek beribadah dan beramal ?

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Kebersihan dan Berkah Sebuah Negeri
  • » [Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur
  • » Mari Memudahkan, Semoga Dimudahkan!
  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa’
  • » Kajian Ramadhan
  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah…
  • Ikut urun rembug di artikel ini



    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya