Diposting pada September 4, 2006 | Awan: qalbu | oleh : sunu wibirama.
Suatu ketika, mungkin pernah sekali kita merasa capek sekali. Penat yang luar biasa, baik dari segi fisik maupun pikiran. Sebagaimana jumat sore yang lalu (1 September 2006), luar biasa kepenatan yang harus saya rasakan. Aktifitas yang tak kunjung bertoleransi memberikan jeda terus menggelayuti sepanjang hari. Mulai dari pagi hari, sampai dengan malam hari, aktifitas terus menerus harus diselesaikan. Menguras tenaga ? Jelas. Apalagi pikiran. Mulai dari menyelesaikan target-target pekerjaan yang terus ditagih, mikirin nasib remaja masjid, nyariin lowongan kerja buat mutarobbi yang masih nganggur, ngisi liqo’, sampai kemudian aktifitas-aktifitas silaturrahim ke tetangga dan masyarakat (baca : ngangkring, tethek) yang tentu tidak sekedar canda dan kenyang saja yang didapat, namun kelelahan pun akan senantiasa ada. Sejenak sempat terpikir di kepala, “ Kalau kemudian niatan hati ini bergeser sedikit saja, tentu apa-apa yang saya lakukan menjadi sia-sia belaka …”.
Jumat kemarin betul-betul menjadi hari melelahkan. Kata orang barat, “That’s really terrible day !” Kalau dikatakan kondisi hati dan semangat berkarya mempengaruhi kondisi fisik ternyata ada benarnya, dan ini sudah terbukti berkali-kali. Saya sempat bertanya dalam hati (sebagaimana kisah tiga orang shalih yang bertawasul dengan amal mereka supaya mereka bisa keluar dari gua),
“Ya Allah, aku ini sepertinya sudah sangat optimal dalam beramal. Ya Allah, aku ini sepertinya juga sudah berusaha dengan keras untuk memenuhi apa yang Kau perintahkan dan apa yang Kau larang. Mungkinkah nantinya ada keinginan-keinginan pribadi yang meskipun sepertinya mustahil bagiku untuk melaksanakan bisa Engkau wujudkan ? “
Yah, memang sepertinya mustahil, karena kita bukanlah orang-orang biasa yang dengan senang hati bisa melenggang ke mana pun mereka mau …..
Tentu ada, dan pastinya ada keinginan-keinginan pribadi dan cita-cita kita selama kita hidup. Entah terkait nasib kita di masa depan, entah terkait dengan jodoh yang kita inginkan, dan beragam cita-cita “manusiawi” lainnya. Ada seorang ikhwah yang mengatakan, “Pengorbanan untuk da’wah dan membayar harga surga memang luar biasa mahal, bahkan kalaupun boleh dikata, kita sampai tidak bisa membayar apa yang sudah kita cita-citakan untuk diri kita pribadi, karena pada titik-titik kritis, da’wah ini butuh sukarelawan yang rela direnggut cita-cita pribadinya ….”
Ya Allah ! Bukankah cita-cita surga ini harus diimbagi dengan cita-cita dunia pula ? Sebab saat ini kita pun masih hidup di dunia, dan Islam memang mengajarkan bagi kita untuk senantiasa tawazun. Belum lagi sempat berpikir jauh, saya sudah teringat nasib beberapa ikhwah kita yang tidak kunjung lepas dari masalah-masalah pribadi dan keluarga yang semakin pelik (karena memang saya sering jadi tempat curhat mereka), entah masalah kuliah, masalah keluarga, keuangan, dan sebagainya yang justru malah menghambat produktifitas dia. Sampai pada suatu ketika, ada ikhwah yang harus DO (drop out) kuliah, padahal DO atau tidak adalah sebuah pilihan, bukan paksaan. Dan tidak seharusnya ia menyikapi beban da’wah dengan sedemikian “dramatisnya”, padahal ia masih diberi kesempatan untuk memilih. Luar biasa ! Luar biasa pelik sebenarnya masalah-masalah kita. Pantas, banyak penyakit-penyakit da’wah yang muncul karena ‘virus-virus’ tak tertangani ini menggerogoti para pelaku da’wah.
Tak ayal, saya kembali menghibur diri sembari berujar dalam hati, “Bagaimana pun, da’wah ini seharusnya membawa barokah bagi pelakunya, bukannya masalah. Seberat apapun cobaan, tentu kegembiraan yang mengiringinya harusnya lebih besar dari kesedihan yang ia terima sebelumnya”. Intansurullaha yanshurkum wa yutsabit aqdaamakum-nya Allah adalah benar dan seharusnya terlaksana ! Maka, dimanakah letak kesalahannya… ? Wallahu a’lam. Bagi saya, kepenatan ini terkadang bisa sedikit terobati manakala kita mengingat kembali barokah-barokah yang muncul dalam hidup, semenjak kita sudah menekadi jalan ini menjadi pilihan. Memang sih, ini butuh waktu dan kesendirian juga (bukan demo soalnya, jadi nggak perlu rame-rame). Berat memang, mengingat-ingat kemudahan dan pertolongan Allah SWT yang sudah kita terima manakala kita menjalani aktifitas-aktifitas sehari-hari (sejenak ego dan keinginan pribadi memang harus disimpan dulu rapat-rapat).
Minimal kita bisa merasakan, “ Oh, ternyata Allah membayar keikhlasan kita dengan ridho-Nya terhadap berbagai aktifitas kita”, atau setidaknya keluar dari hati kita kalimat-kalimat semacam, “Semoga kita tetap bisa berkhuznudzon terhadap Allah. Tentu Allah akan sesuai dengan persangkaan hamba-Nya, dan insya Allah dia tidak akan menyia-nyiakan kita, apalagi kita sudah menjadi bagian dari penolong agama-Nya” . Dan ini yang membuat saya tetap bertenaga (meskipun cuma di dalam hati saja) ditengah “nikmatnya” merasakan penatnya aktifitas hari ini. Sebelum akhirnya saya jatuh tertidur lelap, saya mengucap sebuah kalimat pengharapan lagi kepada Allah,
“ Ya Allah, kami ini adalah kaummu yang sudah berikhtiar dan berusaha dengan optimal. Maka jadikan apa yang kami lakukan ini sebagai penolong kami di hari kami mendapat kesusahan yang berat. Dan jadikan apa yang kami cita-citakan di dunia ini sebagai jalan untuk meraih kapling surga-Mu yang masih tersisa….ya Allah.”
NB : buat kamu, loe, njenengan semua yang mbaca hal ini, emang sih ini bagian dari curhat pribadi yang gak seharusnya tayang di sini. Tapi, tak ada maksud lain selain semoga yang sedikit ini membawa hikmah bagi kita (yang se-”profesi” dalam da’wah) dan semoga kita tetap tidak berputus asa dalam menjaring nikmat Allah. Jangan sampai yang “belum pasti” mengalahkan yang “sudah pasti” …..
» Diposting pada awan qalbu. Artikel lainnya pada awan ini:
May 25th, 2007 at 7:51 am
Yang jelas kita memang seharusnya bersyukur karena uda diparingi Alloh nikmat yang saking banyaknya ndk bakalan bisa kita hitung.Nikmat yang bukanlah suatu balas budi kita kepada-Nya,karena kita nda bakalan bisa membalasnya.Salah satu nikmat itu adalah menjadikan kita berislam dan punya iman.Apapun aktivitas(yang diridhoi-Nya) kita,adalah wujud syukur kita
atas segala nikmatn-Nya.Ane jadi malu,selama ini kadang sering ngeluh,merasa capek berdakwah(ciee…padahal baru niat thok!)