Diposting pada September 8, 2006 | Awan: Waton_nggasruk | oleh : sunu wibirama.
Ada orang yang dari kecil dididik agama dengan kondisi yang lurus-lurus saja, maka dia akan memandang segala hal yang berbeda dari opini awal yang ia miliki sebagai sesuatu yang bathil dan harus dilenyapkan. Ini sebuah hal yang bagus dan memang ini yang diharapkan dari pendidikan keluarga Islami.
Tapi belum lama ini, aku mendapati nasib temenku yang keluarganya nyaris retak gara-gara salah satu orang tuanya yang ingin kembali ke agama lamanya (murtad dari Islam) dan itu berarti pernikahan yang selama ini sudah terjalin, dan membuahkan satu orang putra lantas menjadi sesuatu yang sia-sia. Bagaimana tidak, landasan untuk membangun sebuah keluarga yang utuh ini hampir saja (semoga nggak deh) hilang, hanya karena salah satu dari komponen keluarga ini merasa tidak puas dengan apa yang selama ini ia anut. Bagi kita yang tidak pernah menghadapi hal seperti ini, bahkan cenderung mempunyai keluarga islami dan damai-damai saja mungkin dengan enteng berkata, “Ya biarin aja, yang penting kamu jangan ikut-ikutan !” Fenomena yang ada bahkan keluarga yang orang tuanya cenderung baik dalam beragama kadang tidak memiliki keturunan yang bervisi serupa. Justru anak-anak mereka kadang “kurang bersyukur” dengan kondisi seperti ini. Ada yang kena narkoba, mabuk, dan menghambur-hamburkan uang keluarga (saya berani survey, banyak anak muda sekarang yang “rusak” sementara orang tuanya adalah seorang alim ulama’ …)
Saya jadi teringat dengan nasib keluarga saya sendiri. Wallahu a’lam ya, tapi setiap kali saya mengingat hal ini, hati saya terasa berat. Bagaimana tidak, bayangkan saja seorang figur ayah yang bijak dan baik, namun mempunyai satu kekurangan fatal, tidak bisa memberikan contoh dalam hal agama. Jangankan sholat, untuk meluruskan aqidah saja rasanya sudah setengah mati. Kalaupun Allah SWT tidak melarang seorang muslim untuk berputus asa, saya tentu sudah putus asa sejak dulu …..
Bisa dibayangkan, setiap kali bicara Islam dan Agama, ada semacam rasa marah dan tidak puas terhadap apa yang sedang dibahas. Seolah-olah semuanya adalah sampah dan semua yang berpenampilan agamis adalah kedok ! Ini bukan guyonan …, saya sendiri, bersama ibu dan adik sudah berusaha menunjukkan bahwa seorang muslim bukanlah munafik belaka, sebagaimana banyak terjadi di lingkungan birokrat kita. Dan keinginan untuk meng-islam-kan seluruh anggota keluarga ini tidak akan putus, hanya gara-gara rasa marah yang muncul, entah karena kesombongan atau kurangnya ilmu.
Dan Allah SWT belum lagi memberikan hidayah-Nya. Pernahkah kita berpikir, kita sebagai seorang muslim yang memang seharusnya pergi ke masjid, kemudian ada seseorang yang dengan nada mengolok-olok bertanya, “Le, endi bapakmu ? Ra tau nang masjid ? Sholat ora je kae ? “ Apa rasanya kalau kita yang ditanya ? Dan ini tentang orang tua kita, bukan tetangga atau teman kita. Kalau Allah SWT tidak melarang seorang muslim untuk memusuhi muslim yang lain, tentu orang-orang seperti ini bukanlah buah dari pendidikan islami yang benar, tapi lebih kepada rasa superior yang muncul dari keyakinan seolah-olah surga sudah berada di tangannya !
Rasulullah bahkan tidak bisa mengislamkan secara penuh pamannya yang telah melindungi hidup sekaligus da’wahnya. Tapi ini bukan sesuatu yang lantas bisa dijadikan apologi terhadap kondisi-kondisi semacam yang saya dan teman saya alami. Tentu semua orang menginginkan keluarga yang harmonis, islami (jelas !) dan rukun. Ini saja sudah menjadi modal yang mahal untuk memberikan nuansa religi dan pendidikan yang baik bagi keturunannya kelak. Lha terus, bagaimana dengan orang tua kita saat ini ?
Huff, yang jelas, kalo masalah doa rasanya tidak pernah lowong-lowongnya diselipin di antara sholat-sholat kita. Tapi koq Allah SWT belum juga menurunkan hidayah-Nya ? Ataukah sudah tertutup pintu hidayah bagi orang yang tidak mempercayai kebesaran-Nya ?
“Quu anfusakum wa ahlikum naaraa …..!”
Ya Allah, inilah ikhtiar kami ya Allah. Bilamanakah datang bantuan dari-Mu ……
NB : Sekali lagi afwan (maaf) kalau ini mungkin lebih sekedar umpatan dan keluhan yang tidak tersalurkan. Yang jelas, buat kamu yang masih serabutan dengan hidupmu, sementara keluarga kamu cenderung lebih baik dan lebih paham dalam masalah keislaman (apalagi kalo sering haji, jadi ustadz sana-sini), lebih baik berpikir sekali lagi kalo mau sia-siakan hidup kamu. Aku mau koq, tukeran sama kamu ….
» Diposting pada awan Waton_nggasruk. Artikel lainnya pada awan ini: