Memaknai sakit …

Diposting pada October 9, 2006 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

Weleh ….

Luar biasa bosan ternyata, manakala tubuh ini diharuskan untuk berbaring tenang, sambil menunggu demam yang melanda badan ini turun. Ya, penyakit campak baru saja ‘mengunjungiku’, dan mengganggu Ramadhanku yang seharusnya bisa kulaksanakan dengan baik, tanpa harus membatalkan jadwal-jadwal ngisi, jadwal tilawah, dan target-target ramadhan (yang entah bisa terlaksana atau tidak …)

Sakit ternyata membawa banyak hikmah. Selain sebagai penebus dosa (kata Rasulullah SAW), ternyata Allah SWT memberikan kesempatan untuk berpikir lebih dalam tentang apa-apa yang sudah kita lakukan selama ini. Terkadang, keluh kesah dan rasa kesal pada diri manusia muncul karena ia terlalu banyak pikiran, tapi tidak pernah mencoba berpikir (serius). Ya. Ngakunya banyak masalah, tapi sebenarnya ia tidak tahu mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Keluh kesah karena banyaknya ‘gaweyan’ yang harus diselesaikan, pikiran-pikiran karena masih ada ‘hutang amal’ di sana-sini, spontan terhenti karena kondisi fisik yang sudah tidak mengijinkan diri ini untuk terus beraktivitas. Allahu Ya Kariim ….., barangkali inilah jenak-jenak istirahat yang diberikan Allah SWT untuk kita, yang selama ini mungkin terlalu sombong menilai orang lain yang (dalam pandangan kita) nggak pernah beramal, pemalas, klumbrak-klumbruk, ikhwah holiday (karena nggak punya amanah), atau anggapan-anggapan bid’ah lainnya. Allahu Ya Kariim …., barangkali inilah saat Allah memberi kita jeweran karena kita kurang memenuhi hak-hak tubuh kita, yang dipaksakan untuk melaksanakan segudang tugas, namun kita sering lupa makan teratur, menyapa sejenak ibu bapak kita, atau menata kamar tidur dan buku yang berantakan kagak karuan.

Ya. Lima hari ‘mbolos’ puasa sudah cukup runyam bagiku, mengingat puasa di luar ramadhan tentu tidak seutama ketika bulan ramadhan. Meskipun, masih banyak temen-temen tethek-ku, temen-temen nongkrong, temen-temen angkringan, yang nggak puasa tanpa alasan syar’i. Itu urusan mereka dengan Allah …….
Bagiku, 5 hari tentu sebuah kerugian besar. Kerugian karena jadwal tilawahku jadi ketinggalan dengan orang lain, yang dengan bangganya membanding-bandingkan targetnya untuk khatam di bulan ini. Kerugian, karena kata-kata ‘Afwan’ dan ‘Mohon maaf’ yang seharusnya berharga mahal (karena ngga boleh seenaknya diucapkan) ternyata harus kuobral untuk menghindari tuduhan ‘tidak bertanggung jawab’ karena tidak bisa memenuhi janji (saat sakit). Allahu Ya Karim…… , betapa mahal ternyata kesehatan. Allah memberikan dua nikmat yang mahal harganya, tapi manusia sering menyia-nyiakan , bahkan menyepelekannya tanpa syukur sama sekali, itulah nikmat “waktu luang” dan “kesehatan”.

Ya Allah. Kini saatnya aku bangkit kembali. Dan dengan berani menemui rutinitasku tanpa harus terjebak dalam stigma-stigma, “Aku barusan sembuh”…karena sesungguhnya sakitku juga adalah jihadku. Tidak ada beda dan tidak ada pengurangan amal, karena pintu surga tidak bisa diraih dengan harga murah…..

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Kebersihan dan Berkah Sebuah Negeri
  • » [Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur
  • » Mari Memudahkan, Semoga Dimudahkan!
  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa’
  • » Kajian Ramadhan
  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah…
  • Ikut urun rembug di artikel ini



    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya