Amfibi Masa Kini

Diposting pada November 22, 2006 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

Gimana rasanya hidup dalam dua “dunia” ? Tentu bukan barang gampang. Ya, ada enaknya ada enggaknya. Inilah yang sudah kujalani selama hampir 4 tahun ini, hidup dalam dunia yang agak berlainan aromanya. Barangkali, ada orang yang beranggapan, kurang kerjaan banget sih, gaul ama orang-orang yang kagak bener, or kadang gak bisa sholat tepat waktu (ini pendapat mereka !). Tapi kadang aku juga mikir, kenapa sih, orang yang udah kenal Islam dalam waktu lama aja, kadang-kadang masih suka gagal ketika di uji publik. Ya, mereka kadang sangat rendah performanya dalam masalah profesionalitas, meskipun cara mereka melihat Islam jauh di atas rata-rata orang awam.

Bukan masalah, ketika kita harus berbaur dengan berbagai lingkaran sosial. Toh muamalah tidak membatasi kita harus berbaur dengan dunia kita sendiri. Malahan, ketika kita terbiasa dengan dunia “lain” , kita akan lebih mudah menghalau isu-isu eksklusifisme Islam, atau kalo tidak justru kitalah yang tergerus dengan gemerlapnya dunia lain itu. Yang aku kagumi, banyak hal yang kadang tidak kita dapatkan dalam kajian-kajian Islami rutin dan yang sejenisnya. Masalah penampilan, menjaga perasaan orang, masalah profesionalitas kerja, masalah menghargai waktu , masalah bisnis, masalah menyikapi berbagai karakter orang, dan seterusnya. Ini tidak bisa didapatkan hanya dengan duduk manis dan mendengarkan ustadz berceramah. Ini hanya bisa didapat ketika kita turun dan praktik langsung di lapangan, sebagaimana Ibnu Taimiyah, seorang ulama (ahli ilmu) sekaligus mujahid (ahli ‘amal). Dan dari sanalah, kita bisa memaknai berbagai catatan kajian yang sudah kita dapat selama ini.

Ada yang beranggapan, ” Wah, si sunu kalo malem jarang nginep di kampus nih !” Ataw ada sindiran-sindiran , ” Dumeh saiki wis kepenak leh ngenet …” . Hehehe, silahken aja sih. Tapi tanggung jawab kita tidak hanya di satu lingkaran saja. Ada tanggung jawab lain yang harus dibuktikan, manakala kita berteriak ” Kita harus membasmi kebatilan” Kadang, membasmi kebatilan tidak cukup hanya dengan chatting dan nguwek-uwek keyboard aja. Kadang, membasmi kebatilan itu harus bermalam-malam keluar rumah dan masuk rumah jam 2 pagi. Kadang membasmi kebatilan itu harus berbenturan dengan orang-orang lain, yang sebenarnya kita sendiri tidak menginginkan untuk berhadapan dengan mereka. Kadang membasmi kebatilan itu harus mengorbankan waktu-waktu canda ria kita, waktu bermain kita, waktu kita bersama keluarga, dan seterusnya. Intinya, ada saja hal-hal lain yang sebenarnya wajib kita lakukan, selama kita masih berhati nurani sehat.

Tapi ini semua pilihan. Pilihan yang tidak semua orang mau melaksanakannya, karena memang barang mahal dan eksklusif hanya untuk segelintir orang. Bukan buat orang banyak . Ya, surga kadang memang membuka tangannya untuk mereka yang mau sungguh-sungguh “ngaji” dan memperbaiki masyarakatnya, meskipun semua orang sudah dikasih girik buat ambil jatah di surga. Tapi sekali lagi, Allah SWT memberikan ujian supaya konangan, mana yang bener-bener layak dapet hadiah, ataukah mereka yang hanya jadi penonton yang bersorak gembira saat jagoannya menang dan mencaci saat jagoannya kalah. Dan semua itu pilihan, yang masing-masing akan membawa resiko bagi kita…

Termasuk bagi si amfibi … yang mencoba konsisten berislam, saat lingkungannya baik atau lingkungannya buruk ….

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Kebersihan dan Berkah Sebuah Negeri
  • » [Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur
  • » Mari Memudahkan, Semoga Dimudahkan!
  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa’
  • » Kajian Ramadhan
  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah…
  • Ikut urun rembug di artikel ini



    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya