Diposting pada November 24, 2006 | Awan: Iseng | oleh : sunu wibirama.
Waits. Ini bukan bermaksud untuk menyindir siapa pun jua loh ! Cuma sedikit kontemplasi untuk diri sendiri, yang barangkali bisa dijadikan bahan renungan buat orang lain juga. Judul di atas menjadi realitas yang ada di kampus saya, dan juga di kampus-kampus lainnya . Syndrome mahasiswa tua lebih kepada keinginan yang kurang tegas terhadap tantangan hidup yang sedang dihadapi oleh seorang mahasiswa tingkat akhir, yang merasa sangat perlu untuk segera lulus, tapi tidak juga merasa gelisah dengan tugas akhir yang sedang (atau belum) ia kerjakan. Syndrome ini juga membuat seorang mahasiswa (or mahasiswi ? hehehe … ) sangat betah dengan statusnya sebagai mahasiswa, dan merasa sangat takut bila ia kehilangan statusnya, karena ia tidak punya sandaran ekonomi sedikit pun selepas ia usai dari kuliahnya. Syndrome ini juga membuat mahasiswa merasa tidak pede untuk masuk ke kampusnya, karena teman-teman seangkatannya sudah kelar kuliahnya, atau yang paling parah, ia masih harus memperdalam “jurus-jurusnya” bersama murid-murid padepokan yang notabene jauh lebih muda darinya.
Syndrome ini sangat akut bagi mahasiswa yang sangat gemar berwirausaha. Mereka sangat asyik berkubang dalam nikmatnya dunia enterpreuner, sehingga lupa kapan jadwal ujian dan kapan ia harus menghadap dosennya (hehehe…). Syndrome ini juga membuat marah orang tua mahasiswa yang sudah mengeluarkan banyak uang dan tenaga, serta berbotol-botol air mata doa, hanya untuk mengharap anaknya lulus segera.
Tetapi syndrome mahasiswa tuwa tidaklah sebuas avian influensa, atau HIV dan kawan-kawannya. Syndrome mahasiswa tuwa hanya bisa diatasi dengan kedisiplinan dan keinginan kuat untuk segera lulus kuliah, dan segera mencari sandaran penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Tanpa itu semua, sejarah akan berulang, dan syndrome akan segera menggejala di berbagai universitas, kagak peduli negeri atau swasta, favorit atau non favorit ….
» Diposting pada awan Iseng. Artikel lainnya pada awan ini:
November 27th, 2006 at 2:17 am
omg… omG… OMG!!!
Ini nyindir gw banget.. hiks.. hiks…
Tapi gimana dong, ntar sore udah harus nyebrang lagi. Jadi ya biar dulu lah, kampus toh tidak akan kemana-mana, pulang nanti saya akan selesaikan kuliah, dengan niat yang lebih kuat untuk menamatkannya, dan setelah itu segera mencari sandaran hidup yang lebih layak demi kemandirian, kemanusiaan, indonesia dan demi dunia !!!
*menatap langit penuh semangat*
November 27th, 2006 at 2:26 am
santai bang …. indonesia masih toleran dengan orang-orang malas seperti kita koq, hehehehe
December 13th, 2006 at 8:40 am
wah jan eMJeJe BeGeTe Je (Mak Jleb Jleb Bangettt Je !). eee yo rapopo, pancen yo wis tuwo kok, eh ora ding lebih tepatnya senior+dewasa, paling tidak dalam masalah usia,=D.
sing penting tetep Semangatttt, pantang menyerah, terus berjuang, Allahu Akbar !!!!!
Dan akhirnya … (melu-melu)
*menatap langit dengan penuh semangat*
December 14th, 2006 at 4:29 am
@ K’nia
heheh…. aku ngerti sapa sik komentar di atas (hayo, aja kakean aktivitas lah..). Yang terpenting bukan pada bilangan dan kuantitas umur, tapi “kematangan” pribadilah yang terpenting. Toh lulus cepet bukan berarti kerja cepet juga koq (ceritane menghibur kie), dan lulus lebih lama juga bukan berarti menganggur lebih lama. Pilihan lulus cepat atau lebih lama lebih kepada tanggung jawab moral seseorang. Kalo dengan lulus cepat dia bisa meringankan ortunya, why not ? However, kalo dengan lulus lebih lama ia bisa segera mandiri, it’s not a problem. Yang penting ada tanggung jawab untuk menerima resiko atas pilihannya …
Jadi tua itu pasti, Jadi dewasa itu pilihan
*melok-melok iklan rokok*