“Tulisan ini bukan bertujuan untuk memberikan kesan buruk terhadap organisasi atau jama’ah apapun. Hanya sekedar gambaran riil da’wah kampung. Bila saat ini Anda tahu bahwa ini juga terjadi di wilayah Anda, bahkan Anda juga dimintai pendapat dan dikeluhi orang lain, selamat ! Anda sudah menjadi seorang warga kampung sekaligus seseorang yang sudah dianggap punya peran di kampung. Bila belum, bahkan Anda ndak pernah tahu sama sekali, kasiaan deh lo ! Emangnya kita ini hidup di Mars ? Silahkan bersosialisasi lagi dengan masyarakat, dan rasakan sensasinya! “
Pagi tadi, sebelum berangkat ke kampus, seorang tetangga saya yang kebetulan juga seorang “tokoh masyarakat” di kampung datang menemui ayah saya, dan bertemu pula dengan saya. Tanpa basa-basi, beliau “nyembir” saya dengan berbagai keluhan, mengapa masjid di kampung saya saat ini terkesan eksklusif, seolah-olah hanya dikuasai oleh ormas tertentu (beliau menyebut nama salah satu ormas Islam, yang notabene mempunyai banyak rumah sakit dan sekolah). Kebetulan banyak warga Gamelan (kampung sebelah saya) yang berafiliasi ke ormas ini dan mereka banyak menduduki jabatan di struktur takmir. Indikasi lain tuduhan ini adalah, beberapa warga kampung Namburan (ini kampung saya), yang berafiliasi ke ormas yang lain (menyebut nama ormas Islam dengan banyak pondok pesantren), yang tidak di akomodasi di struktur takmir. Bahkan pengurus masjid saat ini terkesan tidak mau tahu dengan “budaya” yang sudah ada di masyarakat saat ini, seperti yasinan, tahlilan, dan sebagainya. Dugg ! Saya pun hanya terdiam kelu saat di-”sembir” dengan nada seperti itu.
Saya pun berkata pelan, ” Yah, mau gimana lagi pak. Anak muda di kampung kita ini juga tidak banyak, dan kalo mau di ajak ke masjid juga kayaknya pada nggak mau. Terus mau bilang apa ?”
“Ya, iya dik. Tapi kan kesannya masjid di kampung kita ini jadi angker, eksklusif. Masak yang ngurusin masjid ini malah kebanyakan bukan dari kampung kita ? Koq, mereka mau menang sendiri, sepertinya hanya warga mereka yang berhak menggunakan masjid,” sang Bapak ini membantah keras, dan sekali lagi saya cuma diam saja.
“Lihat tuh, sampai yang di belakang masjid saja mbangun mushola sendiri ! Kayaknya dia udah nggak mau lagi sholat di masjidnya ! Terus kalau kayak gini, pengurus takmirnya mau bilang apa ? ”
Modhar ra kowe ! Saya pun cuma bisa mengumpat di dalam hati. Ini baru urusan “persaingan” dua ormas Islam yang udah cukup tua, dan tentu banyak pengikutnya. Lha terus, anak-anak muda tarbiyah ini harus bagaimana mengambil sikap dalam permasalahan ummat seperti ini ? Apakah mereka harus memihak salah satu ? Bisakah mereka jadi jembatan komunikasi antara dua pihak ini ? Apa resiko-resiko yang akan muncul seandainya mereka gagal “mengkomunikasikan” kedua belah pihak yang sedang berseteru ?
Jangan mimpi da’wah ini mau menang, kalau dengan permasalahan seperti ini saja kita tidak peka. Jangan mimpi mau dapet suara banyak, kalau kita belum pernah sekalipun berkiprah dan berjibaku menghadapi “perseteruan” model begini. Sudah terbukti, masyarakat ini akan memilih mereka yang punya peran dan solutif terhadap permasalahan ummat, tidak sekedar mengincar pilihan politik mereka saja ! Non sens, bicara politik di masjid, kalau mereka tidak bisa mengayomi ummat Islam yang beragam. Non sens, bicara (apalagi ini !) partai di masjid, kalau kemudian yang terjadi justru kita memecah belah ummat. Sekali lagi, di kampung saya baru ada “dua” ormas yang “berseteru”, gimana kalau yang muda-muda ini ikut “campur” dan jadi tambah “satu ormas” lagi ? Tentu runyam banget tuh ! Bisa-bisa masjidnya disegel, karena sudah terlalu banyak political interest di sana (paham nggak tuh, bahasa inggris loh !Maksudnya, kepentingan politik, gitu. Ndeso banget sich ! Hehehehe….)
Makanya, buktikan dulu peran kita di masyarakat.Tanpa kita beritahu pun, masyarakat akan melihat apa pilihan dan afiliasi kita. Tanpa diberitahu, masyarakat pun akan mencari tahu dengan sendirinya. Tanpa kita ajak, masyarakat yang akan mendekat ke kita, saat kita jadi bagian dari solusi, bukan justru menambah rame masalah yang sudah ada. Berani terima tantangan ? Berani wujudkan idealisme dan mimpi muluk Anda ?
Silahkan, jadilah bagian dari masyarakat, dan cobalah luangkan sebagian tenaga dan waktu kita untuk masyarakat. Abdikan dengan tulus diri Anda, sebelum Anda meminta mereka untuk memilih “pilihan politik” Anda. Tanpa Anda minta pun, masyarakat sudah mengerti dan paham, jika Anda mampu berperan di tengah-tengah mereka.
Sekedar catatan, di akhirat kelak, Allah SWT tidak akan menanyai apa golongan kita, apa partai kita, apa jama’ah kita. Pembagian surga juga tidak berdasar hizby dan golongan. Lurusin aja niat kita. Semua untuk tegaknya Islam, dan syariat Islam. Semuanya dilakukan dengan da’wah dan jihad. Amal dan keimanan jadi pembeda kasta dan jatah surganya ummat Islam.
Recent Comments