Itulah makna berjama’ah ….

Diposting pada January 3, 2007 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

Beberapa waktu yang lalu, seorang akh yang dulu pernah menjadi teman SMP saya , datang dan bersilaturrahim. Beliau ini dulunya berperan besar pula memperkenalkan saya dalam dunia remaja masjid dan da’wah kampung, sebelum akhirnya ia memilih untuk meninggalkan kota gudeg ini. Dalam ceritanya, ia sedikit menyinggung masalah dukungan partai da’wah terhadap salah satu kandidat walikota di kota tempat saat ini ia tinggal, di mana calon walikota yang ia dukung memiliki track record yang sebenarnya kurang begitu bagus (bisa dikatakan bahwa keputusan untuk mendukung calon walikota ini bisa menimbulkan rasa tidak percaya yang semakin besar di hati kader da’wah).

Beliau berkata, saat ini konstelasi dukungan terhadap partai ini juga sudah tidak seperti dulu lagi. Seorang ustadz alumnus jihad afghan, yang juga mendharmabaktikan hidupnya untuk da’wah sampai-sampai berkata, “Saat ini sudah tidak ada lagi partai politik yang bisa mewakili aspirasi da’wah Islamiyyah. Oleh karena itu, para kader da’wah hendaknya memikirkan ulang niat untuk menjadi aleg, atau pialang politik lainnya ! “, karena keprihatinannya terhadap kondisi politik yang ada. Yang jadi masalah adalah, susunan pengurus dan struktur yang cenderung feodalistik (meminjam kata-kata teman saya itu), yang dengan begitu gampangnya membabat setiap kritikan yang muncul dari kader, membuat kader enggan menyampaikan kritik karena takut dicap sebagai kader yang “bermasalah”. Dalam kenyataannya memang demikian, salah satu tolok ukur struktur dan jenjang kader antara lain adalah ketaatan dan loyalitas kepada jama’ah, dan dalam praktiknya tidak sedikit yang mengesampingkan kafa’ah dan potensi yang dimiliki oleh kader. Akibatnya, banyak kader yang karena loyalitasnya besar dan kafa’ahnya tidak cocok dengan amanahnya, ia dengan sangat mudahnya tergelincir dalam amanah-amanah publik yang tidak bisa dianggap remeh (semisal anggota dewan). Dan celakanya, kritik yang disampaikan lewat struktur,yang terkadang cenderung bernada “pedas”, dianggap sebagai salah satu indikasi ketidaktaatan seorang akh terhadap hasil syuro.

Satu  hal lagi, jama’ah ini (dengan alasan da’wah) juga memperlonggar jenjang keanggotaan, sehingga bisa saja seorang jutawan (atau milyuner) yang belum teruji loyalitas dan “jihadnya” (ya, karena ia belum pernah berda’wah dengan berjalan kaki 7 KM, misalnya) tiba-tiba nangkring di klasemen atas dan ikut mempengaruhi keputusan politik yang ada. Akibatnya, apa yang selama ini menjadi julukan partai da’wah ini (yakni PARTAI KADER, bukan PARTAI KUTU LONCAT), menjadi semakin terasa hambar. Kalau mau jujur, di Gunung Kidul, Jogja, masih banyak kader “jujur dan ikhlas” yang dengan sekuat tenaga berusaha mengislamkan 8 buah desa sendirian, dengan segala daya upaya yang ia miliki. Tentu masih banyak hal serupa di daerah terpencil lainnya. Hal di atas hanyalah satu contoh sederhana saja.

Saya pun manggut-manggut setengah paham dengan yang apa yang dikatakan oleh teman saya tadi. Di jogja memang hal seperti ini belum terjadi (ya, karena belom ada “kue” yang bisa dibagi-bagi). Lain halnya dengan kota tempat teman saya ini berdomisili, yang notabene menjadi pusat peredaran uang di Indonesia. Seorang ustadz yang sudah “senior” pun bukan tidak mungkin tergelincir dalam indahnya dunia dan popularitas, bahkan yang menyandang predikat Lc sekalipun. Apalagi ia bukan orang yang kekurangan dalam segi ekonomi. Lengkap sudah sarana yang mendukung jalan bagi syaithon untuk menggelincirkannya dalam kemilau harta dan jabatan. Saya pun bertanya, ” Terus, kira-kira bagaimana caranya supaya kritikan ini bisa berdaya sentuh besar, tidak kemudian menjadi bumerang bagi orang yang mengkritik ?”

Beliau menimpali, ” Ya, memang harus disampaikan secara bersama-sama. Kita tidak boleh apatis terhadap kondisi jama’ah. Seorang nahkoda kapal yang buta terhadap medan di lautan, tidak boleh dilepaskan sendirian, karena kapal yang ditumpangi oleh banyak orang justru akan tenggelam, dan menimbulkan korban jiwa yang besar. Pun, saat penumpang-penumpang itu memilih untuk melompat keluar kapal meninggalkan sang nahkoda, tidak ada jaminan selamat bagi penumpang yang melompat keluar kapal. Karena itu, kritiklah secara ikhsan dan tetaplah menjaga keutuhan jama’ah, karena dengan inilah da’wah ini bisa bertahan.”

Ya, boleh jadi memang demikianlah pilihan yang bisa diambil. Namun, tidak menutup kemungkinan cara lain juga dilaksanakan. Saya jadi teringat perkataan Ustadz Mu’inuddinillah Basri, mudir Ma’had Assalam, Solo, yang juga salah satu anggota DSP (Dewan Syari’ah Pusat). Beliau pernah berkata kepada saya setahun yang lalu, ” Mas, kalo saya mengarang buku Rakaizud Da’wah dari sudut pandang jama’ah, kira-kira laku nggak ya ? Selama ini, Rakaizud Da’wah lebih banyak dari sisi kader saja. Kader dituntut untuk ini, untuk itu, sementara itu kritik dan kajian untuk jama’ah sangat-sangat kurang “. (NB: saya saat ini sudah bisa menafsirkan maksud beliau ini, apabila dikaitkan dengan kondisi jama’ah saat ini, atau lebih tepatnya kondisi kader yang menempati jabatan “strategis” dalam struktur jama’ah).

Andaikan saya bisa bertemu Ustadz Mu’in sekali lagi, tentu saya akan dengan bersemangat mengatakan, “Tafadhol ustadz ! Silahkan ditulis bukunya. Kalaupun para kader tidak mau membeli buku Antum, sayalah orang pertama dan terakhir yang akan membaca buku Antum, karena perbaikan pribadi sebelum perbaikan orang lain adalah sebuah keniscayaan.”

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Kebersihan dan Berkah Sebuah Negeri
  • » [Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur
  • » Mari Memudahkan, Semoga Dimudahkan!
  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa’
  • » Kajian Ramadhan
  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah…
  • Ikut urun rembug di artikel ini



    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya