Diposting pada January 22, 2007 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.
“Tulisan ini bukan bertujuan untuk memberikan kesan buruk terhadap organisasi atau jama’ah apapun. Hanya sekedar gambaran riil da’wah kampung. Bila saat ini Anda tahu bahwa ini juga terjadi di wilayah Anda, bahkan Anda juga dimintai pendapat dan dikeluhi orang lain, selamat ! Anda sudah menjadi seorang warga kampung sekaligus seseorang yang sudah dianggap punya peran di kampung. Bila belum, bahkan Anda ndak pernah tahu sama sekali, kasiaan deh lo ! Emangnya kita ini hidup di Mars ? Silahkan bersosialisasi lagi dengan masyarakat, dan rasakan sensasinya! “
Pagi tadi, sebelum berangkat ke kampus, seorang tetangga saya yang kebetulan juga seorang “tokoh masyarakat” di kampung datang menemui ayah saya, dan bertemu pula dengan saya. Tanpa basa-basi, beliau “nyembir” saya dengan berbagai keluhan, mengapa masjid di kampung saya saat ini terkesan eksklusif, seolah-olah hanya dikuasai oleh ormas tertentu (beliau menyebut nama salah satu ormas Islam, yang notabene mempunyai banyak rumah sakit dan sekolah). Kebetulan banyak warga Gamelan (kampung sebelah saya) yang berafiliasi ke ormas ini dan mereka banyak menduduki jabatan di struktur takmir. Indikasi lain tuduhan ini adalah, beberapa warga kampung Namburan (ini kampung saya), yang berafiliasi ke ormas yang lain (menyebut nama ormas Islam dengan banyak pondok pesantren), yang tidak di akomodasi di struktur takmir. Bahkan pengurus masjid saat ini terkesan tidak mau tahu dengan “budaya” yang sudah ada di masyarakat saat ini, seperti yasinan, tahlilan, dan sebagainya. Dugg ! Saya pun hanya terdiam kelu saat di-”sembir” dengan nada seperti itu.
Saya pun berkata pelan, ” Yah, mau gimana lagi pak. Anak muda di kampung kita ini juga tidak banyak, dan kalo mau di ajak ke masjid juga kayaknya pada nggak mau. Terus mau bilang apa ?”
“Ya, iya dik. Tapi kan kesannya masjid di kampung kita ini jadi angker, eksklusif. Masak yang ngurusin masjid ini malah kebanyakan bukan dari kampung kita ? Koq, mereka mau menang sendiri, sepertinya hanya warga mereka yang berhak menggunakan masjid,” sang Bapak ini membantah keras, dan sekali lagi saya cuma diam saja.
“Lihat tuh, sampai yang di belakang masjid saja mbangun mushola sendiri ! Kayaknya dia udah nggak mau lagi sholat di masjidnya ! Terus kalau kayak gini, pengurus takmirnya mau bilang apa ? ”
Modhar ra kowe ! Saya pun cuma bisa mengumpat di dalam hati. Ini baru urusan “persaingan” dua ormas Islam yang udah cukup tua, dan tentu banyak pengikutnya. Lha terus, anak-anak muda tarbiyah ini harus bagaimana mengambil sikap dalam permasalahan ummat seperti ini ? Apakah mereka harus memihak salah satu ? Bisakah mereka jadi jembatan komunikasi antara dua pihak ini ? Apa resiko-resiko yang akan muncul seandainya mereka gagal “mengkomunikasikan” kedua belah pihak yang sedang berseteru ?
Jangan mimpi da’wah ini mau menang, kalau dengan permasalahan seperti ini saja kita tidak peka. Jangan mimpi mau dapet suara banyak, kalau kita belum pernah sekalipun berkiprah dan berjibaku menghadapi “perseteruan” model begini. Sudah terbukti, masyarakat ini akan memilih mereka yang punya peran dan solutif terhadap permasalahan ummat, tidak sekedar mengincar pilihan politik mereka saja ! Non sens, bicara politik di masjid, kalau mereka tidak bisa mengayomi ummat Islam yang beragam. Non sens, bicara (apalagi ini !) partai di masjid, kalau kemudian yang terjadi justru kita memecah belah ummat. Sekali lagi, di kampung saya baru ada “dua” ormas yang “berseteru”, gimana kalau yang muda-muda ini ikut “campur” dan jadi tambah “satu ormas” lagi ? Tentu runyam banget tuh ! Bisa-bisa masjidnya disegel, karena sudah terlalu banyak political interest di sana (paham nggak tuh, bahasa inggris loh !Maksudnya, kepentingan politik, gitu. Ndeso banget sich ! Hehehehe….)
Makanya, buktikan dulu peran kita di masyarakat.Tanpa kita beritahu pun, masyarakat akan melihat apa pilihan dan afiliasi kita. Tanpa diberitahu, masyarakat pun akan mencari tahu dengan sendirinya. Tanpa kita ajak, masyarakat yang akan mendekat ke kita, saat kita jadi bagian dari solusi, bukan justru menambah rame masalah yang sudah ada. Berani terima tantangan ? Berani wujudkan idealisme dan mimpi muluk Anda ?
Silahkan, jadilah bagian dari masyarakat, dan cobalah luangkan sebagian tenaga dan waktu kita untuk masyarakat. Abdikan dengan tulus diri Anda, sebelum Anda meminta mereka untuk memilih “pilihan politik” Anda. Tanpa Anda minta pun, masyarakat sudah mengerti dan paham, jika Anda mampu berperan di tengah-tengah mereka.
Sekedar catatan, di akhirat kelak, Allah SWT tidak akan menanyai apa golongan kita, apa partai kita, apa jama’ah kita. Pembagian surga juga tidak berdasar hizby dan golongan. Lurusin aja niat kita. Semua untuk tegaknya Islam, dan syariat Islam. Semuanya dilakukan dengan da’wah dan jihad. Amal dan keimanan jadi pembeda kasta dan jatah surganya ummat Islam.
» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:
January 22nd, 2007 at 7:44 am
sangat memprihatinkan sekali, islam sudah hilang dibelantara bendera-bendera partai dan ormas. Sebaiknya para pemuda islam peka dan mulai “back to basic” kepada Iman dan Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulllah Saw.
January 22nd, 2007 at 8:14 am
Mas , islam cuman sekedar identitas religi untuk bangsa ini…tak lebih…Saya sendiri kecewa dengan umat islam…yang sangat berbeda dengan islam yang saya pelajari dalam buku2 islam…
January 22nd, 2007 at 5:21 pm
lha!!
sekarang numpang liqo di mesjid milik ormas yang punya banyak rumah sakit dan sekolah itu aja udah ga boleh kok!!
katanya aset mereka ga boleh dipakai untuk kegiatan politik.
politik partai lain kali maksudnya.
January 23rd, 2007 at 10:16 am
untuk ikhwa sekalian … sama aja di masjid kampus UGM juga begitu .. lain hal ketika kita coba sedikit mendalami liqo .. substansi dari liqo maksudnya memang bagus dan baik, namun sering itupun dan bisa jadi pasti terkontaminasi oleh pemikiran2 politik dari orang2 yang membawakan liqo atau sering disebut dengan murobbi, yang notabene pasti juga anggota dari partai yang manyatakan berazazkan islam.. sayang sekali ya..
ana pernah mendengar kajian yang murni dan ana baru beberapa kali mengikutinya di masjid kampus UGM hari ahad jam 06.00 pagi dan ahad jam 16.00 bahasannya murni untuk para tholabul ‘ilm DIEn ini…
nah dari sini ada sedikit gambaran .. walaupun masjid kita atau pun mushola sudah banyak terkontasminasi, kita seperti yang dituliskan massunu diatas, setidaknya kita memberanikan diri untuk beri dan mewarnai masjid kita dengan kemurnian dien dari para tholabul ilm.. seperti mengadakan kajian yang murni2 bernafasakan untuk para tholabul ilm dien..etc..
wallohu a’lam..
January 25th, 2007 at 1:01 am
to Republikmaya: setiap bendera juga mengaku kembali kepada Islam yang dibawa oleh Kanjeng Nabi SAW. Perbedaan terjadi karena masalah metodologi, baik dalam fikih maupun dalam dakwah. Melihat apa yang terjadi di masa Rosulullah SAW, bukan hal aneh kalau pasukan Muhajirin membawa benderanya sendiri dan pasukan Anshor membawa benderanya sendiri, demikian pula setiap kabilah yang ikut berperang. But why mereka gak jotos2an sendiri? So, jangan salahkan benderanya. Baik Mhdy maupun NahU memiliki perspektif yang berbeda dalam kesejarahan dari kelahirannya sampai saat ini, juga dalam metodologinya.
to mBah Keman: Jika orang Arab itu suka memperkosa TKW, jireh perang melawan Zionis, cinta dunia dan takut mati,apa ya kita mau bilang bahwa islam itu cuman identitas religi mereka?
to Si Ganteng: kalau begitu, numpang saja di sekolahnya da ndi rumah sakitnya. Kan asyik?!
to Wildan: al ‘ilm itu luas lho! Termasuk masalah politik yang berkaitan dengan umat (al Ummah), kekuasaan (Mulkiyah), ekonomi (Mu’ammalah), dsb. Enggak hanya masalah Tauhid semata. Masuknya ikhwah sekalian ke lapangan politik adalah karena keprihatinan kita terhadap urusan umat. Oleh sebab itu urgen untuk dibantu dengan berbagai upaya, bukannya malah diserang dengan berbagai alasan yang tidak pada tempatnya. Bila memang ada satu-dua hal kekeliruan, mari kita luruskan dengan nasihat yang baik sebagai saudara. Bila masih ngeyel, mungkin ada beberapa alasan:
1. mereka praktisi dengan berbagai pengalaman yang berbeda dengan akademisi yang hanya belajar di pesantren2, ma’had2, dan kajian2.
2. wilayah yang mereka terjuni adalah wilayah ijtihad yang luas.
3. mereka masih -maaf- kurang pengetahuan (ini su’udzon terburuk sebagai apologi).
4. mereka lebih tahu daripada kita namun belum sempat atau belum waktunya menjelaskan pada kita (ini husnudzon-nya orang taklid).
Memang paling aman dakwah di masjid dan di masyarakat itu ya yang tidak ada urusannya dengan masalah politik dan kekuasaan. tetapi saya kira kita semua mafhum bahwa di masa Rosulullah saw, penentang2 beliau itu bukan dari golongan masyarakat kebanyakan namun justeru dari penggede2 kabilah yang khawatir akan hilangnya kekuasaan dan pengaruh mereka. Nah tuh, berkaitan dengan masalah politik lagi khan?! Demikian juga masalah hijrahnya sebagian sahabat ke negeri Habsyi. This Dien is complicated connected with politic through.
Wallahu’alam
January 30th, 2007 at 3:37 am
mengutip perkataan ust. Satria Hadi Lubis dlm sebuah dauroh 2 hari lalu,
———————————————————
“sebuah harakah yang sudah besar akan cenderung berkuasa”
———————————————————
politik adl salah satu cara, wasilah mendakwahkan agama ini.
January 31st, 2007 at 2:20 am
@sarie
Naam, memang benar demikian, sebuah harokah yang besar akan cenderung berkuasa, itu udah jadi sunnatullah. Terkadang yang menjadi masalah adalah, bagaimana :
1. Menjelaskan bahwa politik adalah salah satu cabang dan sarana da’wah kepada masyarakat.Tidak semua da’i yang ngajinya puluhan tahun bisa lancar melafadzkan ini kepada masyarakat. Butuh sebuah cara yang elegan, bukan sekedar menjadi ikhwah atributis.
2. Menjaga bahwa masjid adalah tempat da’wah Islam, bukan da’wah ila Jama’ah. Jama’ah ibarat kendaraan saja, yang seharusnya kita manfaatkan supaya Islam itu tegak. Kita harus paham bahwa harokah Tarbiyah bukan satu-satunya di Indonesia, dan tentu, masih banyak harokah lokal lainnya yang sudah lebih dulu mempunyai tempat di hati masyarakat. Perkara masyarakat memilih kita, tentu karena kebaikan dan akhlaq kita, yang berimbas mereka akan melihat dari organisasi apa kita berasal. Allah SWT, tidak akan menanyakan apa partai kita, apa jama’ah kita, dan apa hizb kita di akhirat kelak. Allah SWT akan menanyakan, apa yang sudah kita perbuat untuk tegaknya dinul Islam, dan melalui apa kita menegakkannya …..
That’s all