Mengapa Menolak Jadi Murobbi ?

Diposting pada January 31, 2007 | Awan: Renungan | oleh : sunu wibirama.

Semoga kisah ini sedikit membuka hati kita, tentang pentingnya belajar dengan mengajarkan sesuatu kepada orang lain ….

—————————————————————————————

Bagaimana Mungkin Aku Tidak Hadir, Aku adalah Seorang Guru !

Kamu tidak akan bisa mengajarkan apapun kepada manusia. Kamu hanya bisa membantu menemukannya di dalam diri mereka sendiri. (Galileo)

Hanoch Mc Carty, adalah seorang penulis yang juga pernah mengajar di sebuah sekolah menengah di New York pada awal tahun 1960. Ia merasa kebingungan dalam mengajar membaca untuk murid-murid kelas delapan dan sembilan (sebutan untuk kelas menengah di Amerika) yang memiliki kemampuan membaca tidak lebih dari kemampuan seorang anak kelas dua atau tiga sekolah dasar. Selain kemampuan membaca yang buruk, murid-murid Hanoch mempunyai sikap dan perilaku yang tidak bisa dibilang sopan. Cacian, sarkasme, hinaan kepada teman satu kelas adalah hal yang lumrah. Hanoch sudah hampir putus asa, saat sekilas ia melihat ada sebuah peluang untuk mengajukan proyek pendidikan di sekolah tempat ia mengajar.

murobbi

Tanpa ragu, ia mencoba mengajukan proposal kepada pihak sekolah, dengan harapan, ia bisa mengubah cara belajar murid-muridnya, sehingga sang murid mengalami peningkatan dalam hal kemampuan baca. Hanoch mengangkat murid-muridnya sebagai “tutor” membaca untuk murid-murid sekolah dasar yang berada tidak jauh dari sekolah menengah tersebut. Ia juga mencoba untuk memberikan sebagian dari uang yang ia miliki, supaya murid-muridnya termotivasi untuk terus membantu “proyek” kecilnya.

“Kamu harus terus mengajar, nak. Adik-adikmu sangat membutuhkan kamu. Kamu tahu, apabila kamu tidak datang, kamu tidak akan menerima uang saku ini, “ jelas Hanoch kepada salah seorang muridnya. Sebelas orang dari muridnya, kecuali satu, sangat bersemangat menyambut ide-ide Hanoch. Mereka serempak bertanya, “ Pak Mc Carty, apakah kami harus mengajar mereka seusai sekolah, ataukah saat jam sekolah ? “
“ Kalian akan menemani adik-adik kalian belajar membaca pada saat jam sekolah kalian. Tidak ada pelajaran. Kita hanya akan pergi ke sekolah dasar, dan membimbing adik-adik kita untuk bisa membaca dengan lebih baik,“ jelas Hanoch Mc Carty.

Murid-murid SD sangat berterima kasih terhadap bantuan kakak-kakak mereka. Masing-masing anak kelas delapan dan sembilan membimbing dua, atau tiga anak yang lebih muda dari mereka. Tujuan Hanoch, tak lain adalah memberikan sebuah legitimasi formal, agar murid-muridnya mau belajar membaca dengan baik, tertib, dan bersemangat, dengan cara mengajar membaca adik-adik mereka yang lebih muda.

Perkembangan menggembirakan diperoleh Hanoch. Dalam ujian akhir semester, murid-muridnya menunjukkan peningkatan kemampuan membaca dua sampai tiga kali mereka. Bukan itu saja, sikap dan perilaku mereka kini juga berubah, frekuensi perkelahian antar mereka juga berkurang, tidak senakal sebelum mereka menjadi “tutor” bagi adik-adik mereka. Padahal perubahan sikap dan penampilan ini sama sekali di luar perkiraan Pak Hanoch Mc Carty.

Suatu pagi, Hanoch melihat Jose, seorang muridnya, masuk ke sekolah dengan muka kuyu dan pucat. “ Apakah yang terjadi, Jose ? Kelihatannya kamu demam ? ‘ tanya Hanoch. “ Oh, saya kira saya cuma tidak enak badan, Pak Mc Carty,” jawab Jose.
“Lalu kenapa kamu masuk sekolah ? Mengapa kamu tidak tinggal di rumah saja ? ” tanya Hanoch lagi. Jawabannya yang diberikan membuat Hanoch terkejut, “Oh, pak, bagaimana saya bisa tidak datang hari ini, saya adalah seorang guru ! Murid-murid saya akan kehilangan saya, bukan ? “ Dia tertawa dan melanjutkan langkahnya ke ruangan kelas.

(Taken from A 4th Course of Chicken Soup for The Soul)

» Diposting pada awan Renungan. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa'
  • » Kajian Ramadhan
  • » Noordin M. Top dan Suratnya
  • » Patutkah Berbangga pada Amanah Politik ?
  • » Fenomena Kebangkrutan Bangsa
  • » Pilpres 2009: Pragmatisme dan Cita Rasa Islam
  • 6 Komentar to “Mengapa Menolak Jadi Murobbi ?”

    1. sarie Berkomentar:

      “Inna al-akh ash-shadiq laa budda an-yakuuna murabbiyan”
      (Sesungguhnya seorang akh yang benar ‘harus’ menjadi murobbi)
      ustadz Dr.Abdullah Qadiri Al-Ahdal

      sepakat g? :p

    2. massunu Berkomentar:

      Setuju mbak sarie ….
      gak cuman al akh loh, al ukh juga … :p

    3. sarie Berkomentar:

      sip sip sip…

      btw, akh dlm ‘al akh’ kan bisa diartikan akhi atau akhawat

    4. anung Berkomentar:

      duh..ada yg menyindir saya rupanya..

    5. gimana tho? « ANUNG.COwok.NoRak Berkomentar:

      [...] gimana tho? 10 Februari 2007 Posted by anung in keluh kesah. trackback saatnya bimbang karena ini.. [...]

    6. syaamil Berkomentar:

      Akh,ada ebook sing mbahas masalah murobbi& halaqoh ndak?ane lagi butuh nih…juga mind map versi indonesian. Jzakallah

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya