Diposting pada March 14, 2007 | Awan: Iseng | oleh : sunu wibirama.
Seorang rekan sejawat, satu “lingkaran” pernah berkata dan mengeluh kepada saya, “Iya nih, sekarang ini kita terlalu banyak kerjaan, tapi kadang kita sama sekali tidak mengerjakan apapun” . Ya, kata-kata ini ternginang terus di benak saya. Kadang saya cocok-cocokkan sendiri dengan kondisi-kondisi yang sering saya alami, ” Aku tuh terlalu banyak pikiran, tapi sebenarnya nggak pernah mikir (untuk menyelesaikan masalah satu per satu)”. Ini yang barangkali sering disebut orang dengan “kualitas harus lebih unggul dibanding kuantitas ” (meskipun jargon ini tidak selalu cocok di setiap kondisi dan situasi).
Kadang-kadang kita terlalu terpaku pada kuantitas dan target-target yang hendak kita capai, tanpa memikirkan capaian kualitas dari item-item tiap target kita. Kondisi ini biasanya terjadi saat kita mendekati waktu deadline project, atau karena saking banyaknya kerja yang menuntut semua terselesaikan, sehingga untuk me-lega-kan hati, kita bekerja sekenanya, asalkan kerjaan kita selesai (nggak mikir hasilnya optimal ataw nggak). Akibatnya adalah, angka-angka capaian yang kita raih ibarat buih di lautan, buanyaknya bukan maen, tapi begitu digempur sama karang, bussshh, langsung hilang dan tersapu ombak. Artinya, kuantitas yang banyak itu belum tentu sebuah optimasi kerja (sekali lagi, ini hanya dalam kondisi-kondisi tertentu saja).
Banyak contoh nyata yang bisa kita lihat dan mungkin kita alami. Kita banyak membeli buku (atau download ebook), tapi kita sama sekali tidak berkeinginan untuk membacanya (gue banget nih). Kita banyak membuat rencana-rencana masa depan, tapi tak satu pun kita jalani. Kita banyak merancang target, tapi kita tidak pernah berpikir semua kemungkinan yang menjadi penghalang tercapainya target-target tadi. Walhasil, yang terjadi bukannya kerja yang optimal, tapi justru penurunan standard kualitas hasil kerja.
Solusinya ? Hmm, saya pun sedang berproses. Tapi satu hal yang sudah saya dapatkan, SABAR ! Sabar bukan berarti berhenti berproses loh ! Sabar adalah lawan dari tergesa-gesa (isti’jal). Sabar dan sabar, tapi tetep proses harus jalan dan direncanakan dengan matang. Sabar dan sabar, bacalah buku-buku Anda, sebelum Anda membeli yang baru. Sabar dan sabar, pastikan Anda mendapat sesuatu yang baru dari hal yang sedang Anda pelajari saat ini, sebelum Anda berpindah ke hal yang lain. Sabar dan sabar, karena masing-masing masalah biasanya punya jalan dan karakteristik pemecahan yang berbeda-beda. Sabar dan sabar, karena sabar adalah senjata seorang mukmin ………
» Diposting pada awan Iseng. Artikel lainnya pada awan ini:
March 14th, 2007 at 5:15 am
Setuju…
Lagipula siapa yang bisa mengetahui esok hari, sampai kita sampai pada hari itu, dan siapa yang bisa memaknai hari itu, dengan sebenar-benarnya makna, melainkan Sang Maha Pemilik.
Salam kenal… , ditunggu terus artikel-artikel “OpenSource” nya.
March 18th, 2007 at 6:19 am
sabar itu…susah
sabar itu…enak (ayamnya mbok sabar )
July 20th, 2007 at 8:45 pm
Perjalananku dihari esok aku tahu pasti karena dia menyertaiku inilah Imanku pada pada Dia.
Dan aku tahu pasti setiap langkahku Dia mengatur inilah Imanku kepadanya.
Amin