Diposting pada May 21, 2007 | Awan: Dakwah Kampung, Renungan | oleh : sunu wibirama.
Salah seorang teman remaja masjid mendatangi saya dan menggerutu, “Mas, saya heran dengan remaja masjid sekarang. Saat mereka dulu belum ‘sealim’ saat ini, mereka justru memiliki waktu dan perhatian lebih untuk masjidnya. Eh, sekarang malah beda jauh. Semenjak dia memakai jilbab yang tertutup rapat, dan kata orang sering disebut sebagai ‘akhwat’, kontribusinya di kegiatan remaja masjid menjadi berkurang. Berbagai macam alasan dikemukakan untuk menyangkal ketidakhadirannya di acara-acara masjid, seperti rapat, pelayanan kesehatan, demonstrasi, dan seterusnya. Anehnya lagi, mereka juga jarang shalat berjama’ah di masjid, malahan kalau adzan maghrib tiba, mereka terburu-buru pulang. Sebetulnya, dia itu diajarin apa sih mas, sama ustadzahnya ? “
Lain waktu, salah seorang pengurus takmir di masjid saya datang dan membeberkan ketidakberesan yang sedang terjadi di kegiatan TPA masjid saya. “ Mas, tolong adik-adik yang menjadi ustadz dan ustadzah TPA diberitahu, ya. Jangan sampai mereka sering tidak hadir dan lebih memprioritaskan kegiatan organisasinya. Padahal mereka sudah menyanggupi untuk mengajar TPA di masjid kita dan sudah berjanji untuk menemani adik-adik belajar mengaji”
Ini adalah sebagian kecil gambaran, betapa masyarakat awam sebenarnya memperhatikan segala tingkah laku dan gerak-gerik pemuda-pemudi pengusung da’wah Islamiyah.
Penilaian selalu muncul dari masyarakat, dan terkadang penilaian itu bukanlah penilaian yang membawa nilai plus untuk kemajuan da’wah Islamiyah. Sunatullah da’wah bukanlah membuka front dengan masyarakat, meskipun di saat-saat tertentu, front perlawanan terhadap kemaksiatan penting untuk ditegakkan. Saat para pelaku da’wah meninggalkan kontribusinya terhadap kegiatan masyarakat, yang terjadi adalah penilaian yang negatif terhadap eksistensi da’wah itu sendiri. Beberapa kasus dan keluhan di atas, muncul dan terucap secara spontan saat adrenalin masyarakat naik karena melihat kelakuan para pelaku da’wah yang menurut mereka tidak terlalu pas, dalam urf (kebiasaan) yang berlaku di masjid dan kampung mereka.
Da’wah masyarakat, menuntut sebagian besar waktu dan perhatian kita untuk lingkungan di sekitar tempat kita tinggal, bukan di lingkungan yang lain. Da’wah di masyarakat, membutuhkan kecerdasan yang luar biasa untuk memahami segala ketidakenakan di hati tetangga, yang pada akhirnya akan menimbulkan kasak-kusuk yang menegasikan kebaikan-kebaikan muatan da’wah. Da’wah masyarakat, dan inilah bagian yang terpenting, menuntut kontribusi riil seorang da’i untuk kemaslahatan kampungnya, masjidnya, dan masyarakat di sekitarnya. Kontribusi yang diminta tidaklah serumit yang dibayangkan. Cukup kita berperan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita, dan peran kita bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat di sekitar kita. Dari sanalah, nilai-nilai rabbaniyyah bisa kita sampaikan dengan ikhsan, dengan cara yang bijak dan tidak menggurui, dengan memberikan contoh melalui ide dan perilaku kita sehari-hari.
Da’wah akan bersemai di hati para penghuni kampung dan jama’ah masjid kita, apabila kita mampu menjadi bagian dari mereka, tanpa harus melakoni segala hal yang tidak dianjurkan oleh Allah dan Rasulullah untuk dilakukan seorang mukmin.
» Diposting pada awan Dakwah Kampung, Renungan. Artikel lainnya pada awan ini:
May 21st, 2007 at 1:13 pm
hm..yaps2..terimakasih atas dakwahnya..
May 22nd, 2007 at 2:44 am
just a bit thought that we got from our society, thank’s dab …
May 23rd, 2007 at 7:43 am
Iyo, Kang. Kadang yo sok podho keminter barang.
May 25th, 2007 at 7:33 am
Hal inilah yang sekarang ane dan istri alami.Disatu sisi kita dikampung dituntut untuk baik secara sosial sementara beban dakwah juga ndak sedikit.Belum lagi bisik-bisik tetangga.Astagfirullah…
Apa ini ya yang dinamakan ladang amal?(kata Aa Gym)
May 28th, 2007 at 4:10 am
hehehe…. bagaimanapun yang namanya bersosialisasi dengan masyarakat, apalagi tetangga adalah sesuatu yang menjadi sunnah Rasulullah dan harus didahulukan. Sementara berbagai amanah di luar itu seharusnya bisa kita atur waktunya. Bahkan saat memasak dan bau masakan kita tercium tetangga kita, Rasulullah memerintahkan untuk membagi makanan kita kepada mereka. Subhanallah dan subhanallah. Insya Allah semua proses ada nilai dan pahalanya di sisi Allah SWT. Wallahu a’lam …
June 1st, 2007 at 7:52 am
yaa mungkin, akhwat yang ‘dirasani’ itu memilih sholat dirumah karena mencari yang lebih utama bagi mereka. sekalipun akhwat nggak boleh dilarang ke masjid (jika sudah memnuhi syarat: menutup aurat dan gak pake wangi-wangian) tapi disebutkan pula bahwa sholat di rumah-rumahnya lebih utama.kalo mereka memahami seperti itu ya…nggak bisa disalahkan…toh shahih juga dalilnya…
ada banyak cara & kesempatan untuk berbuat baik pada tetangga. buanyak malah.apalagi kalo mau berada di wilayah yang lebih aman, misal: di kalangan ibu-ibu, remaja putri, ato anak2(ngajar TPA, ngelesi anak tetangga, ikut pengajian ibu-ibu, arisan ibu-ibu, silaturrahim, jenguk yang lagi sakit,dll)
Setiap muslim adalah buku terbuka yang dapat dibaca oleh setiap orang yang melihatnya.dan masyarakat adalah para pembacanya. smoga bisa jadi buku penuh ilmu dan bermanfaat bukan sebaliknya, kalau sudah bersedia bantu ngajar TPA ya harus ada komitmennya….lha….gitu-gitu…masyarakat juga pada pinter mbaca e…(wah pengalaman sering ‘dirasani’ soale…..hehehe….)
June 4th, 2007 at 4:10 am
matur nuwun. itu hanya sebagian kecil contoh saja. dan permakluman masyarakat kadang harus diimbangi juga dengan sekali2 teman2 yang sudah ‘mapan’ keislamannya untuk nongol di acara kampungnya. sholat berjama’ah di masjid adalah contoh kecil dan sederhana saja, karena dari sanalah nilai2 kebaikan yang sudah ada pada diri kita bisa kita tularkan, sekalian berakrab2 ria dengan mbak-mbak, mbokde-mbokde dan adik-adik. masalah dalil yang lebih shahih yang mana, tentu bisa dikomparasi juga dengan kebutuhan kita untuk memakmurkan masjid (yang dalilnya secara umum berlaku untuk laki2 dan perempuan). Btw, solusinya ya seimbang itu tadi. Pisan2 solat nang omah, pisan2 solat nang mejid….
July 21st, 2007 at 2:12 am
mas, kalo mo ngerti dgn jelas ttg hal yang mas tanyakan, konfirm aja ke orangnya langsung, jgn tanya sama org lain yang gak tau menau permasalahannya. Kedepankan positif thinking (husnudzon) atas segala masalah yg kita gak tau hakikat kebenarannya biar gak kena delik ghibah atau fitnah
July 23rd, 2007 at 6:31 am
ya, ghibah kalo kita sebut namanya pak. Kita menceritakan sesuatu hal yang ada pada saudara kita dengan tidak menyebut “merk”, dengan tujuan supaya menjadi ibroh (pelajaran) buat yang lain