Diposting pada May 31, 2007 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

Tentu kita semua pernah mendengar hadits tentang niat, yang banyak menghiasi awal-awal tulisan dan kitab karya masyaikh salafush sholih. Ya, “Innamal a’malu binniyah, wa innama likullin riin manawa. Faman kaanat hijratuhu ilallahi wa rasulihi fa hijratuhu ilallahi wa rasulihi. Wa man kaanat hijratuhu liddunya yushibuha, au imraatin yankihuha, fa hijratuhu ila maa hajara ilaihi” (shahih, muttafaqun ‘alaih).
Dengan terjemahan bebas sebagai berikut, ” Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya dan tiap-tiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang telah diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia seisinya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia jadikan tujuan atas hijrahnya itu ”
Ikhwan fiddin, sesungguhnya keikhlasan telah menjadi rahasia antara Allah dan makhluqnya, sampai-sampai para malaikat pun tidak mengerti kondisi hati yang sebenarnya dari seorang manusia. Hal ini tentu termasuk para du’at (da’i), yang masih manusia pula. Tidak akan lepas hukum-hukum naluriah dan manusiawi pada seorang da’i, kecuali ia terus berproses meminimalisir potensi keburukan dan meningkatkan potensi kebaikan yang ada dalam dirinya. Proses inilah yang akan menjadi keniscayaan baginya untuk menjadi pemimpin bagi umatnya.
Ikhwan fiddin, kadangkala kita mudah mengatakan, bahwa apa yang selama ini kita perjuangkan dilandasi keikhlasan untuk mendapatkan jannah dan syahadah di sisi Allah SWT. Kadangkala lisan ini ringan untuk menghukumi saudara kita yang kita anggap terlalu materialistis dalam menilai amal-amalnya. Namun, perlu kita ketahui pula, bahwa sangat penting bagi kita untuk terus mencari cara menakar keikhlasan dalam diri kita sendiri. Dengan inilah, kita akan yakin bahwa apa yang kita lakukan bukan karena dunia dan isinya, atau karena wanita yang hendak kita nikahi. Tapi semata-mata diawali dengan meniatkannya untuk memenuhi perintah Allah dan Rasulullah SAW.
Ada beberapa cara, yang saya peroleh dari berbagai ibroh (pelajaran) hidup yang saya jalani sendiri, sampai hari ini :
1. Mengukur keikhlasan dari kuatnya amal saat kita mendapatkan pujian (atau mungkin reward) dan melemahnya amal saat mendapatkan cacian (atau mungkin punishment). Memang, dalam metode manajemen modern, reward dan punishment adalah sesuatu yang biasa diterapkan untuk meningkatkan motivasi kerja. Namun dalam manajemen da’wah ala Rasulullah, reward dan punishment tidak boleh mengalihkan fokus kerja seseorang, dari kerja untuk menaati Allah dan Rasulullah beralih kepada kerja untuk mendapatkan pujian dan menghindari hukuman. Ini penting untuk kita pahami, apalagi bagi mereka yang sudah mengkaji hadits tentang niat. Seringkali kita hanya bekerja untuk menghindari “black list”. Kalo nggak ngamal, ntar dianggap bermasalah. Kalo nggak megang kelompok, termasuk dalam daftar “orang yang kurang produktif”. Kalo nggak hadir kajian dianggap pemberontak. Sesungguhnya, semuanya untuk Allah. Bukan untuk murobbi, ustadz, musrif, apalagi komandan partai.
2. Mengukur keikhlasan, saat da’wah sudah mulai berbuah manis, dan tidak semua orang bisa merasakan buahnya. Perjuangan memang tidak selalu menapaki jalan terjal. Adakalanya, perjuangan Islam juga memberikan sedikit pundi-pundi duniawi kepada para pengusungnya. Harta, jabatan, suara (kursi), citra, wanita (eh, akhwat ding), dan seabreg nikmat yang cukup syur dan menggoda, kadangkala menimbulkan rasa iri yang luar biasa diantara para da’i. Dan ini justru menjadi cobaan yang lebih dahsyat dari sekedar teror atau cacian dari musuh-musuh da’wah. Efeknya pun luar biasa, yang paling mencolok adalah menurunnya produktifitas seseorang. Baik ia yang merasa iri dengan da’i yang lain, maupun ia yang mendapatkan buah da’wah yang terasa manis baginya. Solusi yang paling tepat adalah khusnudzon dan tabayyun. Terlalu klasik barangkali. Tapi inilah yang dilakukan Rasulullah saat peristiwa ifik melanda Aisyah, sehingga seluruh Madinah gempar. Tabayyun saja, kepada kader yang kabarnya menerima dana korupsi dari pejabat di bawah Presiden. Tabayyun saja, kepada penyelenggara kampanye yang sudah mulai nakal dengan mengundang artis-artis ibukota demi suara. Tabayyun saja, kepada kader yang kabarnya intens menjalin asmara dan melegalkannya dengan jalur jama’ah sehingga lepas dari dosa sosial. Tabayyun saja, kepada kader yang nggak pernah megang liqo’at, tapi nggak pernah dihukumi sebagai kader bermasalah. Tabayyun saja, kepada kinerja jama’ah yang kadang tidak terlalu transparan dengan proyek-proyek berduit yang bikin kader gerah. Tabayyun saja, kepada jama’ah yang suka menghukumi kader yang memperburuk citra jama’ah. Tabayyun, tabayyun, tabayyun. Diakhiri dengan khusnudzon, sehingga hati menjadi lega. Serahkan pada Allah, sehingga aset keikhlasan kita tidak terkikis karena masalah yang tidak perlu.
3. Mengukur keikhlasan, saat kondisi sulit sudah mulai menggelayuti hidup. Istilah “BIREN” sangat populer di kalangan penggiat keislaman di Jogja. Ya, “nek wis rabi trus leren”. Kalau sudah nikah, saatnya istirahat (dari jihad). Memang benar, pada saatnya, masing-masing manusia akan diuji keimanannya sampai pada ujian yang paling mendasar, AQIDAH. Ujian yang dicobakan Allah SWT biasanya tidak jauh-jauh dari kesulitan ekonomi, atau apapun yang akan berujung pada hal tersebut. Di sinilah Allah akan menyiapkan catatannya dan mengamati umatnya, manakah diantara mereka yang bisa istiqomah dan manakah yang menjilat ludah sendiri. Inilah tahap terberat (barangkali) yang dihadapi seorang penggiat keislaman. Saat istri sudah mulai rewel karena uang belanja yang kurang, saat anak sudah mulai besar dan butuh biaya lebih untuk sekolah, jajan, makan. Saat usaha dan bisnis keteteran. Saat mertua menuntut kita untuk memberikan tempat tinggal yang layak bagi istri. Saat ….. saat……saat……. . Inilah yang seharusnya sudah kita persiapkan sejak sebelum semuanya terjadi. Dan ini menjadi siklus tak tertulis yang biasanya akan menempel pada fase kehidupan manusia. Maka, pikirkanlah sejak dini sebelum semuanya menggerus keikhlasan dan idealisme kita. Ya, setidaknya saya belum merasakannya sendiri. Namun, aromanya sudah jauh-jauh hari tercium dan sungguh sangat tidak enak untuk dirasakan.
Setidaknya tiga hal mendasar inilah yang bisa kita gunakan sebagai acuan awal pada diri kita untuk terus melengkapi ibadah harian kita dengan amal-amal kita, termasuk bekerja mencari penghidupan, berkhidmad untuk masyarakat, nguri-uri masjid, menyebarluaskan kebaikan dan masih banyak lagi. Tak banyak yang tahu seberapa ikhlas hati kita terhadap pekerjaan yang kita lakukan, bahkan diri kita sendiri sekalipun. Namun setidaknya, kita mengetahui rintangan dan batu sandungan yang bisa menjadi monster yang akan mengubah fokus kerja kita. Dan dengan mengetahuinya, kita bisa menghindari dan mencegahnya sedini mungkin.
Wallahu a’lam
» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:
June 2nd, 2007 at 4:41 pm
terimakasih atas dakwahnya mas sunu. semoga kita bisa menempatkan keikhlasan itu dalam posisi yang sebenarnya..
June 2nd, 2007 at 4:41 pm
terimakasih atas dakwahnya mas sunu. semoga kita bisa menempatkan keikhlasan itu dalam posisi yang sebenarnya..amiin
June 4th, 2007 at 3:46 am
moga2 nasihat ini juga senantiasa bisa mengingatkan kita, matur nuwun atas apresiasinya …..
June 6th, 2007 at 8:06 am
numpang lewat kang
February 16th, 2008 at 1:55 pm
Memberi pencerahan dan mengingatkan kita untuk bisa ikhlas dalam segala kondisi, semoga Allah selalu membimbing, menuntun dan meridhoi kita semua. Amin.
Mohon izin pinjem ‘sujud’ untuk ilustrasi dan mohon izin pula untuk nge-link blog ini.
Matur nuwun.
February 16th, 2008 at 2:03 pm
[...] Sunu Wibirama doc [...]