Diposting pada July 2, 2007 | Awan: Care and Share, Dakwah Kampung | oleh : sunu wibirama.
2 Juli 2007 – Sunu Wibirama
“Kalau masjid ingin bermanfaat bagi masyarakat, jadilah masjid yang melayani dan dimiliki ummat”, demikian ungkap ustadz H.M. Jazir ASP, salah seorang penggiat da’wah kemasjidan yang juga menjabat sebagai ketua takmir Masjid Jogokariyan, di bilangan Jogja Selatan.

Belajar dari sebuah perusahaan Cina yang bergerak di bidang telekomunikasi dan teknologi informasi, Hua Wei (baca : Wa Wei). Awalnya, perusahaan ini bukanlah sebuah perusahaan yang diperhitungkan di percaturan bisnis telekomunikasi dan teknologi informasi di dunia. Bahkan untuk menyebut namanya saja, orang masih merasa kesulitan dan merasa asing. Namun para pemimpin di perusahaan ini mempunyai keinginan dan cita-cita tinggi. Mereka ingin mengalahkan beberapa perusahaan ternama yang saat ini sudah memimpin pasar dunia, Motorola, Siemens dan Nokia. Bersaing dari sisi permodalan bukan hal yang baik. Dari segi sumber daya manusia, Hua Wei juga belum mampu menandingi tiga perusahaan di atas. Namun, ada satu hal pokok yang akhirnya menjadi kunci kesuksesan Hua Wei. Para pemimpin perusahaan tersebut melakukan sebuah manuver bisnis yang luar biasa. Mereka menjual hampir 80 % sahamnya kepada para karyawan yang bekerja di Hua Wei. Dengan kata lain, karyawan juga berperan sebagai pemilik perusahaan itu sendiri.
Manuver ini bukannya tanpa hasil. Hua Wei berhasil meningkatkan motivasi kerja karyawannya. Semakin baik kinerja karyawan, perusahaan semakin diuntungkan. Akibatnya, karyawan juga akan mendapatkan tambahan penghasilan yang cukup lumayan. Prinsip ini tak jauh berbeda dengan prinsip gotong-royong, sisa hasil usaha (SHU) yang diterapkan Koperasi kita. Bedanya, skala penerapannya jauh lebih masif dan lebih besar dari Koperasi. Pada awal 2006, Hua Wei menempati posisi ke-5 di dunia, sebagai perusahaan telekomunikasi dan teknologi informasi yang layak untuk diperhitungkan lawan bisnisnya.
Masjid pun demikian, terutama masjid yang berbasis kampung atau lingkungan. Sebuah masjid akan sangat bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya apabila masyarakat merasa memiliki keberadaan masjid tersebut. Tidak sedikit di Indonesia masjid yang dibangun mewah, namun tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di sekitarnya. Dengan mengajak masyarakat untuk merasa memiliki masjid, fungsi masjid kembali kepada asalnya, yakni pusat ibadah sekaligus pusat peradaban umat Islam sebab dari masjidlah seharusnya semua bermula.
Muncul berbagai pertanyaan tentang idiom yang biasa dikumandangkan remaja masjid di Jogja. “Back To Masjid”, mengapa dan bagaimana melakukannya ?
1. Mengapa kita perlu mengembalikan fungsi masjid ?
Masjid yang bermanfaat akan senantiasa diterima oleh lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Menjadi sebuah kelaziman bagi kita yang sudah memahami pentingnya menghidupkan dan memakmurkan masjid untuk mengajak kembali masyarakat kita ke masjid. Padahal, lingkungan kita saat ini bukanlah lingkungan seideal Makkah dan Madinah di zaman Rasulullah. Perjudian, totor, miras, narkoba dan seks bebas adalah menu sehari-hari masyarakat perkotaan, yang kini juga sudah merambah pedesaan. Apakah kita merasa risih dan malu dengan kondisi demikian ? Kalau jawabannya iya, apakah kita sampai dengan hari ini masih juga mencela keburukan-keburukan mereka tanpa pernah merasa bersalah dan bertanggung jawab sedikitpun ? Kalau pertanyaan kedua ini Anda jawab iya, berarti langkah awal untuk mengajak mereka ke masjid sudah menempuh jalan yang keliru. Mencela masyarakat di sekitar kita, di kampung kita, pada hakikatnya adalah mencela diri kita sendiri.
Ketika kita hidup di sebuah dusun, desa, kampung, RT atau RW, pada hakikatnya kita adalah bagian dari mereka. Saat kita mencela mereka dan mengatakan kampung kita seburuk-buruk kampung, mau tidak mau Anda juga menjadi bagian dari mereka.
Maka katakanlah, “Kami akan selalu berusaha untuk memperbaiki kampung dan lingkungan kami”, dan itu jauh lebih bijaksana dari sekedar mencela. Dan inilah alasan utama mengapa kita perlu mengembalikan mereka kepada masjid. Sebab semangat keislaman di sebuah kampung atau fragmen masyarakat tertentu bisa kita ukur dari semangat keislaman masjid di kampung tersebut.
2. Siapakah yang berhak dan wajib melakukannya ?
Tentu tidak mungkin, kita mengharapkan Ali bin Abi Thalib atau Muhammad Al Fatih untuk bangkit kembali (Syerem kali …..). Saat ini, yang tersisa dan yang ada di akhir zaman ini adalah kita. Ya, kita semua, yang barangkali belum lancar membaca Al Qur’an, yang barangkali masih enggan untuk bangun pagi dan sholat subuh di masjid, yang barangkali masih enjoy dan nyaman dengan pacaran dan pergaulan layaknya anak muda zaman sekarang. Kita tidak bisa mengharapkan orang tua kita, kakek dan nenek kita untuk kembali meramaikan masjid, sebagaimana mereka melakukannya di masa muda mereka. Saat ini, kitalah pewaris mereka. Kitalah pewaris orang-orang terdahulu, bahkan sebenarnya kitalah pewaris da’wah para nabi. Kitalah yang paling berhak untuk menyeru dan mengajak keluarga kita, tetangga kita, pak RT, pak RW, tukang becak, semua preman dan pedagang warung angkring yang ada di sekitar untuk kembali memakmurkan masjid kita yang kosong ditinggalkan umatnya. Sesungguhnya, ada perhatian dari Allah untuk sebagian umatnya yang mau berjuang meninggikan kalimah-Nya. Dan semoga, dari amal-amal kecil inilah, kelak Allah SWT akan membukakan pintu surga bagi kita.
“Dan hendaklah ada diantaramu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Q.S. Ali Imron : 104)
“Hai orang-orang mukmin, jikalau engkau menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. “ (Q.S. Muhammad : 7)
3. Dimanakah kita saat masyarakat membutuhkan kita ?
Saat horn masjid meraung-raung memanggil penduduk kampung, saat pak RT membagikan undangan kerja bakti kepada semua warganya, dimanakah kita ?
Saat tetangga mengadakan pesta aqiqoh, saat tetangga ditimpa musibah, saat ada acara takziyah di kampung kita, dimanakah kita ?
Saat warga sibuk ronda dan mengambil “jimpitan” beras, saat warga sedang sibuk mempersiapkan kampung menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus), apakah kita nyaman dalam lelapnya tidur ?
Dari interaksi dan komunikasilah, ukhuwah bermula. Prinsip ukhuwah tidak akan pernah bisa lepas dari istilah ‘berbincang’, ‘mengobrol’, atau sekedar ‘saling membantu’ dan ‘saling memberi hadiah’. Demikian pula kita, selayaknya sadar dan mau berinteraksi dengan masyarakat kita, seburuk apapun dan sebesar apapun dosa-dosa yang pernah mereka perbuat. Interaksi sangat berbeda dengan ‘menjadikan mereka kawan dan loyal kepada mereka’ . Interaksi adalah bentuk di mana kita bisa memulai saling memperbincangkan hal-hal yang kita sukai, apa yang sedang kita kerjakan akhir-akhir ini, atau sekedar menanyakan kabar saudara dan keluarga lawan bicara kita. Olahraga, hobi, seni, pendidikan, musik, bahkan sampai isu-isu terkini yang sedang ‘in’ di media cetak dan elektronik adalah bahan paling lazim dan paling sering digunakan untuk membuka pembicaraan. Hal ini bisa kita lakukan dengan nyaman, apabila kita mulai terbiasa untuk mengapresiasi dan menghadiri acara-acara kemasyarakatan di kampung kita.
Dan da’wah bisa kita lakukan dengan mengakhiri perbincangan dan menyelipkan sebuah ajakan bersahabat, “Kapan-kapan datang tadarusan remaja, ya mas. Ditunggu sama anak-anak lho. Asyik koq, santai aja ! “
4. Lalu, kita mulai saja permainannya !
Yap, kita mulai saja permainan ini. Da’wah kampung tidak selalu harus menjadi beban berat yang sampai terbawa mimpi. Bahkan, langkah-langkahnya begitu menyenangkan. Simak saja, bagaimana kisah seorang teman remaja masjid yang hobi ‘balapan’ motor, kini menjadi seorang penjemput ustadz yang paling cepat, paling handal dan paling hafal jalan-jalan singkat yang bisa mempercepat waktu.
Atau kisah seorang remaja putri, yang hobi wisata kuliner (baca : makan-makan di tempat yang enak, bergizi dan murah) yang jadi rujukan seksi konsumsi di masjid, karena atas saran dialah konsumsi pengajian dan tadarusan semakin enak dan tidak banyak menguras kas organisasi.
Atau, kisah seorang remaja masjid yang hobi banget naik gunung dan segala hal yang berbau gunung, piknik dan having fun. Ia kini adalah ketua tim survey remaja masjid yang keberadaannya sangat dibutuhkan untuk program rihlah (piknik) dan bakti sosial remaja masjid.
Atau, kisah seorang remaja masjid yang nakalnya minta ampun, karena saat adzan maghrib tiba, ia masih saja main bola atau main voli di lapangan belakang masjid. Tak malu ia menunjukkan keahliannya bermain bola di depan seorang ustadz di kampungnya, saat sang ustadz dan penduduk sekitar berjalan kencang mengejar takbir pertama shalat maghrib. Kini ia menjadi penggerak teman-teman remaja masjid yang lain, untuk rutin berolah raga di hari Ahad.
Dan kisah seorang mantan pemain band yang sempat frustasi karena tahu bahwa musik jahiliyah yang ia mainkan lebih banyak membawa kemudharatan daripada kemanfaatan. Ia membidani lahirnya nasyid dan kesenian hadroh di masjidnya, karena dari sanalah, kata dia, ia bisa menyalurkan hasratnya bermusik tanpa membawa kemudharatan bagi orang lain.
Ya, langkahnya begitu menyenangkan dan tidak harus melewati berjam-jam rapat yang membosankan. Kita tidak harus membeda-bedakan teman-teman kita berdasarkan tingkat kesholihannya, intensitasnya pergi ke masjid, atau bagaimana ia membaca Al Qur’an. Ada pola pikir lain yang harus kita kembangkan, saat sumber daya kita tidak sesholih apa yang kita harapkan. Bagaimanapun, da’wah harus tetap jalan, sesedikit apapun pengusungnya. Maka, tempatkanlah saudara-saudara kita sesuai dengan apa yang bisa ia berikan kepada da’wah tanpa harus membuat mereka terbebani dengan amanah-amanah yang belum saatnya mereka terima. Soekarno, Presiden Republik Indonesia yang pertama, menyebutnya dengan Zaken Kabinet. Kabinet yang diisi dengan orang-orang yang paling ahli di bidangnya.
Ya, remaja masjid adalah sebuah tim dengan kemajemukan tingkat kesholihan personilnya, yang diisi dengan mereka yang mempunyai kemauan, mempunyai sesuatu yang bisa disumbangkan untuk komunitasnya, dan berusaha untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik….
5. Saya siap dan bangga menjadi aktivis masjid !
Baiklah, inilah penghujung dari apa yang bisa dan sudah kita lakukan. Hal – hal yang ringan sekalipun, akan menjadi sangat berbobot dan ‘berat’ apabila ia menuntut sebuah konsistensi dan komitmen untuk terus melaksanakannya. Istiqomah bukanlah suatu hal yang ringan untuk dilaksanakan. Apalagi, lingkungan kita terkadang tidak mendukung aset-aset kesholihan yang sudah kita bangun selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Maka, tak ada jalan lain selain meminta kepada Allah SWT untuk terus memberikan keikhlasan hati saat kita beramal, serta memohon kepada-Nya supaya kita tetap beristiqomah atas pilihan dan konsekuensi yang kita ambil. Yakinlah, Allah SWT lebih mementingkan proses dan perjuangan kita dibandingkan dengan hasil akhir dari usaha kita.
Menghadapi masyarakat dengan beragam tingkat pendidikan, beragam pola pikir, dan beragam budaya membutuhkan kearifan dan kesabaran yang luar biasa. Prinsip stek (dalam bidang botani atau biologi) barangkali bisa kita terapkan. Stek batang, membutuhkan dua batang yang satu sama lain harus dikelupas sedemikian rupa, sehingga kedua batang tersebut bisa bersatu dan menghasilkan buah yang lebih baik. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, ada beberapa bagian dari masing-masing batang yang harus dikelupas, dihilangkan, supaya batang yang satu bisa ‘nyambung’ dengan batang yang lain.
Demikian pula dengan da’wah di masyarakat. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, seorang penggiat masjid dituntut untuk lebih banyak bersabar, mau menerima kritik dan berkorban dengan apa yang ia miliki (kalaupun bukan uang, minimal korban perasaan). Tanpa pengorbanan, mustahil sebuah lingkungan kemasjidan bisa bersatu dengan lingkungan kampung di sekelilingnya. Dan untuk hal inilah, sekali lagi niat dan cara kita beramal menjadi penentu. Niat yang lurus dan cara yang sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah adalah bekal utama, supaya pengorbanan kita tidak sia-sia dimakan gerutu dan gunjing karena kurangnya keikhlasan.
Siapkah kita menjadi bagian dari penggiat da’wah masjid ? Banggalah, karena sesungguhnya kitalah pewaris risalah para nabi ! Ya, saya dan Anda, yang terus berusaha untuk memperbaiki diri sendiri, memperbaiki keluarga, dan masyarakat di mana kita tinggal.
» Diposting pada awan Care and Share, Dakwah Kampung. Artikel lainnya pada awan ini:
August 23rd, 2007 at 5:18 pm
Assalamu ‘alaikum, Akhina Sunu!!!
Weleh….weleh!!! Kok antum cantumin Pernyataannya Pak Jazir sebagai prolog Materi ini. He…..he…he!!!!
August 27th, 2007 at 3:52 am
iku tak copy paste dari materine om lukman hakim koq ….. , trus tak hias2 titik tak tambahi gambar masjid ….