“Wis le…, channel-e dipindah wae. Ibu wegah, lagi maem saur koq nang TV enek artis nirokake asu nguyuh, lha sik diuyuhi we podo-podo uwong ! ”
(Sudahlah nak, channelnya dipindah saja. Ibu malas, sedang makan sahur koq di TV ada artis yang menirukan anjing buang air, lha yang jadi sasaran buang air sama-sama manusia lagi).
Itulah ucapan spontan, simbok (bahasa Jawa, artinya Ibu) saya saat melihat sebuah tayangan pengantar saur yang jauuuhhh beda dengan tayangan tahun sebelumnya, di channel televisi yang sama. Saya, selaku anak, cuman mengangguk saja dan memindah-mindah channel mencari acara yang Islami. Yaa, namanya juga Ramadhan, masak nggak ada peningkatan sama sekali sih ? Tiap hari udah disuguhin “dagelan kasar” terus, penginnya sich ada acara yang agak Islami gitu, tapi jangan serius-serius banget. Mandeg di salah satu stasiun TV, ehh ada sinetron Islami yang diselingi dengan sinekuiz yang cukup lumayan padat dan berisi. Meskipun hadiahnya nggak se-bombastis tayangan lain, cerita yang ditampilkan lumayan mendidik daripada tayangan lainnya.
Ternyata kekhawatiran yang saya rasakan juga dirasakan oleh berbagai pihak. Artinya, saya masih manusia normal, gitu (hehehe). Beberapa hari setelah kejadian tadi, seluruh surat kabar memuat berita yang hampir serupa, pernyataan dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) bahwa hampir separuh dari tayangan Ramadhan masih belum edukatif. Parahnya lagi, mereka siap mempidanakan beberapa tayangan ini dan tentu ini jadi pukulan yang cukup telak untuk para pelaku industri hiburan (Republika, Rabu 26 September 2007).
Read the rest of this entry »













Recent Comments