Syriana : Konspirasi Intelijen, Penguasaan Minyak dan Al Qaida

Diposting pada September 20, 2007 | Awan: Iseng, Umum | oleh : sunu wibirama.

syriana

Pemain : Kayvan Novak, George Clooney, Amr Waked, Christopher Plummer, Matt Damon
Produksi : Warner Bross
Rating : Remaja, Dewasa

Film Syriana diawali dengan sebuah gambaran bahwa begitu banyak perusahaan minyak asing di Timur Tengah. Di awal film, dijelaskan bahwa ada dua buah perusahaan minyak yang bergabung menjadi satu, menggabungkan seluruh wilayah pengeboran minyaknya sekaligus seluruh manajemennya. Manajemen merger tersebut memutuskan karyawan lama di PHK dan akan digantikan dengan karyawan baru. Arash (Kayvan Novak) adalah seorang karyawan pengeboran perusahaan tersebut. Ia dan bapaknya di PHK oleh perusahaan minyak tempatnya bekerja. Konflik muncul saat Arash ingin mempelajari ilmu agama sebab ia merasa keluarganya bukanlah sebuah keluarga yang religius. Ia kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk menuntut ilmu agama di sebuah madrasah sekaligus mencari penghidupan baru.

Di sisi lain, film juga menggambarkan seorang agen FBI yang profesional, Bob Barnes (George Clooney) yang sedang berurusan dengan Mohammed Sheik Agiza (Amr Waked), seorang tokoh gerakan yang berafiliasi pada Al Qaida. Agiza memesan penghancur tank, misil, peluru, AK 47, dan puluhan senjata melalui Barnes. Barnes yang berwajah ke-arab-arab-an dan fasih berbahasa arab dipercaya oleh Agiza untuk memberinya perlengkapan militer melalui pasar gelap. Saat transaksi berlangsung, Barnes melarikan diri dan meledakan bom yang sudah dipasang dikoper senjata milik Agiza. Anak buah Agiza tewas, namun ia sendiri lolos dari maut.

Barnes kemudian dipanggil kembali ke Amerika untuk sebuah tugas yang cukup berat. Ia ditugaskan untuk menyelidiki keterlibatan Al Qaida (termasuk Agiza) pada sengketa minyak di daerah perbatasan Irak dan Iran, yang melibatkan dua buah perusahaan besar Amerika yang sudah dimerger. Barnes diminta untuk melobi kesultanan setempat, supaya mau bekerja sama dengan pihak barat dan memberikan ladang minyaknya untuk dikerjakan oleh perusahaan asing tersebut. Salah satu yang menjadi kendala adalah, terjadinya perebutan kekuasaan antara kakak beradik anak dari sultan (emir) yang menguasai wilayah tersebut. Sang adik sangat berpihak dan memiliki pola pikir barat, sedangkan sang kakak meski lulusan Harvard University, sangat teguh dengan agamanya dan ia memiliki hubungan yang sangat erat dengan kelompok milisi pimpinan Agiza.

Tugas Barnes bertambah berat saat ia mengetahui bahwa anak tertua emir akan dilenyapkan oleh agen yang disusupkan perusahaan minyak tersebut. Agen ini bekerja sama dengan FBI dan menggunakan satelit canggih untuk meluncurkan rudal ke mobil yang ditumpangi oleh anak tertua emir, dengan harapan kerajaan akan jatuh ke tangan sang adik dan bisnis perminyakan Amerika akan sukses karena tidak ada lagi halangan dari anak tertua emir.

Al Qaida dan Bom Bunuh Diri

Arash, yang belajar agama di sebuah madrasah, bertemu dengan Mohammed Sheik Agiza. Keduanya sangat akrab dan kerap kali bermain bersama. Agiza mengajak Arash untuk datang ke sebuah taklim dan mendengarkan ceramah seorang ustadz yang mengajarkan tentang permasalahan ummat dan metode perjuangan dengan kekerasan. Arash berpikir keras dan merasa bahwa dirinya saat ini tidak berjasa sama sekali bagi agama dan negaranya. Di tengah kebimbangannya, Agiza datang dan menawarinya untuk bergabung dengan sebuah kelompok milisi, yang ia sebut sebagai “kelompok yang akan melawan kedzoliman”. Tanpa ragu, Arash menuruti segala perintah Agiza dan tidak berpikir panjang.

Saat tiba waktunya, Agiza menyuruh Arash dan salah seorang temannya untuk melakukan peledakan kapal tanker perusahaan minyak asing (hasil merger dari dua perusahaan AS) yang tengah melakukan peresmian lokasi pengeboran baru. Film ini menggambarkan konflik batin yang cukup kuat saat Arash harus berpamitan kepada orang tuanya dan mengatakan bahwa dirinya akan pergi dalam waktu yang cukup lama. Orang tuanya yang sama sekali awam dalam agama hanya bengong saat Arash meminta restu dan memeluk ayahnya. Film diakhiri dengan suksesnya pembunuhan anak tertua emir dengan rudal dan meledaknya kapal tanker karena aksi bunuh diri Arash.

Fakta yang di-”fiksi”-kan

Syriana bukanlah sebuah film superhero Amerika yang meraih box office, sebagaimana film-film khas Hollywood lainnya. Sang sutradara ingin menggambarkan secara implisit, bahwa inilah kondisi riil yang saat ini sedang terjadi di Timur Tengah. Konflik yang berkepanjangan dan kasus-kasus terorisme tidak semata-mata urusan pertentangan ideologi murni, tapi ada juga kepentingan bisnis yang menjadi alasan kuat. Konflik antara milisi pimpinan Agiza dan perusahaan asing tidaklah murni sebagai “jihad” karena ada alasan-alasan bisnis yang melandasinya. Kebencian akan sejarah masa lalu dan perasaan terdzolimi membuat Arash merasa yakin bahwa dengan meledakkan kapal tanker bekas perusahaan tempat ia bekerja, ia akan memperoleh surga, sebagaimana yang ia idam-idamkan selama ini.

Sang sutradara, meski secara implisit, juga mempermalukan Amerika Serikat karena menuduh FBI terlibat dalam konspirasi penguasaan minyak di Timur Tengah. Film dengan wacana seperti ini biasanya tidak akan diapresiasi oleh pemerintah AS dan mendapatkan banyak halangan untuk beredar di publik AS karena membawa visi yang tidak berpihak pada kebijakan pemerintah AS.

Perang Pemikiran

Di sisi lain, film ini cukup berhasil untuk memberikan sebuah gambaran, bahwa terorisme dilakukan oleh orang-orang yang bersurban, berjenggot, mempelajari agama di sebuah madrasah kumuh, dan tidak berpikir panjang saat melakukan aksi anarkisme. Gambaran ini dikuatkan dengan beberapa adegan “islami”, seperti saat Agiza dan Arash melakukan sholat berjama’ah bersama atau saat Arash mengikuti majelis taklim di madrasahnya. Film ini tidak menjelaskan bahwa tidak semua orang Islam berpikir pragmatis seperti Agiza atau Arash, yang menyelesaikan masalah hanya dengan sebatang misil yang ditabrakkan di kapal tanker. Alhasil, film ini memberikan gambaran yang cukup meyakinkan bahwa perlu sebuah “perlakuan khusus” jika menghadapi seorang muslim dengan penampilan bersurban, berjubah dan berjenggot.

Film ini seolah-olah ingin mengatakan kepada pemerintah AS, “Aku tidak memihak Al Qaida, tapi aku juga tidak setuju dengan cara kalian memberantas teroris untuk kepentingan bisnis minyak kalian” . Dan kebimbangan inilah yang membuat film ini tidak terlalu diminati di AS, tapi juga tidak mendapatkan respek di dunia Islam. Kebingungan “misi” ini dikuatkan dengan alur cerita yang membingungkan, serta tidak adanya tokoh sentral yang membawa maksud dari “misi” film. Semua tokoh berperan setara, tidak ada penguatan pada salah satu tokoh, sehingga film terkesan menceritakan beberapa skenario yang tidak ada hubungannya, yang digabungkan menjadi satu dan disimpulkan di bagian akhir film. Alur yang membingungkan ini akan membuat penonton menjadi bosan dan tidak memahami pesan yang ingin disampaikan sutradara.

Sisi Positif

Meskipun memiliki beberapa kelemahan, film ini juga memiliki beberapa sisi positif. Beberapa diantaranya adalah, keberanian sutradara untuk mengatakan bahwa pemerintah AS dan FBI sebenarnya paham benar dengan agenda invansi negara-negara Islam saat ini. Permasalahan ideologi adalah salah satu alasan saja. Permasalahan lain yang menjadi motor dari besarnya budget FBI untuk membunuh satu persatu pimpinan “milisi jihad” adalah alasan bisnis dan pemikiran kapitalis pemerintah AS yang ditunggangi oleh orang -orang Yahudi.

Selain itu, adegan antara Arash dan Agiza yang bermain bola juga cukup menarik. Agiza menjelaskan beberapa dalil Qur’an sambil menggiring Arash ke masjid, tentu dengan sedikit kelihaian menggocek bola. Saat tiba di masjid, Agiza mengajak Arash untuk melakukan sholat berjama’ah bersama. Adegan ini memberikan sebuah gambaran kelihaian Agiza untuk berda’wah kepada Arash, sekaligus mengajak Arash dan kelompoknya untuk mengenal Islam.

Adegan lain yang cukup menarik adalah, saat sang anak tertua emir berbincang-bincang dengan penasihat ekonominya, Dean Whiting (Christopher Plummer), yang sangat loyal dengannya meski ia seorang warga negara AS. Anak tertua emir mengatakan, ia adalah lulusan barat yang tidak kehilangan identitasnya sebagai bangsa Arab. Meskipun ia mendapatkan gelar doktor dari orang asing, ia tetap bangga dengan leluhurnya dan memiliki keinginan untuk memajukan bangsanya. Keinginan ini ia wujudkan dengan pilihannya untuk bekerja sama dengan sesama bangsa Arab dan menolak perusahaan asing yang ingin mendapatkan ladang minyaknya. Keinginan inilah, sekaligus relasinya dengan kelompok Agiza, yang membuat FBI sangat gencar melakukan usaha-usaha pembunuhan terhadapnya.

Kesimpulan

Syriana lebih cenderung kepada film dengan nada politis yang menyajikan alur cerita berat dan tema politik konspirasi. Film ini tidak cocok dikonsumsi oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang sama sekali tentang konflik yang selama ini terjadi di Timur Tengah, antara warga pribumi dan pemerintah AS, yang diwakili oleh perusahaan-perusahaan minyak mereka. Namun demikian, bagi mereka yang tertarik dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timur Tengah dan bagi yang sangat hobi menonton film-film dengan tema utama politik dan rekayasa intelijen, fim ini sangat cocok dan layak konsumsi. Syriana, setidaknya memberikan gambaran dan membuka mata sebagian kelompok bangsa Arab yang cenderung pragmatis dalam menyelesaikan masalah tanpa berpikir panjang, yang diwakili oleh kelompok milisi Agiza. Film ini juga menampar pemerintah AS yang dengan sangat ringan melibatkan FBI supaya kepentingan industri mereka tetap hidup dan berjalan dengan suplai minyak yang melimpah dari Timur Tengah. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tidak salah jika Anda menyempatkan diri untuk sejenak menyimak Syriana, sebagai salah satu film dengan tema yang tidak terlalu sering dipilih oleh film-film lainnya.

Sunu Wibirama
(Penikmat Film)

» Diposting pada awan Iseng, Umum. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Read PhD Comics Offline (1997-2007)
  • » Pajak Sontoloyo
  • » WINNER : Nampak Beda Nyata Sama 01
  • » Nampak Beda Nyata Sama E01
  • » Rekaman KPK : Kasus Korupsi Departemen Kehutanan
  • » Sombongnya Birokrasi Indonesia
  • » Wai Khru : Cara Thailand Menghargai Guru
  • » DIBAYAR UNTUK MEMBOLOS
  • Satu komentar to “Syriana : Konspirasi Intelijen, Penguasaan Minyak dan Al Qaida”

    1. chan Berkomentar:

      maksudnya CIA ya mas. klo FBI sih cuma ngurusin
      urusan dalam negeri.

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya