Andaikan Kita Sedikit Lebih Jujur

Diposting pada October 2, 2007 | Awan: Umum | oleh : sunu wibirama.

Beberapa waktu yang lalu, media massa, anggota DPR sampai artis-artis kita berteriak berang saat negara tetangga, Malaysia, meng-klaim lagu “Rasa Sayange” menjadi lagu nasional mereka. Belum hilang luka atas penganiayaan wasit karate dan tenaga kerja wanita asal Indonesia di negara tetangga ini, ras Melayu di belahan utara pulau Kalimantan dan semenanjung Malaya ini kembali berulah dengan menikam saudara serumpun mereka, Indonesia.

Malaysia. Negara ini dulu adalah murid setia Indonesia. Tahun 70-an, ekspor SDM Indonesia adalah ekspor yang membanggakan. Ya, Indonesia pernah mengekspor ratusan tenaga pengajar, guru dan dosen, ke negri jiran ini untuk memandaikan anak cucu mereka yang kelak menginjak-injak warga negara kita. Tahun 2000-an ini, kita masih tetap mengekspor SDM, tapi tak lebih sebagai pembantu rumah tangga dan buruh tenaga kerja kasar yang oleh Bapak Presiden Indonesia disebut sebagai pahlawan devisa, meskipun jasa mereka sebenarnya tak berbalas oleh pemerintah Indonesia. Kini cowok-cowok Indonesia lebih mengidolakan Siti Nurhaliza, cucu pribumi Melayu yang dahulu pernah dibimbing oleh guru-guru Indonesia.

Dahulu kala, Indonesia pernah meneriakkan ganyang Malaysia dan Singapura dengan lantang. Teriakan ini bersambut dengan perseteruan seru antara Indonesia, tepatnya Presiden Soekarno, dengan Malaysia dan Singapura. Perseteruan ini mengokohkan eksistensi dan penegasan bahwa kedaulatan Indonesia sebagai bangsa tidak bisa diganggu gugat. Ya, meskipun agak “curang”, karena kesatuan negara terbentuk oleh sikap permusuhan terhadap negara lain. Lain halnya dengan hari ini. Bahkan hanya selembar kertas perjanjian DCA antara Indonesia dan Singapura saja harus diselesaikan berlarut-larut dengan diskusi kosong yang penuh dengan kedangkalan berpikir dibalik jubah nasionalisme.

Indonesia sebenarnya tidak kalah dalam berbagai hal, bahkan secara riil memberi peran yang cukup besar atas kemajuan negara Malaysia. Hitunglah tenaga ahli kita yang saat ini sedang bekerja di bawah kendali Petronas Corporation di Malaysia. Hitunglah tenaga ahli kita yang saat ini bekerja di beberapa pabrik industri elektronik di Malaysia. Hitunglah insinyur Indonesia yang turut mengembangkan Proton, sebuah merk kendaraan yang menjadi kebanggaan negara Malaysia. Semua ini bukan tanpa dasar. Bahkan, data dari surat kabar terkemuka menyebutkan ada sekitar 12.000 orang Indonesia yang tersebar di sejumlah negara bagian Malaysia. Ini tentu bukan jumlah yang sedikit apabila dibandingkan dengan luas dan jumlah penduduk keseluruhan negara ini.


Namun, negara ini harus menanggung beban berat dosa kolektif dari manajer-manajernya. Lihatlah, di saat beberapa orang dengan peluh keringat bekerja untuk kemajuan negeri ini, beberapa orang pemimpin kita justru menggadaikan pasir pantai Sumatera untuk menimbun pesisir Singapura. Lihatlah, di saat seorang ahli telematika Indonesia mengajukan proposal solusi teknologi rakyat, beberapa orang manajer BUMN justru menjual saham perusahaan nasional kepada pihak swasta asing dengan alasan Go Public. Lihatlah, di saat wasit Indonesia kita dianiaya tanpa ampun, Wakil Presiden kita justru pelesiran ke negara ini untuk sesuatu yang sebenarnya tidak memberi dampak apapun terhadap advokasi hukum para pahlawan devisa kita. Negara ini semakin buruk wajahnya, saat anggota sebuah komisi pengawas peradilan tertangkap tangan menerima dana suap dari rekanan bisnisnya.

Berteriaklah sekuat tenaga tentang Nasionalisme. Berteriaklah “Merdeka !” setiap tahun. Semangat saja tidak akan cukup untuk membuat negara ini sedikit memiliki harga diri di hadapan negara lain, khususnya Malaysia dan Singapura. Bernyanyilah Indonesia Raya. Tapi coba lihat perbandingan kekuatan militer Indonesia dan Singapura beberapa dekade akhir-akhir ini. Kita akan sangat terkejut, dengan perbedaan yang sangat mencolok. Indonesia tak lebih dari sebuah negara pengimpor panser-panser bekas dari Jerman dan pembeli pesawat mahal asal Rusia yang untuk bisa terbang saja harus mengorbankan dana pembelian gabah petani.

Andaikan kita sedikit lebih jujur, tentu bangsa ini tidak akan terhinakan sampai di titik nadir, sebagaimana hari ini. Andaikan sedikit lebih jujur, dan tidak korup tentu, bangsa ini tidak akan pernah berbangga diri dengan julukan negara dengan “pahlawan devisa” terbesar di Asia Tenggara. Andaikan sedikit saja lebih jujur, dan mempermudah proses birokrasi tentu, bangsa Indonesia akan lebih cerdas dalam memulangkan semua koruptor di Singapura. Andaikan sedikit lebih jujur, ya sedikit saja lebih jujur, anak-anak bangsa ini tidak akan bersusah payah mengais-ngais beasiswa dari negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia.

Sayangnya, budaya jujur dalam bersikap belum menjadi akhlaq. Kita lebih suka berteriak-teriak ditengah terik matahari untuk memprotes kebijakan pemerintah, sambil menyuap polisi untuk bisa mendapatkan SIM tanpa ujian tertulis dan praktek. Sayangnya lagi, tidak pernah ada contoh riil dari para pemimpin kita tentang bagaimana makna nasionalisme dalam arti sesungguhnya, selain lenguhan malas mereka saat menyanyikan lagu “17 Agustus” di hari jadi negara malang ini. Dan masih banyak sayang-sayang lain yang cuma bikin sakit hati kalau dibaca.

Ah, blogger sih bisanya cuman ngomong doang dan berandai-andai saja. Ya, andaikan kita sedikit lebih jujur ……

» Diposting pada awan Umum. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Wai Khru : Cara Thailand Menghargai Guru
  • » Ilegal maning...
  • » ATM Card Trapping
  • » MASA DEPAN BANGSA KULI
  • » Proyek Lagi...
  • » Menulis dan Berkomunitas
  • » Jangan Bangga dengan Peringkat
  • » Atas Nama Kepentingan
  • 4 Komentar to “Andaikan Kita Sedikit Lebih Jujur”

    1. ivendaz Berkomentar:

      Nice post.
      Tinggal pilih.
      Budaya jujur : Top —> Down
      atau sebaliknya?

    2. mau jujur atau… « iVendaZ Berkomentar:

      [...] jujur atau… Postingan bagus didapat dari blog tetangga. Bila anda ingin jujur, baca juga postingan [...]

    3. dwi Yanto Berkomentar:

      Pemerintahan yang korup,melempem, mandul dan tak tahu malu, yang menyebabkan negara kita tidak berada pada posisi tawar yang selayaknya…mereka lebih suka mementingkan perut mereka dan kelompok mereka, kita berteriak hanya dianggap orang yang stress mari kita bersama-sama bangunkan pemerintah kita dari tidur mereka menuju kedigdayaan RI tercinta.
      Kalau gak bangun meri rame2 pindah kewarganegaraan :D.

    4. buntara Berkomentar:

      Ngomentari masalah lagu Rasa sayange, pagi tadi juga dikupas di Metro, bintang tamunya (salah satunya) Andre Hehanusa. Mas Andre kurang lebih bilang, “kayaknya kok nggak mungkin lagu itu dari Malaysia, pelafalannya beda”. Di Malaysia, ‘Saya’ dilafalkan ‘Saye’, brarti kalo ‘Rasa’ dilafalkan ‘Rase’. Jadi lagu itu harusnya berbunyi Rase Sayenge..
      Gegegegee… ada ada aja.

      Ngomong2 perseteruan Blogger vs Malaysia kabarnya gimana sekarang, semakin baik kah?? atau…??
      http://www.virtual.co.id/blog/?p=198

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya