Diposting pada October 20, 2007 | Awan: Care and Share, Dakwah Kampung | oleh : sunu wibirama.

Ramadhan 1428 H sudah berlalu berganti bulan Syawal yang tak kalah barokahnya. Fenomena pergantian Ramadhan ke Syawal selalu dihiasi dengan istilah ini : mudik, silaturrahim, idul fitri, lahir batin, maaf, liburan, dangdutan (di sebagian kota), lontong, ketupat, dan beduk. Namun, ada yang terlupa pula : masjid kembali kosong melompong.
Benarkah ini menjadi mitos pergantian Ramadhan ke Syawal ?
Memang bukan mitos, dan akan menjadi tahayul apabila fenomena ini kemudian dimitoskan. Akan tetapi fakta berbicara, bahwa bulan Syawal adalah bulan di mana masjid-masjid di Indonesia mengalami kemerosotan jumlah jama’ah yang cukup tajam, setelah tadinya selama sebulan penuh sesak dengan ratusan ummat yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhannya. Apakah Syawal tidak istimewa di hati mereka, sehingga seolah-olah mereka lupa dengan masjidnya ?
Sebab Kosongnya Masjid
Belajar dari kampung saya sendiri, banyak alasan yang menyebabkan masjid menjadi sepi pada bulan Syawal. Beberapa diantaranya adalah :
1. Mudiknya penduduk sekitar ke kampung halaman. Khusus untuk masjid-masjid di daerah padat mahasiswa, biasanya memang akan sangat terasa sepi pada saat para penggiatnya sedang kembali ke daerah asalnya. Khusus di kampung saya, sepinya masjid disebabkan oleh mudiknya sebagian keluarga jama’ah masjid ke kampung halaman mereka masing-masing. Biasanya seminggu setelah lebaran, kondisi masjid akan berangsur-angsur pulih.
2. Padatnya waktu silaturrahim. Silaturrahim di bulan Syawal mengandung makna dan hikmah yang sangat besar, sebesar rizki yang dijanjikan oleh Allah SWT dari silaturrahim tersebut. Sering saya jumpai, waktu silaturrahim melanggar batas sholat berjama’ah, sehingga beberapa keluarga memilih untuk sholat berjam’ah bersama-sama di rumah mereka masing-masing. Bukan hal yang baik bila dikaitkan dengan kemakmuran masjid, tentunya.
3. Menurunnya semangat beribadah secara drastis. Syawal adalah bulan kantuk, untuk mereka yang suka makan terlalu banyak. Ini pernah saya alami saat ada rapelan jadwal silaturrahim selama satu haru penuh. Selama satu hari itu pula, mulut ini tidak pernah berhenti mencicipi hidangan snack lebaran yang memang khas dan membuat air liur menetes. Akibatnya, semua darah di otak turun ke perut untuk membantu kelancaran proses pencernaan dan sirkulasi sari makanan. Bisa ditebak, tidur adalah jawaban yang paling logis untuk menggantikan istilah ‘capek’.
4. Menganggap Ramadhan sebagai beban. Tidak semua orang suka dengan datangnya bulan puasa. Sebagian dari kita mungkin masih menganggap tarawih, sholat berjama’ah atau membaca Al Qur’an sebagai beban dan buang-buang waktu. Nah, pandangan inilah yang harus kita luruskan, karena justifikasi sebelum mengambil hikmah dan vonis sebelum memahami adalah kesalahan besar. Celakanya, kadang kita tidak pernah (mau) tahu kalau kita ternyata sedang melakukan kesalahan.
5. Menganggap sholat jama’ah hanya penting di bulan Ramadhan. Keliru besar ! Sholat jama’ahlah yang menjadi salah satu pilar negara syiah Iran, dan dengan sholat jama’ah pula pemimpin tertinggi Iran (Ayatollah) berkoordinasi dengan seluruh rakyat negri Iran. Bisakah Anda membayangkan, organisasi macam apa yang mampu berkoordinasi dengan jumlah anak buah yang sangat banyak dalam waktu lima kali sehari ? Islam secara tidak langsung mengajarkan nilai leadership yang luar biasa dalam sholat jama’ah dan dengan sholat jama’ah inilah Amerika berpikir 1000 kali untuk menyerang Iran. Bukan karena Iran memiliki senjata nuklir dan kenyataannya memang tidak memilikinya. Tapi karena sholat jama’ahnya ! Sekali lagi, sholat berjama’ah membuat ummat ini menjadi sangat kuat.
6. Menganggap masjid sebagai tempat orang-orang terbelakang. Ada logical fallacy dengan anggapan ini. Masjid sebenarnya menjadi tempat orang yang paling paham dengan masa depan ummat. Orang inilah yang nantinya akan menentukan adanya kebaikan atau keburukan di lingkungan sekitarnya (seharusnya demikian). Seorang doktor atau professor mungkin berguna di kampusnya, tapi bisa jadi ia kalah dengan seorang tukang sapu yang rajin sholat berjama’ah di masjid. Ia kalah cepat untuk memulai kebaikan, dalam arti sebenarnya, dan kalah cepat untuk mengubah lingkungan sekitarnya dari tidak baik menjadi baik. Sholat berjama’ah akan memberikan waktu khusus kepada kita untuk memperhatikan tetangga sekitar kita. Jika mereka tidak terlihat di masjid, kita harus menanyakannya. Bagi yang sudah ke masjid, kita harus tahu tingkat ekonomi dan kesejahteraannya. Demikian, sampai benar-benar masjid menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua orang dari berbagai lapisan masyarakat dari mulai profesor, pedagang sampai tukang sapu.
7. Trauma dengan sikap pengurus masjid. Kesalahan bisa pula terjadi pada internal pengurus masjid. Terlalu keras dalam beragama, berlebih-lebihan dalam memvonis seseorang, atau kurang supel dalam menyikapi keluhan dari masyarakat bisa sebab utama semakin berkurangnya jama’ah sholat. Apalagi kesalahan tadi dilakukan di bulan Ramadhan. Meskipun Syawal sudah saling memaafkan, keengganan pergi ke masjid tetap membekas di hati. Untuk yang satu ini, jalan keluarnya adalah melakukan dialog langsung antara pengurus masjid dan masyarakat. Jalan keluar dicari dan kesepakatan dilaksanakan. Insya Allah, masyarakat akan melihat sejauh mana keseriusan pengurus masjid dan dari keseriusan itulah kita akan kembali mendapatkan jam’ah kita.
Bagaimana Belajar Berjama’ah ?
Sholat berjama’ah adalah pelajaran paling sederhana dari kehidupan bermasyarakat. Sholat berjama’ah mengajarkan rapatnya shaf tanpa memperdulikan organisasi, bendera atau partai. Artinya, ukhuwah adalah prioritas pertama yang wajib didahulukan. Kedua, pemimpin sholat diambil dari tingkat pemahaman dan kualitas bacaan. Bermasyarakat pun butuh pemimpin, dan hendaknya kriteria kemampuan, kecakapan menjadi pilihan utama selain pengalaman dan kadar tanggung jawab. Ketiga, jama’ah berhak mengingatkan imam bila melakukan kesalahan, dengan cara menyebut “Subhanallah” (makmum putra) atau “bertepuk tangan” (makmum putri). Pemimpin adalah pelayan dan harus siap dengan kritikan dari masyarakatnya. Keempat, sholat berjama’ah mengandung nilai silaturrahim dan koordinasi yang cukup tinggi bila dilakukan dengan benar. Info terkini, isu panas keummatan, bisa dibahas secara cepat apabila masyarakat rutin berjama’ah. Selain itu, tingkat kesejahteraan dan kesenjangan sosial pun bisa dipecahkan bila setelah dzikir kita tidak langsung pergi meninggalkan masjid, tapi sedikit meluangkan waktu untuk membicarakan masalah keummatan.
Mereka Menunggu Kita
Sholat berjama’ah menjadi pembicaraan serius di antara dua orang Rabbi Yahudi di sebuah pertemuan di negara Amerika, sebagaimana diceritakan oleh Ustadz Syamsi Ali yang menjadi Imam (pemuka agama) di New York (dikutip dari Eramuslim Digest Oktober 07).
Rabbi pertama berkata, “Kita harus mewaspadai sholat Jum’at karena pada siang itulah seluruh ummat Islam berkumpul dan sangat bisa dijadikan satu wadah untuk bergerak melakukan perlawanan terhadap Yahudi”
Rabbi kedua terkekeh, “Jangan takut Saudaraku. Jangan kau jadikan sholat Jum’at sebagai ukuran umat Islam sudah bersatu. Sholat jum’at bukan pertanda bahwa mereka sudah bersatu, walau mereka biasanya memenuhi masjid di waktu siang itu. Walau jumlah mereka banyak, mereka sebenarnya tercerai-berai.”
Rabbi pertama kemudian menukas, “Jika demikian, apa yang bisa kita jadikan tolok ukur bahwa mereka sudah mulai bersatu padu dan apa tanda-tanda bahwa mereka akan segera menghancurkan kita ?”
Rabbi kedua, sambil setengah berbisik bicara, “Sholat Jum’at memang tidak bisa kita jadikan tolok ukur kekuatan mereka. Satu-satunya yang bisa kita jadikan tolok ukur, satu-satunya yang harus kita waspadai, satu-satunya yang harus kita cemaskan adalah jika orang-orang Islam itu sudah melaksanakan sholat Subuh berjama’ah sebanyak jumlah mereka saat menunaikan sholat Jum’at. Bila sholat Subuh mereka sudah memenuhi masjid-masjid seperti halnya sholat Jum’at, maka barulah itu tanda-tanda akan datangnya kehancuran bagi kita. Di hari itulah kita wajib waspada.”
Rabbi pertama dahinya berkerut, “Jika demikian Saudaraku, upayakanlah agar umat Islam tidak mengetahui kekuatannya itu. Upayakanlah agar mereka tetap lelap dalam tidurnya dan enggan untuk memenuhi undangan adzan Subuh.”
Kesimpulan
Kosongnya masjid di bulan Syawal sebaiknya memang bukan karena menurunnya semangat untuk sholat berjama’ah di masjid. Umat Islam sebenarnya memiliki tanggung jawab yang besar terhadap diri mereka masing-masing karena hanya dengan memaksakan dirinya pergi ke masjid (setidaknya tiga kali dalam sehari), ia bisa disebut sebagai salah satu umat yang peduli dengan urusan keumatan. Dan umat yang peduli inilah yang menjadi bagian dari golongan yang bersama Rasulullah SAW, bukan yang lain (Hadits Rasulullah). Terakhir, alasan utama kita sholat berjama’ah tentu bukan karena cerita dua Rabbi tadi. Bukan itu. Itu hanya alasan tambahan saja. Alasan utamanya, tentu karena dianjurkan dan ditekankan oleh Rasulullah SAW dan dengan alasan inilah pahala kita lebih utuh dan terjaga serta lebih mampu untuk menjaga kesinambungan dari tekad kita.
Semoga Syawal ini masjid kita kembali ramai dengan jama’ahnya.
Wallahu a’lam.
NB :
Teruntuk teman-teman penggerak masjid kampung, utamanya di daerah Jogja, salam kenal dan tetap semangat menjalani hari-hari kita.
“Intansurullaha yanshurkum wa yutsabit aqdaamakum…” (Muhammad : 7)
» Diposting pada awan Care and Share, Dakwah Kampung. Artikel lainnya pada awan ini:
October 22nd, 2007 at 7:54 am
ane mo kirim video ke blog ini, mungkin bisa dijadikan salah satu alasan kenapa malas untuk sholat berjamaah khususnya dimesjid. caranya gmana akh?