FUTUR PASCA KULIAH

Diposting pada October 31, 2007 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

Wa’alaikumussalam akhi, smoga antum istiqomah di jalan perjuangan…..oya, kebetulan td pg sy brusan mnympaikan : akan tiba pada suatu zaman dimana butunuhum robbuhum (perut mereka tuhan mereka), nisa’uhum kiblatuhum (wanita kiblat mereka), dan dirhamuhum ghoyatuhum (dirham tujuan mereka)

Itulah sepenggal SMS terpanjang dari seorang sahabat yang saya terima jam 11 malam, saat saya terkantuk-kantuk dan menjelang tidur malam. Memang sebelumnya saya mengirimkan SMS ke beliau terkait dengan pembatalan niat saya untuk mengikuti seleksi beasiswa yang didanai oleh sebuah oil company luar negri. Bukan apa-apa. Serasa ada yang mengingatkan aja, terus tiba-tiba langsung batal. Tak disangka, yang datang justru tausiyah yang cukup mengena.

Saya menyebutnya Futur Pasca Kuliah. Ini benar-benar terjadi dan sangat nampak perubahannya, ternyata untuk mereka-mereka yang dulunya pernah jadi penggiat keislaman, bahkan mungkin pernah ikut-ikutan demo sana-sini, mencaci maki Zionis Israel, atau bahkan pemerintah Amerika. Saya sendiri bukan termasuk penggiat demo yang model kayak gitu, meski pernah juga ikutan demo anti perang pas Irak diserbu penjajah. Tapi bersikap keras terhadap prinsip itu tidak hanya pada saat kita punya banyak teman. Teguhnya prinsip dan istiqomah itu akan diujikan pada saat kita benar-benar sendiri, tanpa teman, dan ‘kepepet butuh’ (alias : bener-bener terdesak oleh kebutuhan). Inilah yang biasanya dirasakan oleh mereka yang mulai menapaki jalan baru sebagai manusia yang harus menanggung sendiri biaya hidupnya, bahkan mungkin seluruh keluarganya. Bagi mereka yang sudah terbiasa mandiri sejak muda, tentu berpegang pada prinsip bukanlah hal yang terlalu sulit. Tapi bagi mereka yang selalu tergantung dengan orang tua, mulai dari biaya hingga segala sesuatunya, akan sangat merasakan dilema yang luar biasa.

Masalah penghidupan, besar atau kecilnya jumlah yang kita terima atas kecerdasan kita berikhtiar, harusnya memang dilandasi dengan keyakinan mendasar yakni “Allah SWT pasti akan menjamin makhluknya dan akan menjamin rizkinya”. Insya Allah, yang namanya manusia pasti tetep idup selama ia masih mau kerja dan usaha. Yang jadi masalah adalah :

1. Apakah ia masih memegang idealisme awalnya yang kokoh (bagi yang sudah memiliki idealisme, lho. Misalnya, berjanji untuk tidak mengabdi kepada pihak-pihak yang merugikan negara dan ummat Islam. Bagi yang belom ya, ndak usah terlalu banyak mikir. Yang penting idup, terserah siapa yang ngasi nasi ke kita).

2. Dari manakah ia memilih sumber penghasilan .Yang ini berlaku secara umum untuk semua ummat Islam, hanya ada dua pilihan : Halal atau Haram. Yang syubhat (meragukan) biasanya sih cenderung ke yang haram.

Dua masalah inilah biasanya yang menggelayuti seseorang, utamanya yang se-”model” dengan saya yang baru saja lulus kuliah dan terpikirkan untuk menapaki lembaran baru mencari penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Tidak sedikit teman-teman saya kuliah, yang dulunya sangat aktip di mushola (bahkan mereka selalu mengingatkan saya, mengajak saya untuk sholat tepat waktu, ngajak kajian, dll) dan menjadi aktipis keislaman, kini tak berdaya menghadapi gelontoran dirham-dirham dari perusahaan asing macam E**ON MOBIL OIL, CALT*X OIL, CH*VRON, TO*AL OIL, BR*TISH PETROLEUM maupun yang paling jelas afiliasinya untuk Amerika Serikat (ya iyalah, karena Bush kan punya saham di dalamnya) : HALLIB*RTON OIL COMPANY.

Pernah saya mengingatkan, “Eh bos. Situ ndaftar di E**ON po ? Bukane iku kemarin bermasalah di Cepu ? Ngati-ati loh bos, Amerika minded mengko…”

Apa jawabnya ?

“Wah, keluargaku dah gak ada biaya nih. Aku terpaksa ke sini”, jawabnya.

Terpaksa ? Emang kalo nggak daftar di sana terus kita mati ? Allahu a’lam yo. Tapi terus terang bikin kecewa banget, terutama buat manusia model saya yang masih perlu banyak bimbingan ini (ciee…..ela). Mungkin saya memang dikenal ‘slengekan’ dan paling nggak bisa diajak serius diantara teman-teman ‘perjuangan’ saya. Tapi untuk masalah rizki, terutama yang masuk ke perut dan jadi daging, saya koq masih milih-milih. Bukannya sombong lho, tapi permasalahan perut ini kadang jadi ujian aqidah. Bener-bener aqidah, karena setahu saya seluruh Oil Company asing mewajibkan semua karyawannya untuk menerapkan visi dan misi kapitalisme mereka dalam setiap pengambilan keputusan. Mau tidak mau, kalau mereka bersedekah kepada Zionis, kita pun turut andil dalam pundi sedekah mereka. Mau tidak mau, hasil penyulingan itu juga masuk ke kantong-kantong politisi Hawkish di Amerika yang bikin Irak meledak (dan sebentar lagi Iran mungkin).

So ? Agama nantinya tidak akan jadi pertimbangan lagi, deh. Boro-boro agama, deal bisnis aja di diskotek dan bar. Mau sholat aja susah, gak ada mushola yang representatif (nggak semua sih, biasanya yang punya ladang lepas pantai / off shore).  Lha terus ngapain pada demo-demo Palestina segala ? Ngapain juga capek-capek bakar bendera Israel, kalau doyan sama duitnya ? Munafik abis to ? Dan inilah yang menjadikan seseorang menjadi goyah dengan idealisme perjuangannya….

Yaa….sudah sunnatullah mungkin. Gusti Allah yang Maha Adil itu akan menjual surga dengan harga yang mahal biyangeti, semahal kemauan kita untuk mengatakan “No !” pas ‘kepepet butuh” tadi. Maka, fenomena futur pasca kuliah ini menjadi hal yang wajar dan tidak terpantau dengan baik, karena urusan perut adalah urusan terberat (biasanya) dalam perjalanan hidup manusia.

Untuk yang poin no.2 (ngambil penghasilan yang haram), sudah pasti epek sampingnya. Bisa diliat di situs-situs keislaman. Jelas ngaruh dan kurang barokah rejekinya. Efek pertama yang dirasakan, yaa itu tadi. Semangat keislamannya menurun dan cuek aja dengan isu keislaman. Sik penting rukun Islam lulus ! Akhirnya tolok ukurnya tidak jauh beda dengan manusia biasa, yang mungkin belum pernah “ngaji” repot-repot ke sana kemari.

Duh Gusti….. tsabit qolbiy ‘ala diinika. Mugi-mugi kawulo tetep istiqomah ing mergining Islam lan da’wah . Amiin ya robbal ‘alamin ….

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Kebersihan dan Berkah Sebuah Negeri
  • » [Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur
  • » Mari Memudahkan, Semoga Dimudahkan!
  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa’
  • » Kajian Ramadhan
  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah…
  • 16 Komentar to “FUTUR PASCA KULIAH”

    1. anung Berkomentar:

      SIP kang!!!

      rejeki neng endi2 kok..asal otak dipake :D

    2. ayisan Berkomentar:

      amiin…istiqomah selalu ya:)

    3. Andri Setiawan Berkomentar:

      dadi dosen wae po nu? ;-)
      ning S2 dhisik :-D

      biar bisa ngikut peraturan UU

    4. sunu wibirama Berkomentar:

      @anung
      Iyo kang, bismillah. Titik terberat ujian kita itu saat dihadapkan pada kebutuhan paling mendasar, yoiku weteng (alias butun alias perut). Lah, larang e swargo kiy nang kono iku jan-jane

      @ayisan
      Aamiin ya Allah ….

      @Andri Setiawan
      Hehehe…. insya Allah kang. Lha, kalau ane gak di UGM bisa masuk UII gak nih ? Situ kan dah jadi “pejabat” di sana…mbok menowo bisa ngasih rekomendasi (kqkqkqkq…..)

    5. anung Berkomentar:

      heheh..
      oot, saiki butuhe ra mung weteng.
      pulsa barang :mrgreen:

      neng timor timur wae, yakin, dadi pejabat. lha wong lulusan akademi ecek2 wae dadi pejabat kok

    6. sunu wibirama Berkomentar:

      @anung
      hehehehe … sami mawon a.k.a podo wae nek kuwi. mosok sik diarep-arep koq jabatan. Neh meh sugih gampang koq, ngrampok wae …. hehehe…

    7. WeW Berkomentar:

      huehuheuue,,

      pas sma duluw wes kepingin sek jenenge kerjo neng kalimantan, gaji gedhe, tur kudu mlebu elektro sek…

      seiring perjalanan waktu,, alhamdulillah bisa masuk kampus itu ( smoga gek ndang rampung jg kie :(‘ wes ketinggalan je… )

      seiring jalannya waktu jg.. akhirnya keinginan2 yg dahulu berubah jg…

      rizqi udah ditentuin ko,, koyo jodone dw jg,, klo berbicara masalah it, spt berbicara mengenai,, kapan qt mati ?

      now, berusaha yg terbaik..tp sebisa mgkn tidak mengganggu keimanan dan ibadah qt ..

      sharing wae bro..
      ===
      Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
      QS At Taubah : 24
      ===

      -w-

    8. syaamil Berkomentar:

      Jangankan kita akh, Syeikh Said Qutb(Rahimatullah) aja pernah futur kok, bedanya dengan kita, beliau itu kalo lagi futur langsung mengunci pintu di kamar dan ndak mau ketemu orang, lalu tilawah al Quran sampai pingsan, lha kita?(pingsan duluan..)Lain lagi dengan adiknya, Muhammad Quth(Rahimatullah) kalo lagi futur langsung pergi ke perpustakaan pribadi beliau, membaca semua buku yang pernah beliau karang, sambil berkata (dengan bahasa kita nih..)”tibake aku yo tahu nggenah ki…”
      Siapa tahu pas futur antm bisa nyiptain buku yang bermanfaat akh, dan siapa tahu ane ada waktu buat ngedesain covernya(he.he.he)
      Semoga kita termasuk orang-orang yang hanya menjual diri kita kepada Allah Azza waJalla. Karena udah pasti untuk berlipat. Karena Allah Maha Tahu apa kebutuhan kita dibanding kita. Insya Allah.

    9. loommy Berkomentar:

      kalau petronas masih jalan terus to kang???hehehe… :)

    10. az&fa Berkomentar:

      jangan sering2 berjalan sendirian… karena srigala akan makan kambing yang sendirian…
      tetap istiqomah bersama jama’ah… semoga allah memberi istiqomah kita semua
      maaf bukan ceramah… salam kenal

    11. Jim Berkomentar:

      huss, nadah dirham untuk dibagikan ke fakir miskin di indonesia. daripada dinikmati kaum kafir untuk foya2, mending digunakan yg lebih manfaat.

    12. zie Berkomentar:

      :)
      :)………..kok ceritanya dalem banget ya………..
      hayo..keep istiqomah

    13. phy Berkomentar:

      wah, tulisannya sangat menggugah..salam kenal.

    14. sunu wibirama Berkomentar:

      @all
      makasih buat support-nya.

      “Apa yang pernah kita ucapkan dan kita janjikan kepada orang lain atau khalayak banyak, insya Allah akan diujikan kembali kepada diri kita masing-masing. Berislam itu akan terasa apabila idealisme kita diuji dengan kondisi dan realitas yang kita hadapi”

      (Quote taken from : Lukman Hakim, S.T. Trainer Remaja Masjid Jogja)

    15. kecebon9 Berkomentar:

      alhamdulillah.. menemukan sesuatu yang cukup menohok saya di sini =) syukron katsir

    16. riura Berkomentar:

      byuh, ngono ya?
      trus piye koyo Indosat?
      yo okeh ikhwah neng kono
      eh Kang, coment-ne Jim kan yo bener,, nadah dirham kanggo fakir miskin Indonesia, koyo tho cah kos2an koyo ak^^

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya