Diposting pada November 12, 2007 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.
“The bad news is time flies. The good news is you’re the pilot”
(Michael Althsuler)

Kalimat berbahasa Inggris ini langsung menarik perhatian saya. Maklum, saya salah seorang penggemar artikel-artikel EXPERD yang banyak dimuat di sebuah harian nasional di Indonesia. Artikel EXPERD ini langsung membuat saya tersenyum dan teringat dengan beberapa materi-materi achievement motivation training yang dulu pernah saya sampaikan di hadapan beberapa teman pengelola remaja masjid.
Memang benar, konsep manajemen dan pemasaran yang paling sederhana adalah : berusahalah untuk senantiasa memenuhi janji Anda. Salah satunya tentu dengan menepati dan menghargai waktu orang lain. Kebiasaan seseorang yang menghargai waktu secara tidak langsung akan berimplikasi pada kepercayaan (trust) orang lain kepada kita. Pesan ini sebenarnya sudah ada jauh-jauh hari di dalam ajaran Islam. Pernahkah kita mendengar kalimat “Al Waqtu kas syaief ” yang diucapkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib r.a ? Waktu itu ibarat pedang, kata beliau. Pedang yang bisa membunuh lawan atau membunuh diri sendiri. Dan konsep ini jauh lebih tua daripada konsep manajemen modern yang ada saat ini. Bahkan seorang Hermawan Kertajaya pun mengakuinya. Seorang Abdulllah Gymnastiar selalu menekankan hal ini pada seluruh karyawannya. Apalagi Tung Desm Waringin yang sering berbicara masalah motivasi.
Contoh lainnya adalah bagaimana Rasulullah menepati janjinya pada seorang sahabat saat mereka berjanji untuk bertemu di pasar. Rasulullah bahkan sampai menunggu tiga hari tiga malam untuk memenuhi janjinya. Saat sahabat tersebut melewati tempat mereka bertemu, ia kaget bukan kepalang karena Muhammad SAW berdiri di sana selama tiga hari tiga malam. Ia pun menangis dan meminta maaf kepada Rasulullah. Terlihat ekstrim memang untuk kehidupan kita saat ini. Tapi bolehlah kita mencontoh kisah lain berikut ini, seorang Ka’ab bin Malik yang sehari-harinya petani kurma boleh berbangga hati karena kebunnya panen. Madinah memang dikenal memiliki tanah yang luar biasa subur, sampai sekarang. Namun panggilan perjuangan menyapa kaum muslimin dan membuat Abu Bakar mendermakan seluruh kebun kurmanya untuk mencukupi para sahabat yang ingin pergi berperang tapi tidak mencukupi bekalnya. Perjalanan sepanjang 300 KM ke Tabuk pun dimulai. Perjalanan paling lama yang pernah dialami kaum muslimin saat itu. Ka’ab yang diingatkan oleh para sahabat memilih untuk menunda keberangkatannya. Apa yang ia dapat ? Ia sama sekali tidak memperoleh apapun dan tidak menghasilkan amal apapun yang produktif untuk perjuangan Islam. Di akhir perang, Ka’ab memperoleh “pelajaran” dari Rasulullah dan didiamkan oleh kaum muslimin selama 40 hari.
Bukan hukumannya yang kita lihat. Punishment itu sebuah “penghargaan” atas kelalaian kita. Ka’ab sangat beruntung karena dihukum langsung oleh Rasulullah SAW. Artinya ? Manajemen waktu adalah hal yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah. Kini kita menggunakan teori-teori barat untuk menjalani apa yang sebenarnya sudah ada dalam ajaran agama kita. Berapa kali Allah bersumpah dengan waktu ? Coba hitung di juz 30. Wal Ashri, Wad Dhuha, Wal Laily idza yaghsya, Wa An-nahaari idza tajalla….. Sudah ?
Oke, sekarang masuk pada poin kedua. Menjaga amanah. Umat Islam adalah umat yang (seharusnya) paling menjaga amanah. Bukan saja karena kepentingan bisnis. Lain dan sungguh sangat kecil dimensinya apabila kita bandingkan dengan dimensi keimanan. Dimensi bisnis adalah sepersekian dari dimensi keimanan kita. Harusnya kita menjaga amanah karena kita muslim, bukan hanya karena kita seorang pengajar, bussinessman, atau bahkan bos dari sebuah perusahaan. Mengapa sih, kita tidak pernah pede mengatakan bahwa saya adalah muslim dan untuk itu saya harus menjaga amanah karena ini adalah ajaran agama saya ? Begitu banyak contoh riil di lapangan yang menunjukkan bahwa keislaman kita tidak sampai pada niat kita untuk menjaga “trust” dari orang lain. “Orang itu tidak membawa nilai ekonomis bagi kita”, itu yang seringkali menjadi pertimbangan utama kita . Sekali lagi, dimensi yang kita gunakan jauh lebih besar dari sekedar dimensi bisnis. Harusnya kita lebih profesional dari pakar-pakar barat macam Kottler dan konco-konconya yang katrok itu.
“Walk The Talk ! ” Begitu kata penulis artikel di kolom EXPERD. Jalani yang kita katakan. Sesungguhnya “akhlaq itu menular”. Pernahkah kita dengar bahwa resto McDonald yang Amerika banget itu menerapkan sistem jam pasir pada seluruh karyawannya, termasuk bos-nya ? Karyawan McDonald harus menyajikan makanan kepada konsumennya sebelum pasir di jam tersebut habis karena jatuh ke sisi bawah seluruhnya. Bila ia terlambat, terpaksa sang karyawan memberikan hadiah kepada pelanggan yang sedang makan di resto mereka. Contoh sederhana ini ternyata “menginspirasi” dan menular ke beberapa perusahaan lain, meskipun mereka menerapkan “Reward And Punishment” dalam bentuk yang berbeda.
Sesibuk apapun, sesungguhnya kita adalah makhluk terpandai yang diberi anugerah untuk menggunakan kedua belah otak kita. Gunakan saja otak kanan dan ambil pekerjaan-pekerjaan yang benar-benar penting sesuai dengan prioritas. Lainnya, delegasikan dan bagi beban kita. Mungkin terlihat lucu, bahkan menggelikan. Tapi begitu Anda mengetahui potensi besar di balik tepat waktu, maka Anda akan terkejut dibuatnya. Coba aja deh, pasti ketagihan …….
So ?
Waktu = Pedang
» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:
November 12th, 2007 at 4:15 am
so, gunakan waktu untuk wawancara dengan calon “univ” yang baru dengan sebaik mungkin untuk hasil semaksimal mungkin
October 17th, 2009 at 5:24 am
Waktu z. . . . M’nurt q wktu adlah uang,,,
October 20th, 2009 at 1:24 am
rajin baca kompas di hari Sabtu dan Ahad tho?
ya, rasa-rasanya singkat yo, ndandang wis suwe ra ketemu…
October 20th, 2009 at 12:09 pm
Kui artikel lawas bro…. tapi menarik cen-an. Nek situs-e sing tenan :
http://experd.org/