Antara Ingin dan Butuh

Diposting pada November 21, 2007 | Awan: Motivation | oleh : sunu wibirama.

“Kang, sebaiknya Situ baca-baca artikelnya Safir Senduk tentang perencanaan keuangan keluarga. Kelihatannya lumayan ampuh buat orang-orang seperti kita yang sedang start merintis karir. Opo maneh seperti aku yang udah berkeluarga”
(Beberapa hari yang lalu, perbincangan dengan seorang kawan yang bekerja di sebuah LSM)

Family Financial Planning ? Baru pertama kali dengar memang. Tapi memang kelihatannya sangat menarik untuk dipelajari. Tentu, tidak harus berkeluarga terlebih dahulu untuk bisa mempelajari hal-hal demikian, terutama hal yang berkaitan dengan “prosperity” (hehehe). Hanya dari bincang-bincang saja sudah merangsang otak untuk langsung ngenet dan memasukkan kata kunci “Mengelola Keuangan Keluarga”. Ternyata benar, sangat banyak artikel dari internet yang mengajari kita tentang “bagaimana mengelola keuangan secara benar”, silahkan lihat pembelajar.com. Ilmu yang sederhana tapi sulit diterapkan ini sesungguhnya memang harus kita pelajari dan kita terapkan sejak saat ini.

Pelajaran pertama dari pengelolaan keuangan keluarga adalah SAVING dan INVESTMENT. SAVING sangat berarti dan sangat penting, terutama bagi keluarga muda. Sebuah keluarga seringkali dikatakan “miskin”, sesungguhnya bukan karena jumlah penghasilan yang mereka hasilkan tiap bulannya. “Kemiskinan” semu (yang beranjak menjadi nyata) yang mereka alami sebenarnya diawali dari salah menempatkan prioritas, antara “keinginan” dan “kebutuhan”. Contoh sederhana : implementasi “keinginan” dan “kebutuhan” adalah berusaha disiplin terhadap daftar belanjaan pada saat kita berada di supermarket. Seringkali seseorang menjadi “sangat miskin” di akhir bulan karena ia tidak pernah berusaha disiplin terhadap daftar belanjanya di supermarket. Ia tidak pernah bisa membedakan antara “keinginan” dan “kebutuhan” sehingga ia membeli barang tidak didasarkan pada rasio prioritas.

INVESTMENT, bisa berarti sebuah usaha untuk membuat “uang bekerja pada kita”. Tentu investment harus dilakukan setelah tahapan saving dilakukan. Seorang Sarjana S1 yang PNS misalnya (golongan III A) bisa jadi sangat nyaman hidup dengan gaji 1,9 juta perbulannya. Bila ia termasuk keluarga muda dengan anggota keluarga 2 orang, gaji yang ia miliki tentu masih sangat mencukupi. Kita mengasumsikan bahwa kita sebagai kepala keluarga dan bekerja, sementara istri kita tidak bekerja (sekedar asumsi, bukan pandangan baku. Masih sangat mungkin berubah dan semoga kelak kontribusi financial keluarga tidak hanya dari suami saja). Tapi bagaimana jika ia memiliki anak ? Sementara sang anak tentu juga meminta porsi yang tidak sedikit dari gaji kita. Kalau kita hanya bertahan dari gaji dan saving saja, tentu seorang PNS akan merasa kesulitan menghidupi keluarganya. Kalau ia bukan tipikal koruptor, tentu ia akan berwirausaha sebagai sampingannya dan inilah yang dikatakan sebagai investment. Permasalahan pembagian waktu dan besarnya investasi tentu masih bisa dikompromikan. Bagian yang terpenting dari hal ini adalah berusahalah untuk mandiri dan siap sewaktu-waktu apabila tiba-tiba kita kehilangan suatu pekerjaan, apalagi pekerjaan utama.

Apabila dibandingkan dengan pola pikir Islam, INVESTMENT ini adalah sebuah usaha untuk mendapatkan rizki dari Allah SWT yang tidak terduga (min khaitsu laa yahtasib). Kita tidak sedang bicara spekulasi atau berjudi, karena berwirausaha memiliki dimensi yang bertolak belakang dengan berjudi (kalau dijalani sesuai koridor Islam). Allah SWT menjanjikan kepada seluruh makhluknya, bahwa Dia akan menjamin keberlangsungan hidup mereka di dunia, dari mulai semut, manusia, sampai dengan gajah. Ini adalah hal prinsipil yang harus kita yakini. Namun jatah rizki itu “range”-nya sangat luas, dan Allah SWT menetapkan “range” ini. Ketika kita cerdas menjemputnya, maka harapannya kita bisa mengambil “range” yang paling tinggi dan untuk ikhtiar keras kita, kita pun layak mendapatkan “bonus” yang “min khaitsu laa yahtasib” tadi.

Apabila dimasukkan nilai-nilai da’wah dalam hal ini, INVESMENT sangat sesuai dengan nasihat Ustadz Hasan Al Banna. Beliau mengatakan, hendaknya tiap-tiap ikhwah berusaha untuk mandiri dan berwirausaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan da’wahnya. Kata ustadz Mustafa Masyhur (Pak Jenggot penulis buku Fiqhud Da’wah yang Best Seller itu), “Da’wah itu ibarat tubuh dan maal (harta) itu adalah darahnya” (Bab Qadhaya Assasiyyah fid Da’wah). Prinsip ini sangat cocok, karena keberlangsungan da’wah mau tidak mau sebagian besar disuplai dari para pengusaha. Tanpa Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar, dan Utsman, barangkali kaum lelaki dari umat Islam di masa Rasulullah tidak akan seluruhnya bisa berangkat Perang Tabuk, sebuah perang besar menghadapi Romawi yang memakan jarak tempuh 300 KM di musim dingin. Asal tau saja, Abu Bakar menginfaqkan semua kebun kormanya dan Umar bin Khattab separuh hartanya untuk perang ini. Mengapa ? Biaya perjalanan Perang Tabuk sangat besar dan tidak semua kaum muslimin mampu memenuhinya. Namun bila panggilan perjuangan menyambut ? Pengusahalah yang memiliki ladang amal paling besar (wow, keren ….).

SAVING dan INVESTMENT. Dua hal yang sudah saya tanamkan sejak awal. Meski belum membaca bukunya Mas Safir Senduk secara keseluruhan, gambaran awalnya sudah saya dapatkan. Apa artinya dalam hidup kita saat ini ? Artinya, mulai saat ini kita harus belajar membuat semua rincian keperluan hidup kita sendiri, mulai dari sabun, pulsa, gas untuk masak, bensin, bahan pokok, dan seterusnya. Mulai pengeluaran yang paling besar sampai yang terkecil. Kemudian, berusaha menekan semua pengeluaran yang tidak dibutuhkan (biasanya sih kalau ikhwan nggak terlalu boros. Entah kalau akhwat, hehehe). Persiapan ini bukannya sebuah lelucon. Kita semua, apabila ditanya secara langsung, belum tentu bisa menjawab secara pasti kebutuhan hidup kita (kecuali untuk mereka yang sudah merasakan tinggal sendiri atau minimal kos di luar kota).

Ya… tidak ada salahnya tho ? Belajar membedakan antara “keinginan” dan “kebutuhan” mulai sekarang. Last, makasih buat artikel-artikelnya, Mas Safir. Saya akan segera baca buku-buku Anda yang inspirasional itu. Semoga memberikan manfaat yang besar untuk permasalahan “mengurus hidup” kelak.

Wallahu a’lam.


Sunu Wibirama
Electrical Engineering Dept.
Gadjah Mada University

Referensi :

1. Artikel-artikel online dari Pembelajar.Com dan situs sejenis
2. Buku “Fiqh Prioritas”-nya Pak Ustadz Yusuf Al Qardhawy
3. Buku “Fiqh Da’wah”-nya Pak Ustadz Musthafa Masyhur (seri 1)
4. Buku “Risalah Pergerakan”-nya Pakdhe Hasan Al Banna (seri 1)
5. Buku “Sirah Nabawiyah”-nya Mbah Al Mubarakfury (The Best of Rabithah Alam Islamy Championship)
6. Bincang-bincang dan ngobrol bareng bersama kawan seperjuangan

» Diposting pada awan Motivation. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Zona Nyaman dan Zona Aman
  • » Menulis dan Berkomunitas
  • » Resensi : Catatan Hati Seorang Istri
  • » Senjata Belajar Nihon-go
  • » Alqur'an dan Banyugeni™
  • » Belajar Menjadi Kaya Bersama Safir Senduk
  • » Waktu = Pedang
  • » Budaya Ilmiah Kita Kurang
  • 3 Komentar to “Antara Ingin dan Butuh”

    1. syaamil Berkomentar:

      Wah…mari diwisuda omongane jadi beda…..lebih realistis.hi.hi

    2. sari Berkomentar:

      he’em ^_^
      kita pun tau sahabat2 Rasulullah begitu mudahnya mengeluarkan harta mereka di jalan Allah.lalu sepertinya, betapa mudahnya ya, mereka mendapatkan gantinya yang lebih banyak lagi.
      Setelah hijrah, dimana para sahabat ga punya apa2, ternyata bisa jadi pengusaha yg sukses di madinah.
      luar biasa…

    3. syaamil Berkomentar:

      jangan lupa akh, baca juga buku wisata hatinya ust.Yusuf Mansyur……

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya