Diposting pada January 24, 2008 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.
“Wis percaya lah, kang. Mesti bisa diandalkan. Dia itu dari penampilannya sudah kelihatan meyakinkan. Jenggotnya aja lebih panjang daripada guru-guru ngaji kita itu, hehehe”
Saya cuma tersenyum simpul saat mendengar guyon maton itu. “Penampilan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”, kata sebuah jargon iklan semprotan penghilang bau badan. Apabila kita sering berinteraksi dengan kalangan penggiat keislaman, kita akan melihat betapa banyak pribadi-pribadi sholih yang bisa kita lihat sekilas dari tampilan fisik dan aktivitasnya. Bahkan sebagian dari mereka benar-benar menerapkan sunnah nabi kemana dan dimanapun ia berada. Mereka menggigitnya dengan gigi geraham dan tidak melepaskannya.
Namun, jika bergelut dalam dunia ke-jama’ah-an, pribadi-pribadi sholih yang kelihatannya siap menanggung beban – yang bahkan gunung aja mundur saat diminta Allah SWT- menjadi pemakmur bumi (dalam arti yang luas), niscaya kesholihan tadi bisa jadi akan “luntur” karena kompleksnya karakter manusia yang ada di dalam jama’ah tersebut. Luntur di sini, bukan dalam makna yang sebenarnya.Ya, jenggot boleh panjang. Celana boleh saja congklang. Tapi untuk urusan kerja da’wah dan menanggung beban berat berinteraksi dengan masyarakat, hanya beberapa saja yang bertahan. Ceramah boleh saja fasih, hafal banyak juz Al Qur’an. Tapi untuk urusan implementasi ayat dan menggigit idealisme saat dibenturkan dengan urusan “perut”, ada baiknya saling menasihati dan belajar dari banyak pihak, bahkan dari mereka yang bukan bertitel “ustadz” sekalipun.
Dunia amal dan keberjama’ahan ternyata lebih kompleks daripada dunia kesholihan pribadi saja. Dunia amal menuntut adanya win-win solution, yang tidak jarang diantaranya akan menimbulkan kepuasan di satu pihak dan kekecewaan di pihak lain. Dunia amal juga menuntut seorang pemimpin tidak hanya pinter ngomong aja, tapi juga terjun langsung – down to floor – “ngepel” bersama anak buahnya, meskipun ia sudah banyak makan asam garam dan bahkan di hatinya terbersit pertanyaan, “Yah, ngapain sih kerjaannya sama aja, nggak masa muda, nggak masa tua tetep aja sama”. Dunia amal juga menuntut sebuah pengertian bahwa kita bekerja dengan jama’ah manusia – kata Pak Anis Matta- bukan jama’ah malaikat. Artinya, kita harus mempersiapkan hati untuk menerima berbagai kekurangan yang ada dan mencoba untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan kita. Dunia amal juga menuntut seorang jundi (anak buah) untuk banyak-banyak mengambil hikmah dari sikap taatnya terhadap sang komandan (qiyadah). Lapang dada dan mengambil hikmah ini ternyata sangat berguna, jika suatu saat kita mengalami “drop” yang luar biasa, hanya karena apa yang kita inginkan ternyata “ora podho karo sik dikarepake jama’ah” (berbeda dengan yang diinginkan oleh jama’ah).
Bahkan dunia amal juga menuntut seseorang untuk kembali kepada dasar pelajaran Aqidah yang sudah ia pelajari di awal perkenalannya dengan Islam : All of things you have done are only for Allah. Semua kembali kepada Allah SWT saja, bukan karena manusianya.
Dalam sebuah pertemuan, seorang ustadz bercerita tentang bagaimana Pak Rahmat Abdullah (almarhum) menanggapi keluhan jama’ah pengajiannya. Seorang jama’ah pengajian Pak Rahmat mengeluhkan tentang bobroknya jama’ah dan kondisi ikhwah yang lemah. Ia sudah sangat muak dan ingin segera berpamitan, keluar dari jama’ah. PENSIUN. Retire, kalau kata orang bule. Ia ingin menjadi orang biasa-biasa saja, berda’wah di luar jama’ah di mana ia saat ini bergabung. SMS demi SMS ditujukan ke Pak Rahmat, intinya ia ingin pamitan. Pak Rahmat dengan penuh kesabaran menjawab dan inilah jawaban yang fenomenal itu :
” Kalau Anda bergabung bersama da’wah karena Allah, mengapa Anda ingin keluar dari da’wah ini hanya karena alasan ‘manusia’ ?”
Dan hanya dengan satu jawaban itulah, Pak Rahmat ingin menjelaskan kepada kita bahwa ada sisi-sisi lain yang dibutuhkan dari seorang penggiat keislaman yang tergabung dalam sebuah jama’ah, selain kesholihan pribadi. Kesholihan pribadi saja tidak cukup, jika ia tidak siap untuk bekerja dan berjual beli kepada Allah SWT. Kesholihan saja tidak cukup, jika ia tidak siap bekerja bersama manusia dengan berbagai macam kelemahan dan kekurangannya. Kesholihan pribadi saja tidak cukup, kalau ia tidak berusaha memahami ilmu-ilmu keberjama’ahan. Dan jika seseorang sudah bertekad untuk bekerja bersama saudara-saudaranya yang lain, ilmu keberjama’ahan yang luar biasa kompleks dan memiliki banyak variabel ini wajib untuk dipelajari. Tidak sama dengan wajibnya sholat dan puasa sih, tapi hanya sebagai salah satu cara untuk mengantisipasi saja, supaya amal-amal kita tidak terbakar sia-sia hanya karena kita tidak memahami ilmu-ilmu keberjama’ahan dan tidak bisa menempatkan diri dalam konteks yang sesuai dengan amanah yang sedang kita emban. Nantinya, ilmu keberjama’ahan inilah yang akan menentukan ujung dari amal yang dilakukan oleh seorang penggiat keislaman. Apakah berujung hanya kepada Allah SWT, atau hanya karena “suara”, “kursi”, dan “ta’limat” belaka. Berat memang, tapi apa boleh buat. Hanya ini jalan dan pilihan yang ada, jika kita ingin Islam tetap eksis dan solutif terhadap permasalahan di dunia.
Terakhir, kata Ustadz Hasan Al Banna, “Tidak patut kita meninggalkan urusan-urusan sosial hanya karena urusan pribadi saja, dan tidak patut pula kita meninggalkan urusan pribadi hanya karena urusan-urusan sosial”. Tentu, untuk bisa beres urusan sosialnya, jangan lupakan juga urusan pribadi kita. Percaya atau tidak, seringkali idealisme itu tergerus karena satu kata : UANG. ”Uang memang bukan tujuan utama hidup, tapi di dalam hidup ini segalanya berjalan dengan ditopang uang”, kata Tung Desm Waringin. Bahkan, kata Ustadz Mustofa Masyhur, uang adalah darah yang mengalir dalam nadi da’wah. Jadi, buat mereka yang belum kerja, silahkan belajar mencari penghasilan dengan cara yang halal, supaya tidak mengeluhkan penghasilan saat Anda dituntut untuk terjun ke kerja sosial. Buat yang belum juga lulus kuliah dan sangat mencintai kampusnya, usaha lebih keras tentu dibutuhkan, supaya tidak banyak alasan “sedang skripsi” hanya untuk menghindari amanah. Baca buku, rajin ke kampus, atau mintalah teman satu organisasi Anda untuk menolong dan menyemangati Anda. Manfaatkan keberadaan Anda di dalam jama’ah Anda untuk memiliki daya tolong yang lebih bagi kemajuan Anda, sebagaimana kita mencurahkan tenaga untuk urusan-urusan keummatan. Sekali lagi, kesholihan saja tidak cukup, jika kita tidak mempersenjatai diri kita dengan amunisi ilmu keberjama’ahan dan ilmu bertahan hidup, yang secara naluriah harusnya dimiliki oleh semua manusia.
“Wa
laa tahinu, wa laa tahzanu, wa antumul a’aluna in kuntum mu’minin”, firman Allah SWT dalam surat Ali Imran 139 untuk melipur lara kaum muslimin, saat remuk redam dalam perang Uhud yang legendaris itu. Jangan merasa lemah, jangan sedih, sesungguhnya kalian adalah kaum yang tertinggi derajatnya, jika kalian beriman. Ya, jika kalian beriman. Jika syarat-syarat untuk “menjadi kaum yang tertinggi”-nya sudah dipenuhi.
Semoga bermanfaat dan memotivasi.
» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:
January 25th, 2008 at 7:53 am
Ya udah..mari koreksi bareng2 diri2 kita….
Setiap tulisan, pemikiran, ucapan, niat, dan tingkah laku—akan diperhitungkan semuanya di sana–Semoga kita mempersiapkan jawaban itu dari sekarang —
January 29th, 2008 at 2:29 am
hanya satu kata ketika berhubungan dengan manusia : maafkanlah
January 30th, 2008 at 7:33 am
itulah makna kumpulan manusia….jamaah bukan kumpulan malaikat..! kita saling mengdoakan saja…semoga amal2 kita bukan untuk yg lain…selain Allah…! Ya Allah ampunilah hamba2Mu yang sering khilaf….ingin lari dari tugas berat ini. Kuatkan jiwa2 kami untuk memikul beban ini sampai akhir hayat kami…..amin….
February 2nd, 2008 at 2:18 am
Beginilah gunanya ikhwanul muslimin (persaudaraan muslim , bukan tandzim tertentu lho) kita saling nasihat menasihati karena iman itu ada fluktuasinya , jadi ketika dirasakan iman kita sedang drop kita butuh nasihat dari saudara – saudara kita atau orang – orang sholeh di sekitar kita . Tawasaubil haq wa tawasaubisshobr.
Wallahua’lam
June 1st, 2008 at 1:18 pm
Sang Murabbi
Merangkum hati yang terserak
Menggenggam yang terlepas
Meretas gagasan menjadi kenyataan
Menapak jejak tak tergoyahkan
Menatap dengan kesejukan
Menegur dalam cinta
Bersemangat namun syahdu
Diiring doa sunyi
Kami rindu
Haus dahaga tak terperi
Pada sosoknya
Sang murabbi yang dicintai
Masihkah ada?…
(Aa Gun+tari)
http://menantisyahid.blogspot.com
http://mentaridakwah.blogspot.com