Ngelmu Kasunyatan

Diposting pada February 8, 2008 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

Sekilas judulnya seperti judul “ilmu klenik”, mistis dan berbau jawa. Tapi itulah yang memang ingin saya ceritakan. “Bijak-bijaklah menjalani hidup, karena kita tidak boleh terkondisi keadaan. Keadaan-lah yang harus kita kondisikan”. Demikian nasihat beberapa orang kepada saya. Nasihat-nasihat yang intinya “harus lebih realistis menjalani hidup” ini sudah mulai masuk ke telinga saya, sampai hari ini.  Beberapa diantaranya, memang ada yang bagus, tapi tidak sedikit yang mesti kita pikirkan ulang.

Berbicara tentang “ngelmu kasunyatan”, atau istilah kerennya : ilmu kenyataan, adalah ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Perjalanannya, jelas sangat sulit dan membuat putus asa, tapi di sanalah seninya. Ngelmu kasunyatan ini lebih kepada : bagaimana seseorang “legowo” menjalani kenyataan dan tidak berputus asa terhadap apa yang ia peroleh sampai hari ini. Mungkin dalam bahasa Islam disebut “qona’ah”. Tapi ngelmu kasunyatan tidak hanya mengajarkan legowo saja, juga mengajarkan bagaimana kita cerdas melihat apa yang terjadi di sekitar kita dan menjadikannya sebagai pelajaran hidup. Bapak saya bilang, “Urip kuwi wang-sinawang”, apa yang kita lihat sebagai sebuah kebaikan pada orang lain, belum tentu menjadi kebaikan pada diri kita. Pun belum tentu pula keburukan yang menimpa orang lain akan menjadi keburukan yang berakibat sama bagi kita. Misalnya, bagi sebagian orang kenaikan harga adalah sesuatu yang menyesakkan dada. Bahkan ada seorang pedagang gorengan di Jawa Barat yang gantung diri karena ia selalu merugi. Bagi kita, mungkin hal ini bukan sesuatu yang menempati posisi prioritas dalam hidup, meskipun efeknya sangat berasa.

Ngelmu kasunyatan juga mengajarkan kepada kita untuk tidak terlalu banyak “berkoar”, “sombong”, dan “mengumbar janji”. Orang jawa bilang, “akeh uwong sik rumongso iso, tapi raiso ngrumangsani”. Banyak orang yang seolah-olah merasa bisa, tapi sebenarnya ia tidak pernah mau instropeksi diri. Seolah-olah bisa mewakafkan dirinya untuk orang lain, tapi ngurus keluarga sendiri nggak becus. Seolah-olah pengajian sana-sini, tapi banyak utang ke orang lain. Seolah-olah tau agama, tapi menjual agama hanya untuk “suara” dan “kekayaan” saja. Kenapa tidak ? Rasulullah juga mengatakan, ulama jahat (su’) akan muncul di akhir zaman.

Ngelmu kasunyatan juga mengajarkan kepada kita untuk “ora waton nekat”. Tidak grusa-grusu menjalani segala sesuatu karena semua resiko akan kita tanggung sendiri. Kenyataannya, banyak orang yang harus menderita, karena ia melupakan faktor perhitungan di atas kertas yang menjadi sebuah kemestian. Alih-alih berhitung dengan realistis, ia justru terlalu mengandalkan dalil agama. Padahal Allah SWT selalu mengingatkan kepada kita untuk tidak lupa menghitung-hitung, merencana, membuat planning. Coba lihat Q.S. Al Hasyr :18.  Percaya kepada Al Qur’an dan Sunnah adalah wajib hukumnya, tapi perhitungan di atas kertas pun wajib dilakoni. Masalah hasil akhir, serahkan kepada Sang Pencipta. Namun masalah proses, kitalah yang menentukan. Apapun jadinya, idealisme tanpa perhitungan yang jelas tentu hanya berujung pada akhir yang kurang menyenangkan.

Ngelmu kasunyatan, meski terkesan berbau klenik, sebenarnya mengandung nilai hikmah dan pelajaran yang cukup tinggi.  Bagi kita, hikmah adalah milik kaum muslim yang hilang. Maka ketika kita menemukannya, rebutlah ia, sehingga kembali menjadi milik kaum muslimin.

Bagaimana dengan Anda ?

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Kebersihan dan Berkah Sebuah Negeri
  • » [Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur
  • » Mari Memudahkan, Semoga Dimudahkan!
  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa’
  • » Kajian Ramadhan
  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah…
  • 4 Komentar to “Ngelmu Kasunyatan”

    1. narakushutdown Berkomentar:

      wah ra mudeng aku

      cukup dengan qur’an dan sunah saja lah saya,apalagi masih banyak sunah yg blm bisa saya lakukan

    2. ridwansalimsanad Berkomentar:

      betul juga ya…asal jangan katut yang klenik2 juga :D

    3. zoga Berkomentar:

      ilmu kasunyatan adalah ilmu yang teramat dalam, dan berdasarkan kenyataan tidak berbohong dan tidak mau dibohongi ibarat matahari jam 6 pagi di ufuk timur, dan jam 6 sore di ufuk barat tanpa bosan dari sebelum kita ada sampai sekarang, bahkan sampai tak terhingga, dan yang dibahas adalah yang benar benar ada/ nyata

    4. surya Berkomentar:

      ancen tnan mas.wng kuwi nyata bodhone.apa maneh babagan nglmu urip sing sejati

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya