Diposting pada February 13, 2008 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.
“Kewajiban Kita Lebih Banyak dari Waktu Yang Kita Miliki”
Kata-kata ustadz Hasan Al Banna itu, sekali lagi, terngiang di telinga saya saat menerima beberapa “gaweyan” minggu ini yang menyeruak dan seolah semuanya minta diprioritaskan. Beberapa pekerjaan riset, pekerjaan IT luar kampus, dan sebagian lagi beberapa kerjaan masjid kampung, seolah-olah semuanya menumpuk dan mengisi penuh daftar prioritas kerja yang harus selesai minggu ini. Kata seorang teman, seseorang yang sibuk adalah mereka yang mengerti bagaimana menghargai waktunya. Entah benar atau tidak perkataan ini, yang jelas, energi fisik dan pikiran tersedot habis jika kita tidak pandai mengelola “resources” kita yang hanya satu-satunya ini. Maka, beberapa orang yang serupa dan lebih sibuk pun segera membentuk tim kerja, dengan tujuan tak lain mendistribusikan beban kepada resource-resource yang ia miliki. Dengan konsep distribusi ini, beban mereka sedikit berkurang dan semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik. Nah, bagaimana jika kita tidak memiliki tim kerja dan memang belum selayaknya punya tim kerja ?
Satu-satunya cara adalah membuat daftar prioritas kerja. Prioritas kerja ini akan sangat beragam pada masing-masing orang, sesuai dengan parameter yang ia gunakan untuk menentukan prioritas kerjanya. Kalau sudah seperti saya yang “butuh duit dan nasi untuk menyambung hidup”, tentu ada geseran-geseran prioritas yang tidak bisa dihindari. Artinya, hal-hal yang sepertinya “pragmatis” memang menjadi permakluman jika seseorang sudah dihadapkan pada kondisi mendasarnya : menyambung hidup. Seorang teman saya, yang sering curhat dengan saya – kebetulan sudah berkeluarga dan punya anak satu, masih balita, dengan “ekstrim” berkata, “Kalau anak saya di-taujih (baca : dikasih nasihat) bisa kenyang, ndak perlu kerja saya. Lha, ini buat beli susu aja repot…”. ”
Hehehe….”, saya pun terkekeh mendengar keluhannya.
“Itulah seninya hidup, kang. Kalau nggak diuji ya ndak mungkin bisa naik kelas”, saya berseloroh dalam hati. Masalahnya, kita akan menyerah atau terus maju ? Pilihannya hanya ada satu : Surga itu mahal, maka jalan mundur harus dihindari, alias seberat apapun, kita tetap harus tetap di atas “rel” sampai syahid mengistirahatkan tubuh kita…..
Ya, al wajibat “pancen” aktsaru minal auqat …..
» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:
February 14th, 2008 at 5:22 pm
hahaha. bener banget, bang…
February 17th, 2008 at 4:43 pm
assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
yupz, sepakat banget. tinggal bagaimana kita memanajemen waktu dan prioritas.
sama terkadang kita memaksakan sebuah kemampuan, kemampuan satu amannah memaksakan diri dua amannah, ya akhirnya ga tawadzun dan menimbulkan banyak keluaha.. keluhan pribadi atau yang memberi amannah… (eeeh jadi ga nyambung)
saya suka artikelnya bang… salam kenal
wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu