Diposting pada March 25, 2008 | Awan: Iseng | oleh : sunu wibirama.
“Wibi, aduh piye tho ! Katanya kamu diterima di Bank Indonesia ya ? Koq nggak diambil kiy piye ?”
Budhe saya histeris sambil menepuk pundak saya. Gelagepan. Itu saja yang bisa saya katakan saat ketemu saudara-saudara jauh setelah sekian lama kami tidak bertemu. Ya, berita yang beredar di saudara-saudara saya memang simpang siur. Mungkin mereka mengira saya adalah peserta seleksi karyawan Bank Indonesia dan lolos sampai tahap akhir, lalu saya menolak tawaran BI. Padahal tidak. Sama sekali saya belum pernah ikut seleksi karyawan BI. Memang, sebelumnya ada seorang saudara di Jakarta yang menawari saya untuk bekerja di BI. Beliau berkata, kerja di sana menyenangkan karena masih ada kesempatan untuk kuliah lagi, di luar negeri, dengan biaya instansi. Saya pun hanya tersenyum waktu itu. Tidak mengatakan “menolak” terus terang. Takut melukai perasaan beliau.
Ya, bagi saya memilih kerja sama dengan memilih calon “nasi” yang akan masuk ke anak istri kita. Bagi sebagian orang, kerja di bank adalah tujuan dan tentu akan sangat menyenangkan berlimpah harta benda, hidup berkecukupan dan seterusnya. Namun bagi saya, dan orang-orang lain yang “sejenis”, kerja di bank tidaklah selalu berkonotasi “kaya”. Tidak ingatkah mereka, bahwa bank konvensional masih menerapkan praktik riba? Semua yang terlibat aktif di sana, tentu juga termasuk pelaku yang menyokong riba. Dan saya merasa bahwa masih ada pilihan pekerjaan lain yang lebih “aman” untuk perut anak dan istri saya kelak. Ini adalah pilihan, sekali lagi pilihan yang subjektif dan sangat tergantung dari sudut apa kita memandang dan menjalani hidup.
Budhe saya lalu melanjutkan kata-katanya, “Koq kamu malah jadi dosen sekarang ? Tahu nggak dik, dosen itu ngomongnya sak dos, gajinya sak sen….hahahaha”.
Gleg ! Saya cuma terdiam saat itu. “Kecut banget nih…” saya hanya berkata di dalam hati. Semua orang tahu, tenaga pendidik di Indonesia tidak pernah dihargai secara layak oleh pemerintah. Masih ingatkah Anda tentang kasus anggaran pendidikan di Indonesia ? 20% itu hanya omong kosong pejabat. Yang benar adalah, mereka memasukkan gaji pendidik ke dalam anggaran pendidikan dan secara otomatis setelah dihitung anggaran yang tadinya tidak sampai 20% itu melonjak sampai 18% ! Artinya ? Ya, jangan harap lab di Indonesia bisa seperti lab di luar negeri yang saling berkompetisi dan menghasilkan temuan-temuan ilmiah yang bermanfaat. Kembali ke ucapan Budhe saya tadi, memang benar realitasnya demikian. Dosen, bagi sebagian orang mungkin jabatan sosial yang cukup “wah”. Tapi bagi saya, tetap biasa saja. Bukan saya mengecilkan rejeki atau pemberian Allah, tapi status sosial tidaklah berpengaruh secara langsung terhadap kesejahteraan. Ini riil dan pasti. Apakah Anda menyangka pendapatan dosen (gaji pokok) jauh lebih tinggi daripada mereka yang menjadi pedagang gorengan, atau pemilik rumah makan ? Kalau Anda mengira ya, Anda tidak 100% benar. Dosen yang mampu membeli mobil, rumah dan segala macam keperluan lainnya mendapatkan tambahan penghasilan di luar gaji pokoknya. Istilahnya, mereka “ngamen” di luar. Inilah yang membuat riset universitas mandul. Mengapa ? Dosen harus memikirkan “perut” mereka terlebih dahulu sebelum memikirkan “majunya bangsa Indonesia”. Untuk mereka, mendingan ngejar proyek daripada riset nggak ada duitnya. Proyek, kerjanya nggak terlalu menguras energi sebagaimana riset, tapi duitnya lebih banyak. Celakanya lagi, banyak orang-orang birokrasi di Indonesia yang mencari makan melalui kerumitan birokrasi. Contoh : saya pernah menangani riset 1 Milliar yang dananya nggak sampai 10 juta saat sampai di jajaran pelaksana. Lalu, sisanya hilang ke mana ? Entahlah…. mereka sengaja memasukkan barang haram ke perut mereka dan keluarga mereka.
Menyedihkan. Dosen, ngomongnya sak dos, gajinya sak sen. Menyakitkan, tapi inilah hidup. C’est la vie, kata orang Perancis. Inilah hidup. Tanpa para pendidik, Indonesia hanyalah sebuah negeri barbar yang dikenal karena kekerasan dan kasus bom di mana-mana. Tanpa para pendidik pula, mereka tidak mungkin mengeruk kekayaan dari negeri sendiri dan menghambur-hamburkannya di negeri orang tiap akhir pekannya. Dan tanpa pendidik pula, tidak akan ada orang-orang yang rela mewakafkan dirinya untuk kemajuan bangsa dan negara, meskipun pengelola negara hanya memikirkan perut mereka sendiri. Bagi saya, sekali lagi, ini adalah pilihan dan tiap-tiap pilihan mengandung resikonya masing-masing. Apakah menjadi kaya itu selalu menyenangkan ? Bisa ya, bisa tidak. Ya, kalau zakat lancar dan istiqomah tidak menggunakan kekayaannya untuk melanggar ajaran agama. Syukur bisa menjadi salah satu kunci pintu surga. Tidak, kalau ternyata kita tidak “kuat” menyangga rejeki yang digelontorkan Tuhan kepada kita, alias jadi lupa diri. Yang jelas, tiap-tiap sen akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Semakin banyak sen yang dimiliki, semakin lama pula pengadilannya……
» Diposting pada awan Iseng. Artikel lainnya pada awan ini:
March 25th, 2008 at 9:12 am
iya bro..
bukan hanya jumlah gaji. atau prestise pekerjaan.
tapi jenisnya. jenis pekerjaan juga menentukan jenis rupiah yang kita dapat..
March 25th, 2008 at 1:04 pm
welcome to the club bro..
March 26th, 2008 at 3:46 am
@fikri
yup….yang jelas, kepuasan batin…itu aja sih. Tidak semuanya dinilai dengan uang, meskipun untuk hidup kita butuh uang…
kalo filosofi jawanya sih : “bondho iku mung sampiran” (halah..opo meneh)
March 26th, 2008 at 4:19 am
dan “urip iku mung mampir ngombe..” lha tinggal milih, mau minum apa? minuman yang enak tapi berakibat buruk untuk kesehatan? atau minuman yang pahit tapi menyehatkan? (ya tergantung kalau ada yang ngomong, minuman yang enak dan menyehatkan..)
btw, selamat untuk kita semua. hari ini hari kemenangan, dan awal dari perjalanan kita..
March 26th, 2008 at 4:26 am
@fikri….
yup …selamat-selamat…..
akhirnya sudah diakui secara legal formal keberadaan kita di Teknik Elektro UGM…
untuk yang mampir ngombe…suk aku nek ngajari anakku ora mampir ngombe ah. Sik bener ..urip iku mampir ngaji. Lha nek mampir ngombe po ra mabuk kabeh ngko ….wekekekek ….
March 26th, 2008 at 10:18 am
Kok mirip dengan pegalaman saya. Dulu saya ketrima di sebuah bank, tapi saya tidak jadi masuk. Pertimbangannya juga karena meragukan kehalalannya. Dalam hati saya berujar, “Kalau yang sudah gamblang begini saja dilanggar, bagaimana dengan yang samar-samar? Pasti dilibas deh”. Akhirnya saya memilih kerja dengan gaji se “sen” itu.
March 26th, 2008 at 2:03 pm
oohh… ngono to mas. ya ya ya.
“C’est la vie,” lagi reti aku.
March 26th, 2008 at 4:34 pm
hmm
jadi dosen salah satu obsesi saya pak…
tapi kalau udah punya perusahaan sendiri
: )
mueheheheheheh
March 26th, 2008 at 5:13 pm
Semoga, Sertifikasi Dosen yang nantinya digelar dapat meningkatkan income dosen ya…
Saya teringat cerita salah satu sodara yang seorang dosen tentang tiga rekannya yang ‘mendadak kaya’, mampu membeli mobil baru dan rumah baru. Usut punya usut, dana yang digunakan hasil dari ‘proyek luar’.
Lain lagi dengan sodara ipar saya, yang terang2an ditawari proyek menguntungkan dari instansi resmi dengan bayaran senilai Xenia. mendekati hari H, ia nekad menolak meski tetap ditahan2. “Ternyata, aq harus membantu jawaban ujian para guru yang dikuliahkan oleh instansi itu”.
gLod@k, gedubuG!@#$!?!…. Nah Loh… guru, dosen adalah pendidik kita, generasi penerus bangsa….
semoga tetap istikomah
March 27th, 2008 at 1:13 am
Dari postingan ini saya bisa melihat ketangguhan prinsipmu
Lebih memilih jadi dosen ketimbang jadi birokrat
Hampir sama dengan prinsip saya
Ketika ditawari menjadi dosen saya malah lebih memilih jadi pedagang kaki lima.
Salam kenl!
March 27th, 2008 at 1:59 am
kalo semua perhitungan dan pertimbangan berdasar uang dan prestise apa beda kita(sebagai seorang muslim) dengan kaum lain?ya to?
March 27th, 2008 at 2:59 am
Hidup guru!
aku juga cita-cita menjadi guru….
March 27th, 2008 at 5:46 am
BaraKallah and WeLcome to my CluB hehe..
March 27th, 2008 at 6:08 am
@all
makasih atas apresiasinya…dukung terus peningkatan dana untuk sarana pendidikan !
@dina

Matur nuwun…heheh….
Iya nih mbak. Join to the club akhirnya …
March 27th, 2008 at 7:27 am
apa yang njenengan sampaikan, juga hampir mirip dengan pengalaman batin saya beberapa tahun belakangan setelah saya memutuskan resign kerja dan kuliah lagi..untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan…dan ternyata subhanallah…walaupun ngomong sak dos gaji sak sen….hidup saya lebih tenang dan berarti….jadi ternyata saya tidak sendiri ya…berjuang meniti komitmen untuk mengabdi. keep istiqomah…by indah http://www.piliyanti.multiply.com
March 27th, 2008 at 9:16 am
Salam kenal pak Sunu,
Tentang definisi bunga = riba, saya pikir menarik untuk mendiskusikannya lebih jauh. Terlepas dari fatwa MUI yang sudah menyatakannya riba pada tahun 2004 dimana inti alasannya ada 3 (diambil dari http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=130):
1. Bunga (Interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang di perhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut,berdasarkan tempo waktu,diperhitungkan secara pasti di muka,dan pada umumnya berdasarkan persentase.
2. Riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi karena penagguhan dalam pembayaran yang di perjanjikan sebelumnya, dan inilah yang disebut Riba Nasi’ah.
3. Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada jaman Rasulullah SAW, Ya ini Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya.
Saya tidak paham dengan argumen MUI ke-1 yang mempermasalahkan tambahan pengembalian utang dari pokok vs. dari manfaat utang tsb (equity). IMHO, ketika calon debitur sepakat dengan suku bunga utang yang ditawarkan dan berjanji menyanggupi untuk membayarnya di kemudian hari utang pokoknya ditambah bunganya, si calon debitur seharusnya sudah meprakirakan profitabilitas usahanya apakah cukup untuk membayar utangnya di kemudian hari. Kalau prakiraan bisnisnya meleset (merugi), bagaimana si debitur mempertanggungjawabkan hal ini kepada bank maupun kepada penabung tanpa collateral (jaminan)? Masalah ini pun bakal dihadapi produk perbankan syariah sekalipun berbasiskan equity.
Saya juga tidak paham mengapa adanya tambahan bila terjadi penangguhan dikategorikan riba. IMHO, tambahan tersebut memberikan disinsentif kepada debitur supaya jangan sampai lalai membayar utangnya pada waktunya. Agak mirip dengan argumen saya di atas… Kalau tidak boleh ada tambahan akibat keterlambatan, bagaimana debitur mempertanggungjawabkan masalah keterlambatan pembayaran utangnya kepada bank dan kepada penabung?
Untuk kriteria ke-3, hasil googling menemukan definis riba nasi’ah, yaitu riba sebagai akibat adanya tambahan tanpa mempertimbangkan risiko. IMHO lagi, dari sisi calon debitur, yang bersangkutan tentunya sebaiknya menimbang-nimbang berbagai risiko ketika akan mengajukan kredit. Dari sisi bank, bank pun meminimalisir risiko default, misalnya mensyaratkan cash flow calon debitur minimal 3x cicilan utangnya, dan syarat-sarat lainnya. Dalam teori pun disebutkan bahwa pertimbangan investor dalam memilih obligasi jangka pendek atau jangka panjang, suku bunga obligasi jangka panjang paling tidak harus sama dengan rata-rata suku bunga obligasi jangka pendek ditambah premi risikonya (risiko likuiditas).
Jadi, agaknya antara teori ekonomi klasi dan syariah ada kesamaan pandangan. Hanya saja antara keduanya jarang ngobrol, sehingga masing-masing beranggapan yang satu sangat berbeda dengan dirinya.
March 27th, 2008 at 9:28 am
Mau ikutan rembuk lagi masalah kehidupan dosen pak Sunu… boleh ya? Saya sendiri pun mengalami masalah yang sama. Saya pribadi kalau sedang tidak ada lahan buat ngamen, akhirnya mencari penghasilan dari sumber yang pasti (baca: perbanyak kuantitas kelas yang diajar, kalau bisa kelasnya saja yang banyak dan tidak diikuti jumlah mata kuliahnya). Alhasil dosen tersita waktunya untuk menyiapkan bahan mengajar, mengajar, memerika tugas, dan memeriksa hasil ujian. Selesai semester ganjil, belum selesai memeriksa berkas ujian akhir, sudah mulai sibuk dengan proses belajar mengajar semester genap. Tadi malam saja saya terpaksa harus begadang buat membaca skripsi yang akan diuji esok harinya.
Kalau kata bang Rhoma: “Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya.”
Kalau kata dosen yang jam mengajarnya banyak: “Begadang terpaksa begadang, karena dari situlah uangnya.”
Miris memang.. karena kalau dihitung-hitung, jumlah jam kerja dosen dari sekedar mengajar memang tidak sebanyak jam kerja pegawa kantoran normalnya. Tetapi kalau menghitung jam kerja pekerjaan-pekerjaan yang tidak kelihatan, sampai seringkali harus membawa kerjaan ke rumah sampai begadang. Upah dosen per jamnya kelewat murah. Jangan-jangan nantinya dosen sering sakit-sakitan di usah tuanya gara-gara waktu masa produktifnya, tenaganya terpaksa diperah habis-habisan.
Cicilan rumah belum lunas, badan sudah sakit-sakitan…
Just my 2 cents
March 31st, 2008 at 8:02 am
wah omedetou ya surat saktinya dah turun
welcome to the club
anyway, sepakat dengan yang ditulis oleh dek sunu… it’s not about the money we get, but it’s about what we give and feed to our children and wife. isn’t it?
semua kan tergantung dari niatnya… insya Allah dengan jumlah yang tidak terlalu banyak tapi ternyata barakahnya lebih melimpah dari gaji yang berlimpah ruah,itu bisa saja terjadi… wallahu’alam
April 1st, 2008 at 1:48 am
hehehe….hai’ arigato gozaimasu, senpai …
alhamdulillah mas…prosesnya lebih cepat dari yang saya kira. Minimal sudah ada pengakuan yuridis yang resmi gitu. Sekarang tinggal berbuat yang terbaik dan tetep belajar …..
April 1st, 2008 at 3:29 pm
akhirnya ada juga person2 yg tetep berjuang dan bersikap
professional untuk menjadi guru. Insyallah,
pendidikan di Indonesia akan maju apabila
para guru2 di Indonesia seperti anda2 ini
April 2nd, 2008 at 5:16 am
I totally agree with u…”money is important but money isnt everything”…
yg mengaburkan esensi pendidikan itu sendiri, bahkan oleh para pendidiknya…
Tapi di lingkungan pendidikan sendiri masih byk ‘kerumitan birokrasi’ (sy kutip istilahnya
Semoga semua dosen bs istiqomah spt anda…Amin…
Salam kenal dr yg punya gawe sama…’ngomong sak dos, gaji sak sen….
April 22nd, 2008 at 2:08 am
Assalaamu’alaikum
Sip Mas, kita mainnya “cantik” aja, jangan yang nyerempet2 (istilahnya Rasul) “daerah antara bayangan dan cahaya”. Kalo istilah dagangnya, “duit dari dagang sama duit sendiri kagak boleh dicampur”…
Atau mau ngikut saya aja Mas, jadi pengedar, eh.. pedagang?