Ngantri Dech…

Diposting pada April 15, 2008 | Awan: Waton_nggasruk | oleh : sunu wibirama.

Barusan nonton acara Good Morning di Trans TV, yang menyiarkan acara ngantri pembagian migor (minyak goreng) bersubsidi di Pekojan, Jakarta. Pekojan adalah salah satu kelurahan terpadat di Asia Tenggara dengan 34.000 warganya. Fyuuh, TERPADAT se-Asia Tenggara lho! Hebat nggak tuh, hehe. Harga migor di pembagian tersebut 9000 rupiah, selisih 3000 rupiah dengan harga toko. “Lumayan ya, Bu. Selisih 3 ribu perak, bisa buat jajan”, kata Rieke Dyah Pitaloka dengan jenaka saat mewawancarai salah seorang peserta ngantri berjama’ah ini.

Saat menonton acara itu, saya teringat ibu saya yang belum lama ini muring-muring (marah) karena harga minah (minyak tanah), saudaranya migor, naik drastis ke harga 8500 perak per liter dan sekarang nyampe 10 rebu rupiah. Pemandangan ngantri ini mungkin hanya dijumpai di Indonesia, di mana ibu-ibu yang ngantri migor ini menjadikan acara ngantri sebagai ajang ngerumpi bareng. Mereka tidak lagi peduli dengan berita PILKADA Jabar yang spektakuler, berita korupsi anggota DPR, berita kisruh kyai dan kadernya di sebuah parpol, atau bahkan berita-berita selebriti yang goyang dangdutnya semakin ‘pethakilan’ meskipun tahu ia menjadi publik figur. Apa mau dikata, hidup sudah semakin susah. Merantau di ibukota tanpa kemampuan dan skill yang tinggi sama saja dengan bunuh diri. Beberapa rekan kuliah yang kemarin diwisuda, sekarang merasakan iklim pertarungan mencari kerja yang sangat sengit. Kata teman saya, “Gila, sekarang cari kerja aja keluar modal banyak. Kalau dihitung-hitung, sama dengan gaji dua bulan PNS. Untuk naik kereta ke Jakarta pas tes wawancara, biaya makan, biaya administrasi, dan masih banyak lagi”.

Kembali ke acara ngantri tadi, ada yang menarik saat Rieke Dyah Pitaloka bertanya kepada Pak Lurah. Pak Lurah merasa bahagia karena warganya mendapatkan jatah secara merata. Coba bayangin kalo nggak rata? Bisa kena timpuk kan Pak Lurahnya. Sikap seperti ini, sayangnya, hanya dijumpai di pejabat ranah bawah. Itupun sangat jarang. Ya, mungkin karena margin gaji mereka dengan pendapatan penduduk nggak jauh beda, jadi saat kena imbas inflasi ekonomi mereka juga kena getahnya. Coba bandingin sama pejabat di tingkat atas. Anggota DPR yang terhormat, misalnya. Mereka diberi gaji pokok yang cukup tinggi, sudah begitu ada tunjangan ini, tunjangan itu, tunjangan anu, tunjangan A, B, C, D yang kalau ditotal bisa 5 kali lipat gaji pokok. Itu belum dihitung korupsinya, lho. Nggak heran, banyak yang napsu banget jadi pejabat publik. Mau nggak mau, faktor duit jadi magnet utama. Sayangnya, negara ini sampai umurnya yang udah nggak muda lagi masih bodoh banget untuk urusan instropeksi sistem birokrasi. Maunya rumit melulu, nggak dipermudah. Kalau semakin mudah, semakin banyak birokrat yang nggak makan. Negara Perancis adalah contoh negara yang birokrasinya simpel dan adil. Margin gaji pejabat di sana nggak jauh beda dengan gaji profesor di perguruan tinggi. Bahkan, para profesor ini bisa mendapatkan lebih jika ia berhasil mematenkan hasil penelitiannya. Gaji pegawai yang paling rendah, katakanlah 2 juta rupiah dan gaji pegawai yang paling tinggi 5 juta  rupiah. Selisih 3 juta ini tentu sesuai dengan prestasi mereka. Begitu pula Jepang. Mereka menerapkan intensif yang sesuai dengan prestasi mereka, termasuk pula di kalangan pejabat. Jadi pejabat yang ngantukan, apalagi seneng makan gaji buta, nggak bakalan bisa hidup di Jepang. Dengan menerapkan kebijakan keras seperti ini, mereka merasa memiliki negara mereka karena diperlakukan dengan adil, sesuai dengan prestasi kerja mereka. Bahkan jika mereka berbuat salah, mereka akan mundur dengan kesadaran sendiri. Nggak kayak di Indonesia. Udah jelas ketangkep basah nerima uang suap. Malah nuntut balik KPK. Mau dikemanakan tuh muka, coy? Harakiri aja deh sono, pinjem pistol pak pulisi…..

Ya, ngantri adalah fenomena untuk negara sekaya ini. Ada semacam separatisme antara kenyataan dan impian. Separatisme emosional yang lebih dulu muncul sebelum separatisme geografis, kalau kata Pak Anis Matta. Di buku pelajaran SD, kita dicuci otak untuk mengingat negara kita kaya raya dan gemah ripah loh jinawi. Tapi sayang, anak-anak SD sekarang sudah lebih pinter dari jaman saya dulu. Mereka merasakan realitas yang lebih pahit karena nggak sedikit di antara mereka yang harus kerja keras membantu ekonomi keluarga. Dengan kondisi seperti itu, nggak heran kalau mereka lebih kritis dan cepat dewasa.

Ngantri juga memberikan pelajaran yang berharga kepada negara karena sampai 63 tahun umur negara ini, umur yang cukup untuk mengatakan seseorang itu tua, negara belum bisa menjamin kesejahteraan rakyatnya seperti ada di pasal UUD yang sudah saya lupakan itu. Ngantri juga bisa jadi olok-olok di kalangan pejabat, karena mereka lebih memilih menyuruh babunya untuk ikut ngantri daripada terjun sendiri di lapangan. Mungkin takut kulitnya gosong dan ditonjokin penduduk kalau ikut ngantri. Apapun alasannya, fenomena ngantri adalah sesuatu yang menarik di tengah masyarakat kita, terutama ngantri minah dan migor loh ya, bukan ngantri tiket Ayat-Ayat Cinta! Nggak usah muluk-muluk ini itu, mikro makro, blabla blibli. Program yang diinginkan rakyat tuh sederhana aja koq : lapangan pekerjaan dan harga bahan pangan murah, tersedia secara merata di Indonesia.

Salam,

dari yang di-”uring-uring” ibunya, karena harga minah naik….
(lho, opo hubungane?)

» Diposting pada awan Waton_nggasruk. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Zakat Mall
  • » Ngomong Sak Dos, Gaji Sak Sen
  • » Chinca Lawra
  • » Wake up ...
  • » Don't Visit Malaysia 2008
  • » Malaysia = Maunya Kalo Awak Kayak Indonesia
  • » Ribut-Ribut Aliran "Karya Intelijen"
  • » FUTUR PASCA KULIAH
  • 3 Komentar to “Ngantri Dech…”

    1. syaamil Berkomentar:

      Sami mawon. Malahan kalo antri harus nunjukin KTP segala. Yang pake kompor gas juga ndak ketinggalan.Udah pesen, e..pas mo diambil udah di beli orang. He.he. jadi ikutan uring-uringan nih..habisnya udah seminggu ini kompor gas nganggur, minah juga langka. Sampe-sampe jatah susu si Jundi jadi berkurang. Kayak jaman perang aja ya…Pemerintah kita kayaknya kejar setoran nih..menjelang pemilu.

    2. Yan9n Berkomentar:

      hmmm… jangan salah loh, di teknik industri sampe dipelajari loh yang namanya teori antrian hehehe…

      di jepang budaya mengantri kayaknya udah biasa banget, dan kayaknya mereka (orang jepang) ndak banyak protes apalagi uring-uringan… misal mau naik kereta aja antri bikin barisan, mo masukin tiket di mesin tiket pun mereka ngantri… dan ga protes, bahkan yang lucu tadi pagi di perempatan ohashi, ada mobil yang ngantri buat belok ke kanan, padahal sebenernya bisa ambil kanan… sampai panjang berderet-deret, ada sekitar 5 sampai 6 mobil berderet dari sebelah timur mau ke utara, dari barat ada bis dan 2 mobil (berderet juga) dari barat mau belok ke selatan… dan mereka ndak ada yg nyerobot… sugoi na…

    3. riura Berkomentar:

      yup, ngantri merambah ke segala “bidang”
      bu kosq juga sibuk me-list jadwal antri minah
      “iya mb…skrg d gang 2″
      “kmrn d tokonya bu xxx”

      mas, knpa siy pejabat kaya g punya mata, kuping bwt liat derita rakyat?
      ‘n … bener ga siy da mafia yg emang menciptakan suasana kisruh, bikin suasana minah langka, migor mahal, kedele susah dll?
      bwt persiapan 2009 gitu???

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya