La Yukalifullahu Nafsan illa Wus’aha …

Diposting pada April 30, 2008 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

 

Kalimat itu barusan kami perbincangkan. Saya dan teman akrab saya, seorang penggiat IT juga, seringkali merasa “kering” dalam hati dan kadang merasa bahwa banyak sekali “threat” yang harus kita lewati. Ntah kenapa, teman saya kemudian iseng buka-buka Qur’an dan membaca beberapa ayat terakhir dari surah Al Baqoroh. Ada beberapa ayat yang bercerita tentang ujian dan batas-batas kesanggupan manusia untuk melewatinya. Ayat tersebut sebenarnya banyak dibaca di MTQ, tadarusan keliling, atau bahkan menjadi selipan materi-materi ceramah khatib jum’at. Namun, tiap-tiap ayat Alqur’an itu memiliki makna yang luas dan tak terduga. Kadang, satu ayat bisa memberikan kesan yang berbeda terhadap masing-masing manusia. Tergantung bagaimana mereka menyikapi dan menguji dirinya dengan petunjuk robbani itu.
Ayat yang menjadi judul di atas, bisa diartikan “Manusia tidak akan dibebani (atau diuji) kecuali sesuai dengan kemampuannya”. Kalau dibalik pengertiannya, sebenarnya tiap-tiap manusia mampu melewati ujian hidup dengan berbagai macam cara dan kemampuan yang mereka miliki. Yang membedakan masing-masing dari mereka adalah, apa dasar yang mereka jadikan pegangan untuk melewati ujian tadi? Kafir atau tidak, Islam atau bukan, manusia selalu dihadapkan pada masalah-masalah, karena dengan masalah itulah mereka akan tumbuh secara fisik dan mental. Abu Jahal dan Umar bin Khatab adalah dua orang yang merasa bermasalah dengan kelahiran bayi perempuan dari istri mereka. Yang berbeda adalah, bagaimana mereka menyikapinya. Terkadang, menyikapi sesuatu dengan komitmen robbaniy mengandung konsekuensi yang cukup berat, dan dari sanalah surga dibayar. Menyikapi ujian hidup dengan membuka Qur’an adalah sesuatu yang mungkin tidak terlalu biasa bagi rekan saya, yang notabene bukan didikan pesantren atau penganut manhaj jama’ah tertentu. Tapi kemampuan menyarikan hikmah Qur’an itu bukan monopoli lulusan Al Azhar, meskipun dengan ilmu agama, jaminan seseorang untuk menelaah Qur’an dengan benar adalah sebuah keniscayaan. Masalahnya adalah membuktikan dan menerapkan Qur’an dalam hidup, sebagaimana para sahabat belajar menghafal ayat demi ayat. Karena hal itulah, para sahabat hafal Qur’an menjelang wafat mereka. Tidak instan, dalam waktu 2-3 tahun. Ya, karena mereka praktikum dan kuliah sekaligus. 
Belajar menghadapi hidup dengan Qur’an sebagai pegangan. Kelihatannya sesuatu yang sudah berkali-kali kita dengarkan. Tapi, coba deh kita baca lagi ayat-ayat dan teguran lembut dari Allah SWT. Ternyata, kita bisa koq menghadapi ujian-ujian dari Allah SWT, asal kita percaya dan mem-faqir-kan diri di hadapan Allah. Barangkali, kita saja yang terlalu cepat putus asa, atau terlalu cepat berpikir negatif. Padahal, kita belum melakukan apapun. Ya, masalah ekonomi, pekerjaan, atau biaya kuliah adalah masalah yang biasa kami ceritakan sebagai bahan obrolan, di tengah semakin susahnya hidup di Indonesia. Itulah yang membedakan kita dengan orang-orang lain. Seorang muslim seharusnya terus berkata di dalam hati, “Haram hukumnya putus asa…, dan berdosalah orang yang berputus asa dari nikmat Allah…”
NB : buat rekan-rekan yang masih belum menemukan “pijakan” yang pas paska kuliah, atau buat mereka yang masih harus berjuang untuk lulus kuliah, ayo semangat kang, mbakyu … Eh, doakan juga kami ya, muga2 tetap istiqomah …. :) 

 

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Kebersihan dan Berkah Sebuah Negeri
  • » [Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur
  • » Mari Memudahkan, Semoga Dimudahkan!
  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa’
  • » Kajian Ramadhan
  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah…
  • 6 Komentar to “La Yukalifullahu Nafsan illa Wus’aha …”

    1. itsuki Berkomentar:

      Setuju buat pemikirannya…
      Apa yang musti jadi pegangan kalo qta pas diujung tanduk?
      ALLAH dan RasulNya
      Saya yakin qta akan selamat nantinya kalo tetap berpegang teguh pada hal itu…
      Apa yang sebaiknya ada klo qta sedang di ujung tanduk?
      Teman yang menjadikan hidupnya adalah untuk beribadah padaNya, BUKAN sembarang teman…
      Sahabat yang akan menuntun qta kembali kepadaNya jika qta berpikir bodoh dan gelap, BUKAN sahabat yang lain….
      Kemudian…
      Hati yang Ikhlas…

      Setelah ujian itu selesai, dan qta melaluinya dengan tetap beristiqomah padaNya, saya yakin qta akan jadi tambah ‘canti’, tambah ‘cemerlang’ dihadapanNya…

      Gambatte ne!!!
      :)

    2. chuanwei Berkomentar:

      ========
      ========

      KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SINI: http://www.leoxa.com/
      (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

      ========
      ========
      rame yang udah berpindah daripada blog-blog lainnya ke blog Leoxa.com karena theme yang keren

    3. sunu wibirama Berkomentar:

      hehehe….
      bukan theme-nya, tapi kontennya yang penting…
      thanks for your information

    4. syaamil Berkomentar:

      Apakah itu artinya semakin banyak kita berinteraksi dengan al Qur’an maka Qur’an juga akan mengungkapkan lebih banyak rahasia ilmu yang kepada kita?
      Mencoba menangkap firman Allah, dengan modal kemampuan yang ada pada diri kita. Merasakan nikmatnya senikmat yang dirasakan oleh para pecinta al Qur’an.
      Meski hati ini terkadang berat, berat sekali walau untuk sekedar menggugurkan kewajiban (minim 0.5 juz sehari semalam) Kenapa justru terasa ringan, enjoy, dan haus kalau untuk membaca Harry Potter misalnya( dibelain tengah malam buta begadang buat ngabisin episode per episode)
      Ya Allah inilah yang mendera hatiku selama ini, yang membelenggu jiwaku (bahkan berancang-ancang mau menolak tugas murrobi yang menugasi bikin presentasi masalah yang berhubungan dengan al Qur’an dengan alasan belum ada ide).
      Mana semangat mengqatamkan 2 juz/hari di saat ramadhan itu?

    5. amai ichigo Berkomentar:

      konnichi wa… watashi wa ‘ichigo’ desu ^^
      hajimemashite

      alhamdulillah, tulisan di atas bnr2 ‘kena’ bgt di hati semua orang (yg msh hanif tentunya)

      emang ‘kelakuan’ manusia; selalu menganggap masalahnya yg paling berat sedunia. padahal kalo mo sdkt nengok ke bawah, masih banyak yg lbh berat masalahnya dr qt.

      apakah intinya qt tdk bersyukur?

      (mgkn bkn tdk bersyukur, blm bersyukur tepatnya, atau ga sadar bhw dirinya hrs bersyukur? entahlah…)

      sy pernah bertanya-tanya (ehm, numpang curhat dikit, niy.. ^^)

      kenapa ya, kok ada manusia yg jalan hidupnya lurus bgt? blm lulus kul dah kerja, gaji selangit, jalan membentuk ‘negara kecil’ lancar, dsb.. dsb..

      apa sy iri? dosakah sy?

      namun, jawaban dr seorang teman bagaikan embun yg mengenyahkan jelaga di hati ini.

      “yaaah… anggap aja elo dan dia sama2 pergi ke Bandung, start dr Jakarta. tp dia lwt tol Cipularang, elo lewat Puncak. jalan dia cepat, mulus, tp bosenin bgt pemandangannya. sedangkan jalan elo emang lama, menanjak, berliku, tp pemandangannya indah bgt. so, elo jd punya lbh banyak cerita & lbh banyak pengalamannya. asyik kan?”

      well, kalo dipikir2 lg emang bener c.

      “Live is like strawberries, sour but sweet..”

      TERUSLAH MENDAKI ! ^^

    6. sunu wibirama Berkomentar:

      @amai ichigo…

      hai, douzo yoroshiku …
      yah…sekedar share pengalaman pribadi aja sih. Sebab, kalau kita sering melihat “ke atas”, kita bakalan “jatuh terjerembab” dan kalau melihat “ke bawah” terus, bakalan “kejedot jidat” kita… bersyukur adalah salah satu cara untuk terus mempertahankan semangat berkarya

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya