Diposting pada May 24, 2008 | Awan: Having Fun, Iseng, Motivation, Tulis Menulis, qalbu | oleh : sunu wibirama.
Pengarang : Asma Nadia
Halaman : 220
Penerbit : Lingkar Pena Publishing
Harga : Rp. 36.000
Eits…judul di atas adalah judul buku yang dikarang Asma Nadia lho. Buku keren ini ternyata bukan sekedar buku bacaan biasa. Ceritanya gini, udah 4 hari ini saya di Jakarta untuk mengurus visa keberangkatan ke Thailand dan menginap di rumah seorang kakak sepupu saya. Atas kebaikan hati beliau dan keluarga, saya diperbolehkan untuk membaca koleksi buku-buku dan majalah beliau. Mata saya kemudian jelalatan menjelajahi lemari buku dan saya tertarik pada sebuah buku bersampul biru di tengah buku-buku lain yang ukurannya jauh lebih besar dari buku itu. Saat saya tarik dari raknya, saya langsung melihat foto besar Mbak Asma dan cover bertuliskan kalimat yang sama dengan judul artikel ini. Hmm…..it’s quite interesting.Kayaknya keren nih bukunya, untuk menemani saya sebelum tidur. Daripada nggak ada kerjaan,hehehe… Pasalnya buku-buku lain di rak tersebut adalah buku-buku sosial nggak jelas yang tebel dan ‘nggak masuk’ buat saya. Satu-satunya bacaan di sana yang masih bisa diterima logika saya, selain surat kabar, adalah buku ini.
Saya bukan tipikal kutu buku, meskipun beberapa kali saya membaca buku-buku serius secara ‘one stop reading’ alias langsung habis dalam sekali baca. Buku-buku yang seperti ini biasanya saya beri ‘two thumbs up’ karena secara konten sangat menarik dan memberi input yang banyak. Nah, begitu saya membaca daftar isi bukunya Mbak Asma ini (seperti biasa, hal yang saya lakukan sebelum membaca buku adalah melakukan simple scanning dengan membaca daftar isi buku itu) langsung saya ‘jatuh cinta’ dan penasaran untuk membacanya. Buku seperti ini termasuk di luar kebiasaan dan selera baca saya soalnya. Paling banter, untuk yang urusan “seputar keluarga” kayak gini adalah buku-buku Yusuf Qardhawi dan kang Arif Nursalim (Salim A. Fillah) saja yang pernah saya baca. Selebihnya, buku-buku komputer, cerita-cerita Islami, dan bahasa-bahasa “aneh” yang nggak bakalan semua orang suka…
Saat saya menjelajahi isinya, wah ternyata berkisah tentang cerita-cerita kehidupan berkeluarga yang cukup beragam. Sebagian besar dari cerita tersebut memang hasil curhat rekan-rekan Mbak Asma sendiri. Mbak Asma yang dikenal sebagai penulis cikal-bakal novelis Islami ini sepertinya memiliki stok empati yang cukup besar, sehingga hasil cerita rekan-rekannya tadi berhasil dibukukan. Masalah yang dibahas, sebagian besar adalah masalah perceraian dan kisah kisruh rumah tangga yang keseharian dan sangat mungkin terjadi di sekitar kita. Masalah seorang pria yang memiliki wanita idaman lain, keinginan untuk berpoligami, sampai seorang ikhwan yang ketahuan istrinya memiliki AIL (akhwat idaman lain) dikupas di buku ini, lengkap dengan beberapa penggalan dialog dan metafora yang menarik. Semua cerita adalah kisah nyata dan inilah yang menyebabkan saya sangat tertarik untuk memasukkannya dalam kategori ‘one stop reading’ saya. Dalam waktu 4 jam, saya melahap habis isinya dan menemukan sebuah kesimpulan yang barangkali sangat subjektif :
1. Buku sejenis berbahasa Indonesia barangkali belum ada dan inilah yang membuat buku ini menjadi Best Seller. Kalaupun ada, yaa..barangkali sayalah yang kuper dan belum membaca buku sejenis, hehehe…..
2. Permasalahan pernikahan dan konselingnya sepertinya belum dianggap serius di masyarakat Indonesia secara umum. Aktivis yang membela wanita karena urusan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) banyak, tapi untuk urusan Islamic Family Consulting kayaknya belum dilirik sebagai sebuah tren yang menjanjikan (di Jogja juga ada, tapi belum banyak). Padahal permasalahan keluarga yang dibahas di buku ini sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita. Mulai dari masalah ekonomi, parenting, WIL, PIL, KDRT, sampai dengan urusan santunan untuk janda. Masalah ini pula yang melatarbelakangi retaknya biduk rumah tangga para narasumber di bukunya Mbak Asma Nadia ini.
3. Beberapa subjek yang disorot Asma Nadia di sini adalah kalangan aktivis dakwah. Ini jelas, dengan penyebutan istilah-istilah “ikhwan”, “akhwat”, “Al Ma’tsurat” dan seterusnya. Permasalahan keluarga aktivis ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan yang kita bayangkan. Namanya juga manusia. Dan di buku ini sangat tampak, bahwa sorot mata tajam kesalahan ditimpakan kepada suami. Hmm….parah juga ya? Apakah karena “proses awal” yang keliru dan dipersulit? Wallahu a’lam. Maunya sih ikhlas dan totalitas, tapi karena tanpa perhitungan dan hanya modal semangat akhirnya para pelaku ini menemukan kesulitan di tengah perjalanan rumah tangganya. Kira-kira inilah yang dipotret Mbak Asma dalam buku ini. Untuk urusan ini, Mbak Asma menekankan kepada pembaca untuk tetap bersyukur dan bersabar, terutama untuk mereka yang sudah berkeluarga selama belasan tahun.
4. Untuk urusan pilihan kata-kata, saya cukup menaruh apresiasi ke Mbak Asma. Ya, buat saya yang nggak terlalu suka bacaan-bacaan “puitis”, buku ini bisa menyihir saya selama empat jam karena cerita-ceritanya yang bikin saya penasaran. Urusan metafora, jelas tidak sesulit Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata atau bukunya Almarhum Bapak Rahmat Abdullah. Tapi mudah dipahami koq, tanpa harus melongok glosarium di akhir buku.
Walhasil, buku ini lumayan juga menambah wawasan saya. Meskipun cuma didapatkan dengan iseng dan tanpa modal (ya, cuman “ngiras”, minjem punya kakak) tapi untuk kamu yang memang hobi koleksi buku keren, buku ini recommended deh (nggak cuma untuk mbak-mbak aja lho, mas-mas juga boleh baca koq). Satu hal yang saya kagumi untuk penulis-penulis sekelas Mbak Asma : empati yang besar dan paparan hasil dokumentasi yang menarik.
Menteng Raya 58,
22 Mei 2008
» Diposting pada awan Having Fun, Iseng, Motivation, Tulis Menulis, qalbu. Artikel lainnya pada awan ini:
May 25th, 2008 at 10:54 pm
ada juga y mas2 baca buku melow..
ternyata kriteria dien kudu bener2 jadi prioritas, biar g goyah menuntaskan cobaan2 hidup, jeh
dan label “ikhwan/akhwat” not guarante untuk soal dien itu…
sedih pas baca bagian selingkuhnya suami,
May 27th, 2008 at 5:54 am
kirain…
tadi pas baca judulnya… jadi mikir, sejak kapan ya sunu jadi istri huehehe
ndak baca tulisan resensinya hehehe
May 27th, 2008 at 11:26 am
bang sunu, kebetulan saya lagi nitip nyari buku2nya alm ustad rahmat abdullah ke temen di jogja. bisa kasi referensi toko buku yg mungkin ngejual buku2 itu?
May 28th, 2008 at 2:38 am
Ustadz Rahmat ya…
hmm…biasanya sih saya cari-cari buku di Masjid Kampus UGM, cuman kalo yang sedikit “ideologis” bisa dicari di depan Masjid Mardliyah, di sebelah selatan RS Sarjito UGM, biasanya kamis atau sabtu pagi ada tuh penjualnya. Kalo toko, bisa kontak CV. Galaxy, di daerah Gedong Kuning, lumayan lengkap juga untuk buku-buku Tarbiyatuna yang seri-seri lama…
May 28th, 2008 at 9:39 am
thx banget infonya bang. hehehe..
May 29th, 2008 at 12:35 am
wah ngeri baca buku begitu… maksudnya jadi tau jelek-jeleknya pernikahan (slama ini yang sering dibahas kan seneng-senengnya saja).
tapi, nggak bermaksud menutup mata. lumayan sering jadi tempat curhat temen2, ya lumayan buat mereka, bisa konsultasi perkawinan gratis. bentar lagi saya pasang tarif… hehehe…
lha katanya, BKKBS itu ada konsultasi keluarganya… berfungsi nggak tuh?
kalo nggak, di puskesmas-puskesmas setempat juga ada layanan konsultasinya… ditangani oleh para psikolog… silakan dikunjungi… ben payu…
November 23rd, 2008 at 11:23 am
ni buku emang bagus sekali…
September 20th, 2009 at 9:04 pm
Yup emang top bgt ini buku.
February 14th, 2010 at 12:29 pm
ternyata mas sunu ki yo moco iki tho, aq malah lagi wae. iseng searching referensi malah mlebu ndene.
wkwkwk