Menghargai Ibadah

Adventure, Religious 2 Comments »

Apa itu menghargai ibadah? Setidaknya itu saya temukan di negeri non muslim ini, saat kemarin berburu tempat sholat di Siam Paragon, sebuah mall besar di Bangkok. Satu-satunya tempat sholat terdekat yang representatif di arteri jalan Petchburi, Bangkok. Mall ini kira-kira tiga kalinya Ambarukmo Plaza di Yogyakarta yang tempat sholatnya sempit, campur aduk putra-putri dan wudhunya tanpa privasi sama sekali.

Apa itu menghargai ibadah ? Memberikan tempat ibadah yang nyaman di tengah keramaian adalah salah satu penerapan menghargai ibadah. Anehnya, mengapa itu tidak terjadi di Indonesia? Di tengah negeri muslim dengan sekian ratus ribu masjid berdiri di atasnya. Sebanyak masjid berdiri, mushola mall selalu tempat sempit yang kumuh dan seperti tak terurus. Tapi di negeri lain, mereka paham kebersihan bagi seorang muslim adalah utama.  Saya sempat tercenung dan duduk cukup lama di dalam musholla Mall Siam Paragon ini. Merasa aneh saja, bukan takjub. Biasa saja, tapi mengapa tidak di Indonesia ? Mengapa harus di Thailand?

Coba perhatikan foto di bawah ini. Terjadi di Thailand, bukan di Indonesia. Ah, PR kita masih banyak. Tidak layak rasanya memaki negeri lain, sementara menata diri saja tidak pernah mau.


(Tempat Sholat Jama’ah Putri)


(Tempat Sholat Jama’ah Putra)


(Tempat Wudhu)

Tak Pernah Berhenti Membangun

Adventure, Daily Life, General Thought No Comments »

Sebentar lagi, Central Bangkok dan Ladkrabang akan dihubungkan oleh sebuah monorel skytrain yang cukup panjang. Thailand adalah salah satu negara di ASEAN yang secara “ikhlas” bersedia untuk dijajah Jepang. Ya, hampir semua teknologi yang digunakan di sini, termasuk teknologi pembangunan monorel, adalah adopsi dari Jepang. Bahkan kampus tempat saya belajar pun bikinan orang Jepang pula (JICA), 30 tahun yang lalu.

Tapi semua itu bukan masalah, saat kita mau jujur dengan budaya jujur. Thailand termasuk rapi dalam masalah manajemen anggaran negara, utamanya untuk penelitian dan pendidikan. Gaji pengajar (dosen) di Thailand tiga kali lipat gaji dosen di Indonesia. Belum lagi dana penelitian yang mengalir deras. Hampir tiap tahun di Thailand diadakan setidaknya dua kali konferensi internasional untuk bidang sains dan engineering. Mereka dengan tulus ikhlas menggunakan beberapa produk Jepang, membongkarnya dan membuat tiruannya untuk digunakan di dalam negeri. Penelitian di Thailand sebagian besar berkiblat ke negeri Sakura. Ini saya rasakan saat saya berdiskusi dengan rekan-rekan dari universitas lain yang melakukan riset kolaboratif dengan Jepang. Ya, Thailand selalu berdenyut 24 jam untuk membangun negaranya. Kalangan universitas pun meniru budaya Jepang yang rajin, yang berlawanan dengan budaya liberal Amerika yang malas.

Sebagai negara berkembang, kemiskinan masih menjadi masalah utama. Di bawah monorel skytrain, masih banyak dijumpai rumah kumuh sebagaimana di pinggiran kali Ciliwung Jakarta. Namun hal ini terus diupayakan untuk dihilangkan. Mereka mengatasi kemiskinan tidak dengan memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Mereka sadar bahwa harga BBM memang sudah seharusnya mahal, tapi mereka membangun sarana publik sebaik-baiknya, sehingga masyarakat tidak terlalu risau dengan biaya transportasi kendaraan pribadi. Saya banyak belajar dari orang-orang Thai, bagaimana mereka bekerja antar kota menggunakan kereta api butut, tapi mereka selalu memakai kaus resmi kerajaan setiap hari Senin (dengan logo kerajaan Thai di dada mereka). Meskipun miskin, mereka bangga dengan negara dan pemimpinnya. Mereka percaya bahwa pemimpin mereka bisa membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Saat ini, Thailand tengah diguncang demonstrasi besar-besaran yang menuntut Perdana Mentri Samak mundur. Tapi orang-orang thai dan masyarakat umum tidak terlalu peduli dengan hal itu. Mereka melihat figur raja. Selama raja masih bisa dipercaya, negara tetap aman dan stabil. Demonstrasi dilakukan dengan damai, mirip bazaar begitu. Mereka membawa serta keluarga sambil meneriakkan yel-yel. Tidak ada penghancuran pos polisi, sebagaimana aksi mahasiswa Indonesia akhir-akhir ini yang nggak mutu. Sedih rasanya. Nggak bisa mbangun, ngrusak lagi …

Membangun optimisme. Ya, itulah tugas pertama yang harus kita lakukan, termasuk yang harus dilakukan oleh Presiden RI kelak. Tanpa optimisme, rasanya Indonesia akan terus berjalan ke belakang…..

Ujian Lidah

General Thought, Iseng 2 Comments »

Kalo Anda adalah seorang blogger yang sangat aktif, pernahkah terpikir di benak Anda untuk melihat-lihat tulisan masa lalu Anda ? Jika pernah, Anda sangat beruntung. Dari sana Anda akan bisa mengerti arah perjalanan hidup Anda saat ini dan akan berguna untuk memilih pilihan Anda di masa depan. Tapi jika tidak, setidaknya Anda bisa memulainya saat ini.

Membaca tulisan masa lalu kita ibarat menamparkan (kembali) tangan kita ke pipi kita. Beberapa tulisan mungkin membuat kita merasa malu. Beberapa tulisan mungkin akan membuat kita merasa bangga dengan apa yang sudah kita raih di masa lalu, tapi tidak di saat ini. Beberapa diantaranya adalah bahan ujian hidup kita saat ini, yang dahulu kala kita bisa dengan mudah dan enteng menyediakan solusinya untuk orang lain. Saya pikir, inilah ujian lidah. Apapun yang kita nasihatkan / sarankan kepada orang lain, suatu saat akan diujikan kepada kita. Inilah poin penting yang saya dapatkan saat saya kembali menengok beberapa lembar tulisan di blog saya sebelumnya, alias saat saya masih ngontrak di tempat yang lama, wordpress.com. Bagaimana dengan Anda ? Sudahkah merasa tertampar pula ?

Minggu Awal yang Berat

Adventure, Campus Life, Research 4 Comments »

Belajar di negeri orang tidaklah selalu terasa menyenangkan. Ada sisi-sisi perjuangan yang mesti dihadapi, termasuk yang saat ini sedang berusaha saya lalui. Minggu-minggu awal di Thailand terasa berat, selain karena kendala bahasa setempat, beberapa permasalahan yang terkait dengan akademis begitu menyita pikiran saya. Mulai dari pemindahan kampus (sebelum di Departement of Electronics, saya tercatat di Department of Computer Engineering) karena regulasi dekan teknik KMITL yang agak “aneh”, penyesuaian dengan pelajaran-pelajaran yang cukup berat (karena mengulang semester 1 dan 2), ditambah dengan beberapa kerja lab yang, meskipun sangat terasa manfaatnya, cukup membuat pontang-panting pula. Sebelumnya, saya bahkan tidak memiliki ide sama sekali untuk topik riset. Semuanya berawal dari pemindahan saya ke Department of Electronics. Pindah departemen, pembimbing pun berganti. Ternyata….keahlian pembimbing saya yang baru adalah Biomedis Instrumentasi. “Matilah saya….”, pikir saya waktu itu. Sempat bingung juga dengan kondisi seperti ini. Sementara dosen lain yang melakukan riset di bidang IT sudah membimbing 2 pelajar internasional dan sangat tidak mungkin saya menjadi orang ketiga di bawah bimbingan beliau. Apalagi jam terbang beliau yang lumayan tinggi, membuat 2 orang bimbingannya ini juga kesulitan mengatur waktu. “You got a bad luck“, kata teman lab saya sambil nyengir saat saya cerita tentang hal ini.

Perbedaan minat antara saya dan pembimbing membuat kami jarang berdiskusi. Beliau hanya menyarankan saya untuk banyak membaca paper, sehingga saya memiliki tema riset nantinya. Saran ini bukanlah saran yang salah, tapi tanpa pengetahuan dasar tentang biomedis (saya bahkan sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang ini), apa yang saya baca = nihil. Saya sempat berpikir untuk hijrah kembali ke kampus lama, namun lagi-lagi terbentur regulasi. Akhirnya, saya berpikir inilah jalan saya. Tidak ada jalan lain, selain tetap menjadi pelajar di Department of Electronics …..

Minggu berat berlanjut dengan penentuan tema riset. Saya berusaha untuk memilih tema yang sesuai dengan pembimbing saya tapi tidak melenceng jauh dari dunia IT. Setelah diskusi yang cukup panjang dan sholat istikharah juga, saya memilih tema Image Processing (Pemrosesan Citra), sebuah tema yang sebenarnya cukup berat untuk saya karena saya sama sekali tidak memiliki dasar pengetahuan tentang hal itu. Kerisauan ini saya ceritakan semuanya kepada kepala lab saya dan rekan-rekan saya di lab. Untungnya, mereka semua mau mengerti dan kebetulan sekali mereka juga sedang mempelajari image processing, namun di bidang yang berlainan. Mereka kemudian bercerita, di awal mereka masuk lab mereka juga memiliki kondisi yang sama dengan saya. Beberapa diantaranya bahkan sama sekali tidak berasal dari kampus Teknik, melainkan Ilmu Sains. Sama sekali tidak memiliki ide tentang Matlab, pemrograman, apalagi kok image processing. Namun kesuksesan ditentukan oleh kerja keras, kata mereka. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, selama kita memiliki kemauan untuk mempelajarinya. Inilah yang saat ini sedikit membesarkan hati saya. Setidaknya, saya tidak sendirian saat menghadapi tantangan ini. Ada rekan-rekan lain yang siap mendampingi belajar, bahkan kepala lab saya setiap hari terjun langsung membimbing saya, sebagaimana mengajari anak TK. Mulai dari nol…..

Doakan kami, semoga tetap bisa istiqomah dan menuntaskan tugas-tugas berat ini. Semoga menghasilkan ilmu yang bermanfaat pula …

Aamiin Ya Robbal ‘Alamin ….

Wiskul #2: Nasi Rawon KBRI

Adventure, Foods and Drinks 6 Comments »

Foto : Nasi Rawon KBRI

Nah, ini wisata kuliner kedua setelah postingan resep masakan ga karuan beberapa hari yang lalu. Untuk obat kangen, rekan-rekan yang di Thailand biasanya maen ke KBRI dan mencoba beberapa masakan Indonesia di sana. Salah satunya adalah nasi, telur asin dan rawon. Masakan yang ngga bakalan mungkin dijumpai selain di KBRI ini cukup mahal harganya, 62 Baht untuk satu porsi. Jika uang sebesar itu kita gunakan untuk makan sehari-hari, sudah cukup untuk makan 3 porsi alias biaya makan satu hari penuh….

Tapi…namanya kangen. Uang tidak jadi masalah, asal jangan sering-sering aja.

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in