Diposting pada June 9, 2008 | Awan: Care and Share, Iseng | oleh : sunu wibirama.
Entah kenapa, saya kembali tergelitik untuk menuliskan materi “agak berat” seperti ini. Kita tahu bahwa koran dan media elektronik di Indonesia sedang panen rating karena ribut-ribut FPI dan AKKBB 1 Juni kemarin. Semua berteriak dan berspekulasi bahwa FPI maupun AKKBB harus diinvestigasi karena berpotensi menyulut kekerasan. Mengapa tidak pernah ada yang berpikir bahwa, ada “goal-goal” tertentu di balik kasus tersebut, tentu di luar bubar atau tidak bubarnya Ahmadiyah. Kita semua tahu, bahwa potensi kekerasan tidak melulu karena aspek “ketidaksengajaan”, seperti khilaf, terpancing emosi, atau yang lainnya. Pernahkah kita berpikir, bahwa memang ada “pihak tertentu” yang menginginkan side effect yang lebih besar dari ribut-ribut kemarin? Side effect yang seperti apa, misalnya? Ya, side effect yang di luar dugaan, seperti berlakunya kembali jam malam seperti di jaman Pak Harto, pengawasan ormas dan parpol Islam, pemberangusan gerakan Islam, atau yang lainnya. Kalau kita cermat dan tidak mudah lupa, setiap mendekati Pemilu di Indonesia, hampir bisa dipastikan akan ada “kasus-kasus” yang menyangkut ummat Islam. Pemilu 2004 diawali dengan kasus bom Bali dan bom kedutaan Australia. Nah, pemilu 2009 ini sudah dibuka dengan kasus bentrok fisik (sebagian oknum) FPI dan AKKBB. Permasalahan-permasalahan seperti ini bisa ditekan dengan meminimalisir aksi lapangan dan memfokuskan diri di propaganda media dan tekanan politik. Ini terbukti berhasil saat kemarin SKB dikeluarkan. Bahkan detik.com pun mengakui kuatnya lobi keummatan ini. Sebuah cara yang elegan, daripada harus gebuk-gebukan di lapangan dan berhadapan dengan polisi-polisi muda belia jongos para komandan itu.
Indonesia dengan berbagai macam suku dan pemikiran adalah tempat yang subur secara alam maupun secara pemikiran. Penjajahan saat ini dilakukan dengan metode yang tidak pernah kita duga, karena semua bersumber dari lobi dan birokrasi. Amerika tidak perlu repot-repot meluncurkan rudalnya atau menembakkannya dari kapal selam Israel yang dibeli Singapura. Penjajahan cukup dilakukan dengan memberikan segepok dana dalam bentuk cek kepada pihak-pihak yang “ngamen” kepada mereka dengan menjual isu-isu sosial yang “basah”. Ini dilakukan oleh sebagian pelaku kerusuhan Monas, yang profilnya diungkap di bagian ini dan ini. Repotnya, kecurigaan kita tidak selalu harus mengarah pada orang-orang itu. Kita pun harus waspada dengan pemain lain yang masuk di kelompok Islam. Di sinilah perbedaan antara waspada dan berprasangka buruk menjadi tipis. Maka untuk meminimalisir prasangka buruk, jalan terbaik adalah dengan musyawarah dan lobi politik. Ya, ini perlu untuk membuat kecewa pihak-pihak yang ingin menangguk untuk dari ribut-ributnya komponen bangsa. Apalagi mendekati Pemilu 2009. Semua orang tahu, bukan kekuatan fisik macam FPI itu yang ditakuti oleh para Islamophobia. Bukan itu. Yang mereka takuti adalah, penguasaan parlemen oleh orang-orang yang bisa berpikir jernih dan sanggup berdiplomasi dengan bahasa yang cerdas dan tidak mereka duga sebelumnya. Orang-orang inilah yang tidak disukai oleh penjajah berdasi itu, sebagaimana tidak disukainya Pangeran Diponegoro oleh orang-orang Belanda. Konspirasi mereka mainkan dan Diponegoro pun mereka pecundangi, baik haknya secara politik maupun sebagai salah satu warga kerajaan…..
Kita lihat saja…….
» Diposting pada awan Care and Share, Iseng. Artikel lainnya pada awan ini:
June 11th, 2008 at 9:04 pm
nice artikel..
June 11th, 2008 at 11:03 pm
ummm… nambah lagi yaa..
saya jd tergelitik untuk mengajukan pertanyaan: “akankah ada Diponegoro masa kini yg tidak akan berubah menjadi rahwana saat ia sudah berkuasa di parlemen ??”
June 19th, 2008 at 2:35 am
@hani
it depends on how we look parliament, as a nice bunch of money maker machine or a nice way to build our nation..and it’s just start from ourselves..no more no less