Diposting pada June 21, 2008 | Awan: Adventure, Care and Share | oleh : sunu wibirama.

Keindonesiaan adalah suatu karunia yang patut disyukuri. Karena hal ini, dan yang terpenting adalah kesamaan aqidah, kami semua tidak pernah lupa untuk selalu bersilaturrahim saat berada jauh dari tanah air. Ya, itulah yang dilakukan oleh rekan-rekan anggota pengajian muslim PERMITHA, sebuah organisasi persatuan pelajar Indonesia di Thailand. Sudah dua kali ini saya mengikuti acara pengajian mahasiswa (Ngajikhun) di Bangkok. Pengajian ini biasanya rutin diadakan 1-2 minggu sekali di rumah/kos-kos an mahasiswa kami. Pekan ini, beberapa rekan dari Chulalongkorn University jauh-jauh berkunjung ke tempat kami, sebuah desa yang asri, Ladkrabang. Untuk bisa sampai di tempat kami, mereka harus menempuh perjalanan sekitar 40 km menggunakan kereta api umum dengan tiket berkisar antara 5-25 baht (tergantung jenis kereta dan jalur). Beberapa anggota pengajian mengajak serta keluarga mereka. Ada juga yang masih single, hanya menenteng mainan PSP dan mendengarkan beberapa mp3 yang tersimpan di player mereka. Tak jarang juga bapak-bapak ikut serta dalam acara ini. Meriah dan sederhana, itulah kesan yang bisa saya tangkap dari dua kali mengikuti pertemuan ini. Bagi saya, jarak menjadi permasalahan yang jauh lebih sederhana dari masalah silaturrahim. Ya, mungkin saat kita menjadi mayoritas muslim di Indonesia, bertemu dengan saudara seiman adalah sesuatu yang lumrah saja. Tapi di negeri orang, bertemu rekan Indonesia, saling menanyakan kabar dan mengadakan acara bersama adalah sesuatu yang mahal harganya. Mahal, karena nilai silaturrahimnya dan mahal karena ilmu/pengalaman yang didapat saat bertemu dengan mereka….
Alhamdulillah, Ya Allah. Tsabit qolbiy ‘ala diinika ….
NB : Foto lengkap pengajian ngajikhun di Ladkrabang bisa dilihat di sini
» Diposting pada awan Adventure, Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini: