Diposting pada June 28, 2008 | Awan: Adventure | oleh : sunu wibirama.
Sebentar lagi, Central Bangkok dan Ladkrabang akan dihubungkan oleh sebuah monorel skytrain yang cukup panjang. Thailand adalah salah satu negara di ASEAN yang secara “ikhlas” bersedia untuk dijajah Jepang. Ya, hampir semua teknologi yang digunakan di sini, termasuk teknologi pembangunan monorel, adalah adopsi dari Jepang. Bahkan kampus tempat saya belajar pun bikinan orang Jepang pula (JICA), 30 tahun yang lalu.
Tapi semua itu bukan masalah, saat kita mau jujur dengan budaya jujur. Thailand termasuk rapi dalam masalah manajemen anggaran negara, utamanya untuk penelitian dan pendidikan. Gaji pengajar (dosen) di Thailand tiga kali lipat gaji dosen di Indonesia. Belum lagi dana penelitian yang mengalir deras. Hampir tiap tahun di Thailand diadakan setidaknya dua kali konferensi internasional untuk bidang sains dan engineering. Mereka dengan tulus ikhlas menggunakan beberapa produk Jepang, membongkarnya dan membuat tiruannya untuk digunakan di dalam negeri. Penelitian di Thailand sebagian besar berkiblat ke negeri Sakura. Ini saya rasakan saat saya berdiskusi dengan rekan-rekan dari universitas lain yang melakukan riset kolaboratif dengan Jepang. Ya, Thailand selalu berdenyut 24 jam untuk membangun negaranya. Kalangan universitas pun meniru budaya Jepang yang rajin, yang berlawanan dengan budaya liberal Amerika yang malas.
Sebagai negara berkembang, kemiskinan masih menjadi masalah utama. Di bawah monorel skytrain, masih banyak dijumpai rumah kumuh sebagaimana di pinggiran kali Ciliwung Jakarta. Namun hal ini terus diupayakan untuk dihilangkan. Mereka mengatasi kemiskinan tidak dengan memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Mereka sadar bahwa harga BBM memang sudah seharusnya mahal, tapi mereka membangun sarana publik sebaik-baiknya, sehingga masyarakat tidak terlalu risau dengan biaya transportasi kendaraan pribadi. Saya banyak belajar dari orang-orang Thai, bagaimana mereka bekerja antar kota menggunakan kereta api butut, tapi mereka selalu memakai kaus resmi kerajaan setiap hari Senin (dengan logo kerajaan Thai di dada mereka). Meskipun miskin, mereka bangga dengan negara dan pemimpinnya. Mereka percaya bahwa pemimpin mereka bisa membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Saat ini, Thailand tengah diguncang demonstrasi besar-besaran yang menuntut Perdana Mentri Samak mundur. Tapi orang-orang thai dan masyarakat umum tidak terlalu peduli dengan hal itu. Mereka melihat figur raja. Selama raja masih bisa dipercaya, negara tetap aman dan stabil. Demonstrasi dilakukan dengan damai, mirip bazaar begitu. Mereka membawa serta keluarga sambil meneriakkan yel-yel. Tidak ada penghancuran pos polisi, sebagaimana aksi mahasiswa Indonesia akhir-akhir ini yang nggak mutu. Sedih rasanya. Nggak bisa mbangun, ngrusak lagi …
Membangun optimisme. Ya, itulah tugas pertama yang harus kita lakukan, termasuk yang harus dilakukan oleh Presiden RI kelak. Tanpa optimisme, rasanya Indonesia akan terus berjalan ke belakang…..
» Diposting pada awan Adventure. Artikel lainnya pada awan ini: