Diposting pada August 1, 2008 | Awan: Adventure, Daily Life, Religious, Renungan, qalbu | oleh : sunu wibirama.
“Seringkali kita itu hanya bisa menyalahkan keadaan, tapi kita lupa bahwa seharusnya kita juga memberi kontribusi sehingga keadaan itu berubah. Kalo saya justru beranggapan, keadaan itulah yang harus kita bentuk dari diri kita sendiri. Ibarat sebuah sistem, kita itu adalah baut atau mur-nya. Meskipun kecil, tapi kita harus berkontribusi sehingga keadaan berubah….”
Itulah sepenggal kata-kata seorang bapak senior yang menjadi tempat rujukan mahasiswa Indonesia di KMITL, kampus saya. Beliau termasuk salah seorang yang “mbabat alas”, memulai perjuangan di KMITL dan menarik junior-juniornya dari Teknik Elektro UGM untuk belajar di Thailand. Oleh karena itu, kata-kata dan nasihat beliau banyak didengarkan oleh para juniornya, termasuk saya. Nasihat itu muncul saat saya mengeluhkan betapa sulitnya mengikuti dengan baik kuliah-kuliah di kampus saya. Ya, saya pernah bercerita sebelumnya, kalau saat ini saya masuk di fakultas / departemen yang tidak sepenuhnya sepenuhnya sesuai dengan keminatan saya. Hal itu disebabkan oleh beberapa peraturan kampus yang cukup aneh, sebuah mata kuliah harus diselenggarakan minimal dengan peserta 3 orang, sedangkan saya sebelum peraturan itu diterapkan adalah satu-satunya mahasiswa Seed-Net yang belajar di Computer Engineering. Setelah peraturan itu diterapkan, saya salah satu yang terkena imbasnya.
Segalanya mulai terlihat sangat sulit, mulai dari pemindahan kampus, pemindahan advisor thesis, sampai mata kuliah yang tidak sesuai dengan keminatan saya. Namun saat ini, saya berusaha untuk tetap mengarahkan tema thesis saya ke bidang yang masih masuk dalam teknologi informasi yakni computer vision dan pengolahan citra. Saya lebih banyak bermain program di sana. Namun masalah kuliah, belum bisa saya atasi dengan baik. Ya, pelajaran yang saya terima sama sekali tidak berhubungan dengan teknologi informasi secara langsung. Alhamdulillah, saya dulu pernah mengambil mata kuliah dasar di Teknik Elektro yang berhubungan dengan mata kuliah saat ini, sehingga sedikit banyak saya bisa mengingat pelajaran terdahulu.
”Ilmu itu tidak ada yang tidak bermanfaat, Mas. Perjuangan saya dulu di sini lebih berat dari Anda. Saya harus berjalan kaki lebih dari 4 KM pulang pergi. Saya dahulu sendirian di sini, sampai-sampai ujian seminar 1 saja tidak ada yang mengingatkan, sehingga saya terlambat men-submit laporan riset di kampus”, begitu cerita beliau suatu saat kepada saya. Namun yang paling saya ingat adalah bagaimana kontribusi kita mengubah keadaan. Ya, saya merasa selama ini sering menyalahkan keadaan yang menimpa saya untuk menutupi “ketidakmampuan” saya selama ini. Gara-gara inilah, itulah…dan masih banyak lagi. Rupanya kebiasaan ini ditangkap dengan baik oleh bapak tadi, dan keluarlah nasihat itu. Keadaan memang tidak terlalu bersahabat, tapi hidup harus tetap berjalan, bukan? Hidup adalah apa yang kita terima dari Allah, bukan apa yang kita inginkan, meskipun hal itu terkadang tidak terlalu menyenangkan.
Saya jadi teringat ayat Al Qur’an :
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S. Al Ankabut:2-3)
Aah….kok kejadiannya sama ya? Allah telah menguji orang-orang sebelum saya…..
Hikmah memang selalu muncul sesudahnya. Dan selalu saja saya mengingat doa khas bapak tadi, yang selalu diamini oleh rekan-rekan ngaji-khun Thailand (pengajian mahasiswa muslim Indonesia):
“Ya Allah mudahkanlah kelulusan kami, mudahkanlah segala urusan kami……….”
“Aamiin….”
» Diposting pada awan Adventure, Daily Life, Religious, Renungan, qalbu. Artikel lainnya pada awan ini: