Militansi Untuk Maju

Diposting pada August 17, 2008 | Awan: Adventure | oleh : sunu wibirama.

“Hebat, jalan layang tingkat tiga. Wah, stasiun subway mirip sama bandara soekarno-hatta…” dan masih banyak lagi suara hati saya saat melihat beberapa fasilitas publik Thailand (tepatnya Bangkok — karena pembangunan di Thailand tidak terlalu merata).

Mendengar cerita rekan-rekan di negara lain, seperti Jepang dan Singapore, saya sering berkontemplasi dan berpikir saat duduk menunggu bus 517 sampai di daerah Khlong Tan atau kereta KRL sampai di Phya Thai. Kenapa sih, negara-negara bukan muslim seperti itu memiliki fasilitas publik yang luar biasa? Mengapa sih, mereka lebih bersih dari negeri-negeri muslim? Masih banyak “mengapa” yang lainnya terus menghinggapi pikiran saya…

Keanehan yang lainnya, mereka yang memiliki fasilitas fisik maju itu sesungguhnya terbebas dari doktrinasi “An nadhofatu minal iman” (kebersihan bagian dari iman) atau “wajaahadu fiina lanahdiyannahum subulana” (dan berusahalah sungguh-sungguh, maka akan Kami tunjukkan jalan Kami). Mereka juga tidak pernah mengenal wudhu lima kali, apalagi mandi wajib dan sunnah. Sementara muslim, mereka memiliki seabreg dalil tentang kebersihan dan keteraturan hidup. Seharusnya, kalau ini berjalan dengan benar, negeri-negeri muslim adalah negeri yang terbersih di dunia. Kenapa? Karena pribadi-pribadi mereka pun sudah membersihkan diri, minimal lima kali sehari dengan berwudhu plus mandi dua kali sehari. Nah, kembali ke perenungan tadi, apa sesungguhnya yang mendasari cara berpikir orang-orang di negara maju tersebut, sehingga mereka mengenal “beberapa bagian” etos kerja orang-orang Islam yang tidak terlalu membudaya di negeri muslim itu sendiri? Saya sendiri saat ini belum bisa menjawab seluruhnya. Perenungan ini masih berputar-putar di kepala dan menunggu untuk menemukan jawabannya seiring dengan pengembaraan saya di negeri orang. Tapi yang jelas, orang-orang negeri asing ini memiliki militansi. Bukan untuk merusak, apalagi untuk demonstrasi. Militansi ini tercermin dari “keseriusan” mereka membangun negara mereka sendiri. 

Saya sering terkekeh, saat teringat upacara 17-an di KBRI, dimana pesertanya sebagian besar bapak-bapak dan ibu-ibu. Jangankan untuk berbaris dengan benar, mereka sepertinya sudah sedikit apatis dengan aparatur pemerintah dan seabrek peraturan tata tertib upacara. Kebanggaan itu sudah pudar, entah ke mana. Maka, ironi ini semakin lengkap saat menyadari bahwa Indonesia, representasi negeri dengan jumlah kaum muslimin terbesar di dunia, adalah negara yang banyak hutang. Sudah miskin, tidak punya kebanggan pula. 

Belajar dari Jepang, kadang orang Jepang terlihat bodoh saat bicara dengan bahasa Inggris. Ya, mereka jauh lebih kesulitan berbahasa Inggris dibandingkan dengan lidah normal orang-orang nusantara yang menjadi mahasiswa asing di negeri Sakura. Tapi Jepang adalah negara yang militansi dan PeDe (Percaya Diri)-nya tinggi. Bayangkan beberapa hal berikut ini :  

1. Semua orang yang pergi ke Jepang, harus mempelajari bahasa Jepang, barang secuil pun. Orang-orang Jepang biasanya memiliki PeDe tinggi, meskipun bahasa Inggris mereka tidak terlalu bagus.

2. Kanal jaringan telekomunikasi memiliki frekuensi yang berbeda di Jepang. Akibatnya beberapa HP Indonesia tidak berfungsi saat digunakan di Jepang. Mereka membangun dan menentukan sendiri kanal GSM di negara mereka. Kalau bukan negara PeDe, ngapain bikin aturan sendiri?

3. Beberapa riset internet di Jepang saat ini mulai merambah ke penciptaan protokol baru di dunia internet. Bukan tidak mungkin akan muncul successor TCP/IP di masa depan. Dunia akan dikontrol Jepang kalo sampai hal ini terjadi. Ingat, siapa penguasa informasi, dialah yang akan melakukan dominasi di dunia.

Lalu apa hubungannya dengan Indonesia? Ya “militansi” itu tadi. Ada ruh militansi nasional yang merebak dan menginspirasi seluruh pelosok negara sehingga mereka berpusar di pusaran yang sama dan menciptakan arus perubahan yang signifikan. Militansi ini tentu sangat dipengaruhi oleh sosok pemimpin negeri itu. Pemimpin yang tidak percaya diri, apalagi banyak hutang dengan negara lain, jangan harap akan terlihat berwibawa di hadapan rakyat mereka. Bung Karno dipuja bukan karena Indonesia kaya raya, tapi karena Bung Karno tegas terhadap sikap Singapura dan Malaysia, serta berani mengambil keputusan keluar dari PBB untuk menentang Amerika. Itu Bung Karno, lalu bagaimana dengan Bung, Bung yang lain? Masalah suara dan kursi? Aah….sudah tidak relevan bicara kursi saat ini. Kalau nggak punya militansi, mundur aja deh dari CaPres Indonesia. Kami sudah terlalu lelah untuk menunggu dan ingin segera membuktikan kalo Indonesia bukanlah negara miskin yang rajin mengekspor TKI dan TKW untuk jadi babu di negara orang.

Bukan janji yang kami tunggu, tapi semangat itu….. militansi dan ruh untuk bangkit dari keterpurukan, sebagaimana Kaisar Hirohito membangun Jepang setelah dua kotanya luluh lantak oleh bom atom Amerika.

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Adventure. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Jalur Van di Victory Monument Bangkok Thailand
  • » Pernak-pernik Puasa di Indonesia dan Thailand
  • » Seputar Evakuasi: WNI dan Kerusuhan Bangkok
  • » Homesick (jilid 2)
  • » Daftar Rumah Makan Halal & Masjid di Bangkok
  • » Imaginary dialogue between Thais and Indonesians : ISLAM
  • » Antara "Yin" dan "Fang"
  • » Video Lomba Pidato Bahasa Indonesia 2009
  • Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya