Diposting pada September 1, 2008 | Awan: Adventure, Religious | oleh : sunu wibirama.
Asyhadu an laa ilahailallah….astaghfirullah……
As’alukal jannata wa audzubika minannar …
Ramadhan kali ini tidak terasa sepi. Banyak saudara baru dan kesempatan silaturrahim terbuka lebar. Ifthor pertama kali ini diisi dengan silaturrahim ke rekan-rekan Moslem Society Ladkrabang, sebuah organisasi perkumpulan siswa-siswa muslim di KMITL. Suasana buka bersama yang sederhana, mengingatkan saya pada suasana kampung halaman di Jogja. Tahun sebelumnya, saya adalah panitia yang melayani para musafir yang singgah di masjid. Kali ini, saya merasakan sendiri menjadi musafir yang dijamu oleh rekan-rekan Thai. Ada suasana yang cukup mengesankan di hati. Meskipun saya hanya kenal akrab dengan beberapa orang saja di antara mereka, namun sikap rekan-rekan Thai ini seolah-olah seperti sudah kenal lama dengan saya. Bahkan beberapa orang di antaranya memilih untuk makan saat menjelang Isya’ karena nasi untuk ifthor ini tidaklah sebanyak pesertanya. Ada nuansa ukhuwah yang sangat kental dan itsar (mendahulukan saudaranya) yang tidak semua orang bisa melakukannya. Inilah yang terkadang tidak saya jumpai saat ummat Islam menjadi mayoritas. Entah mengapa, pelajaran dan praktik itsar ini justru saya jumpai di negeri orang, saat ummat Islam menjadi minoritas yang sedikit “ditekan” di negara ini. Selain tidak ada libur Idul Fitri, pemerintah Thailand juga sepertinya acuh saja dengan bulan Ramadhan ini. Padahal kaum muslimin adalah mayoritas kedua setelah Buddha. Kalo mengingat ini, sekali lagi, saya semakin kangen dengan Indonesia. Maka, sungguh bodoh saat para pelacur idealisme itu meneriakkan Indonesia adalah sarang fundamentalis. Mana ada fundamentalis yang memberi toleransi libur nasional untuk agama lain ? Apapun alasannya, Islam bisa ditemukan di mana saja, termasuk di negeri non-muslim seperti ini. Hikmahnya kadang jauh lebih terlihat, karena Islam di sini menjadi barang yang benar-benar luar biasa mahalnya ……
» Diposting pada awan Adventure, Religious. Artikel lainnya pada awan ini:
September 14th, 2008 at 2:12 pm
“Apapun alasannya, Islam bisa ditemukan di mana saja, termasuk di negeri non-muslim seperti ini. ”
Jadi teringat tulisan Pak Cah tentang ‘Orientasi’. Dimana pun, seseorang akan menjumpai apa yang menjadi orientasinya.
Ada seseorang bertanya pada Buya Hamka satu ketika, \"Saya dengar, di Makkah ternyata juga ada pelacur …kok bisa begitu ya? ”
Jawab Buya, “Saya pernah ke California, tidak saya ketemukan satu pun pelacur disana.”