Diposting pada September 6, 2008 | Awan: Adventure, Religious, Renungan | oleh : sunu wibirama.
Sebuah cerita dari milis pengajian Bangkok…..
Semoga membawa hikmah untuk kita semua
Kuringgu…kuringgu ….kuringgu !!! (kring …kring …kring..)
Suara telpon rumah Muhammad berbunyi nyaring.
Muhammad : Moshi moshi ? (hallo)
Takahashi : Moshi moshi, Muhammad san imasuka ? (apakah ada Muhammad ?)
Muhammad : Hai, watashi wa muhammad desu. (iya saya)
Takahashi : watashi wa isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka ?
(saya ingin belajar agama Islam, dapatkah anda mengajarkan kepada saya ?)
Muhammad : Hai, mochiron (ya, sudah tentu)
Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam. Setelah beberapa bulan melakukan sahadat, tidak terasa Takahashi sudah cukup lama bergaul dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.
Memilih dengan hati-hati dan baik mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya, terkadang keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.
“Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara. . Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi”, nasehatnya di suatu hari. Kebiasaan tidak membeli pizza atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.
Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahasi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahasi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahasi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.
Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja.
Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang harus belajar keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahasi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.
Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahasi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan mempunyai nama Qonita, nama pilihan Takahasi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahasi.
Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.
“Watashi wa kekkon simasu ” Saya mau menikah …., ujarnya. Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya.
Tahun kemudian, suatu hari Takahasi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung,
ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.
Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahasi,
“Apa yang menyebabkan Takahasi lebih tertarik dengan Islam ?”
“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku(Agama moral) selain Islam. Masih ingat dengan telpon kita dulu ? Waktu pertama kali aku telpon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, ujarnya.
“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad. “Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan ?”, tanya Takahasi.
“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.
“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahasi. “Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang
yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.
Begitu besar waktu 5 menit ini untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahasi.
Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, yang anda lalui ?
Yusuf
» Diposting pada awan Adventure, Religious, Renungan. Artikel lainnya pada awan ini:
September 14th, 2008 at 4:00 pm
ini kisah beneran ya? subhanallah….