Atas Nama Kepentingan

Diposting pada September 18, 2008 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

Heran. Di balik tragedi Pasuruan, masih saja ada orang-orang yang  menyempatkan diri untuk membuat pengumuman-pengumuman tertentu untuk  kepentingan mereka sendiri. Ada yang memperdebatkan angka kemiskinan versi  pemerintah dan lebih percaya dengan data dari bank dunia. Ada juga yang ribut  memperdebatkan pihak yang patut disalahkan dari tragedi Pasuruan. Ada juga  yang langsung mengeluarkan jurus-jurus aman untuk mengeluarkan zakat.

Beberapa media massa internasional menyoroti tragedi ini dan seperti biasa,  mengolok-olok negara ini karena tidak terlalu peduli dengan para pembayar  pajaknya. Padahal, mereka yang antri di Pasuruan tak lepas dari kewajiban dan  tanggungan membayar pajak negara. Lalu, di mana timbal balik pemerintah atas  hal ini?

Membicarakan angka kemiskinan sesungguhnya sangat menyedihkan. Kita tidak  boleh berbangga diri dengan menyebut secara lantang, “Angka kemiskinan  sekian-sekian….itu berarti kita sudah sedikit lebih sejahtera dari  pemerintahan sebelumnya”, atau justru sebaliknya “Pemerintah yang sekarang  harus memperbaiki angka kemiskinan karena tidak sesuai dengan perhitungan  bank dunia”. Orang-orang aneh ini berpikir tak lebih dan tak bukan karena  planning 2009. Planning kekuasaan yang menjadi roadmap mereka sudah mengisi otak bawah sadar mereka, sehingga peristiwa apapun menjadi komoditas politik  yang baik. Ada juga yang berkata, “Contohlah pembagian BLT, tidak terjadi  kerusuhan bukan?” Sungguh konyol. BLT yang jelas-jelas bukan solusi  pengentasan kemiskinan dijadikan tolok ukur. Malu. Malu benar jadi orang Indonesia. Malu benar tiap tahun mengekspor manusia ke negeri orang tapi bukan untuk menjadi tenaga ahli di negeri orang. Malu benar tiap hari berita pesimisme muncul di berbagai media massa.

Untuk satu kepentingan, beberapa gelintir orang di negeri ini memutus urat malu mereka dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan aneh menjelang Pemilu 2009. Tak lebih baik dari rekan-rekan yang bekerja tanpa bicara di berbagai lembaga amil zakat. Zakat adalah permasalahan manajemen. Pemerintahlah sesungguhnya yang paling bertanggung jawab terhadap permasalahan ini. Bisa saja pemerintah menggandeng lembaga amil zakat dan LSM-LSM non pemerintah. Namun key person tetap saja adalah pemerintah. Malaysia sudah menerapkan hal ini. Anehnya lagi, mereka belajar ilmu ekonomi syari’ah di negeri kita. Jika mau jujur, pemerintah bisa saja mengelola potensi zakat di negeri ini, tentu dengan menggantikan pajak dengan zakat. Jika mau jujur, bisa saja pengelolaan zakat ini tidak rusuh. Dan ini bukan tanggung jawab siapapun, selain pemerintah. Regulasi adalah wewenang pemerintah dan menerima hak setelah membayarkan kewajiban adalah apa yang seharusnya dirasakan oleh rakyat Indonesia.

Siapa yang berminat untuk jadi Presiden ? Dia harus berpikir 1001 kali untuk bersiap-siap mendengarkan umpatan dan keluh-kesah masyarakat kita saat ini.

Wallahu a’lam

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Kebersihan dan Berkah Sebuah Negeri
  • » [Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur
  • » Mari Memudahkan, Semoga Dimudahkan!
  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa’
  • » Kajian Ramadhan
  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah…
  • Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya