Ego dan Indikasi Kedewasaan Mental

Diposting pada October 6, 2008 | Awan: qalbu | oleh : sunu wibirama.

“Awal kami menikah, hal pertama yang paling berat adalah menekan ego. Berat, karena suami dan istri masing-masing memiliki keinginan pribadi. Namun berkeluarga adalah seni mendidik ego”, itulah kurang lebih yang disampaikan kakak dan tetangga kami sekaligus di kos-kosan KMITL. Ia kemudian menambahkan, “Apa yang disukai istri belum tentu kita suka. Tapi mau tidak mau, kita harus mengerti karena dengan itulah komunikasi bisa harmonis. Begitu pula saat anak hadir, kita harus lebih bisa mendidik ego kita karena hal itu akan sangat mempengaruhi psikologis anak kelak. Memendam keinginan pribadi dan mendahulukan kepentingan anak. Itulah yang berat”, ia menambahkan. Di lain waktu, beliau juga bercerita kepada saya, “Coba lihat ibu yang sedang menggendong anak di depan kita. Bapaknya sudah habis makan satu piring, sang ibu sama sekali belum makan, hanya karena waktunya habis untuk menyuapi anak. Saya sering merasa kasihan sama istri dan menganggap perjuangan istri mendidik anak itu tak tergantikan”.

Pesan-pesan di atas saya dapatkan secara beruntun, kurang lebih satu minggu. Saya sangat terkesan dengan “ilmu” yang dibagikan kakak saya itu, walaupun sejatinya cerita-cerita di atas tak lebih dari curhat semata. Tapi memang benar apa yang dikatakan beliau. Hidup bersama dengan orang yang sebelumnya bukan keluarga kita dan saat ini menjadi bagian dari kehidupan kita tidaklah semudah kisah cinta-cintaan di bioskop atau di sinetron itu. Kisah cinta semu yang hanya berpatokan pada materi duniawi saja. Siapa kaya, dialah yang memenangkan sang primadona. Hal itu tak lagi berlaku saat kehidupan berkeluarga dimulai. Apa yang semula nampak sempurna tak lagi sempurna karena kejujuran akan segera berbicara. Sekali lagi, pesan-pesan itu sangat berkesan dalam pribadi saya karena saya pun banyak mendapatkan pelajaran saat kita hidup bersama dengan orang lain, rekan kita, rekan satu kos kita. Ada kebiasaan-kebiasaan kita yang tidak sreg untuk rekan kita. Ada pula kebiasaan rekan kita yang tidak pas dengan kita. Semua itu adalah bumbu untuk seni pendewasaan mental kita. Manakala yang menjadi panglima adalah ego, maka amarah yang akan berbicara. Tapi ketika kita mengembalikan kepada apa tujuan kita untuk hidup bersama-sama dan berjuang, disana akan terlihat dengan jelas bahwa semangat saling menolong akan menempati prioritas yang lebih tinggi daripada sekedar nyaman atau tidaknya diri sendiri. Tak ada yang sempurna dalam diri kita dan itu terlihat jelas saat kita bersosialisasi, hidup berkomunitas dengan orang lain dan menghadapi kerasnya perjuangan di negeri orang. Oya satu hal lagi, mengurangi mengeluh kepada orang lain. Mengeluh di satu sisi membuat kita merasa lega namun di sisi lain akan menambah penderitaan rekan kita. Tidak mengeluh juga menjadi bagian dari mengendalikan ego karena siapa tahu rekan kita pun memiliki masalah yang lebih berat daripada kita. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, justru menambah masalah baru. Pelajaran minggu ini sangat jelas, menyitir sebuah iklan rokok, “Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan. Tanya kenapa?”

» Diposting pada awan qalbu. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah...
  • » UNITED NOTHINGS
  • » Zakat Mall
  • » Atas Nama Kepentingan
  • » Jangan Menyalahkan Keadaan...
  • » Resensi : Catatan Hati Seorang Istri
  • » La Yukalifullahu Nafsan illa Wus'aha ...
  • » Ngomong Sak Dos, Gaji Sak Sen
  • 8 Komentar to “Ego dan Indikasi Kedewasaan Mental”

    1. syaamil Berkomentar:

      Cinta itu adalah perjuangan. Karena ia tidak datang begitu saja.Cinta, baru akan mekar setelah melewati berbagai macam derita. Derita bukan musuh cinta. Derita sedang membuat cinta lebih dewasa.(Gedhe Prama)

    2. seno Berkomentar:

      blog yang sungguh cantik Mas Sunu..
      saya sependapat..membagi keluhan memang tidak baik..
      lebih bermanfaat jika membagi aura positip..ya meski tidak sebesar Pakdhe Gedhe Prama..
      assalamu\’alaikum..
      oh ya Njenengan teman esdene Noviar Hendriyanto ya? dulu pas smp dia pernah cerita………
      bukan detail yang penting sebenarnya,

    3. si ghuraba Berkomentar:

      jadi inget cerpennya Leo Tolstoy, yang judulnya “Kebahagiaan Keluarga”… keren…

    4. yan9n Berkomentar:

      wah wah…
      saya aja belum berani nulis tentang “keluarga” dan tetek bengeknya, eh udah keduluan sama sunu yang belum nikah hihihi…

      captcha-mu kok susah banget sih…

    5. sunu wibirama Berkomentar:

      @syaamil
      Maaf lahir bathin pak. Semoga amal-amal kita saat Ramadhan mendapatkan pahala tersendiri di sisi Alloh…

      @seno
      iya mas, saya temennya Novi / Hendri. Salam aja kalo ketemu, dari temen SD-nya, yang dulu dah pake kacamata sejak kelas 5

      @si ghuraba
      Wah, sayangnya saya belom pernah baca novel itu, jadi gak bisa ngasih komentar lebih lanjut, maaf ..

      @Yan9n
      weh….saya tugasnya kan cuma mendokumentasikan aja mas. Namanya aja “abstract”, masalah “result” dan “future work” kan masih bisa diperbincangkan lagi…hehehe.

    6. Noviar Berkomentar:

      Asslmlkm, Pa kabar Pak Sunu??? Dah lama ga ketemu kita. Sepertinya Pak Sunu dah siap menikah ni… Kapan? Undang2 ya kalo mau nikah… Hehehe…
      Mas Seno ni sepertinya aku kenal. Namanya kayaknya ga ada seno2nya deh… :)
      Pak Sunu bukannya 1 SMP juga ma kita?! Dan 1 SMA juga ma aku. Tapi kita memang beda kelasnya.

    7. fondix Berkomentar:

      hhhmm, masuk akal juga, hihihihihi

    8. eko santoso Berkomentar:

      mas nyuwun, mau dicopy ijin ya,
      ego membuat kita terpenjara apalagi jika merasa lebih tahu tentang masa depan….ingatlah bahwa masa depan tu hanya alloh yang tahu, jadi serendah apapun pandangan orang yang menurut pandangan orang 2 yang merasa dirinya lebih tahu…tetap jika alloh berkehendak, maka cara pandang yang rendah yang bakalan berhasil….jalani hidup dengan fitrah insyalloh selamat dari ego

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya