Diposting pada November 26, 2008 | Awan: Care and Share, Dunia Pergerakan | oleh : sunu wibirama.
Taujih tanggal : 25 Mei 2001
Oleh : Ustadz Abdul Hasib Hasan, Lc.
“Hai orang-orang yang beriman, taatillah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur,an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. 4/59).
Saudara dan saudariku sekalian, sebagaimana yang telah kita ketahui dan yakini bersama bahwa Islam adalah agama dan sistem hidup yang sempurna yang menata seluruh aspek kehidupan manusia. Bukan saja mengatur tentang hubungan manusia dengan khaliqnya tapi juga mengatur hubungan antara sesama manusia dengan manusia dan juga dengan alam tempat manusia menjalani hidupnya. Islam bukan hanya mengatur ibadah-ibadah ritual yang terbatas pada aktivitas didalam masjid tapi ia juga mengatur kehidupan di rumah, diluar rumah. Singkatnya Islam merupakan sistem hidup yang lengkap dan paling sempurna, karenanya sistem Islam merupakan satu sistem yang diterima dan diridhoi oleh Allah SWT.
Kesempurnaan Islam ini sejak menjelang wafatnya Rasulullah, artinya sejak menjelang wafatnya Rasulullah Islam telah menjadi konsepsi hidup yang sempurna seperti yang tercantum dalam (QS 5/3). Sebagai sistem hidup yang sempurna sudah barang tentu Islam mencakup segala aspek kehidupan yang didalamnya termasuk sistem ekonomi, sosial dan politik. Karenanya dalam pandangan Islam ungkapan ‘tidak ada politik dalam agama dan tidak ada agama dalam politik’ merupakan suatu ungkapan yang jelas-jelas keliru, ungkapan sekuler yang tidak boleh keluar dari mulut seorang muslim apalagi sampai diyakini.
Sebagai konsekuensi logis dari kesempurnaan dinul Islam yang mencakup aspek politik diantaranya, maka seorang muslim pada hakekatnya adalah orang yang tahu tentang politik, memiliki kepedulian tentang politik dan tidak berlebihan pula apabila seorang muslim, seorang da’i, atau seorang aktivis itu pada hakekatnya adalah seorang politikus, karena politik ini merupakan salah satu bagian yang sangat penting di dalam sistem Islam. Namun yang perlu kita sadari bersama bahwa didalam melakukan aktivitas politik – yang merupakan satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Islam – kita terikat dengan adabiah-nya dan tidak boleh untuk mencapai tujuan yang mulia itu kita menggunakan berbagai sarana/cara yang tidak baik, dan cara-cara yang tidak terhormat atau tercela. Dalam Islam kita tidak mengenal adanya Al Ghoyyah tubbariru wasilah, untuk mencapai suatu tujuan segala macam cara bisa dibenarkan, tapi sebaliknya untuk mencapai tujuan yang mulia kita terikat dengan cara dan sarana yang mulia pula. Sebagaimana disebutkan dalam hadist Innalloha Thoyyibun layahbu illa thoyyiban (Allah SWT thoyyib/baik, dan tidak menerima kecuali yang baik-baik).
Dalam mumarosah siyasiyah (praktek politik) prinsip-prinsip kebenaran, kejujuran dan amanah harus menjadi landasan dalam kiprah kita dalam berpolitik. Dan bahkan sudah menjadi hal yang aksiomatik bahwa seorang muslim manakala aqidah islamiyyah itu sudah masuk ke dalam dirinya maka akan tumbuh sehat bersamaan dengan perjalanan waktu, akarnya akan semakin menghujam ke dalam bumi, dahan dan rantingnya tumbuh menjulang ke atas, dan kemudian mengeluarkan buah yang baik setiap saat.(QS.14/24-25). Begitulah gambaran seorang muslim apabila aqidahnya telah bersarang di dalam dadanya. Karenanya dia akan selalu mengeluarkan amal-amal yang sholih termasuk ketika dia melakukan aktivitas politiknya dan selalu menghasilkan amal yang baik dengan seijin Allah.
Dan juga sudah merupakan hal yang aksiomatis, seorang muslim itu dikatakan oleh Rasulullah SAW sebagai seekor lebah yang selektif ketika memilih lingkungan dan tempat yang akan dia hinggapi dan setiap dia hinggap selalu melakukan nilai positif dengan melakukan penyerbukan dari satu bunga ke bunga lainnya. Dan ketika dia meninggalkan sesuatu, yang ditinggalkan adalah madu. Begitulah dari waktu ke waktu, dari satu tempat-ke tempat lain yang keluar dari sosok seorang muslim adalah perbuatan yang positif. Berbeda dengan kehidupan munafik dan kafir yang diumpamakan bagaikan kehidupan seekor lalat yang hidup di sembarang tempat. Ia hinggap dan tumbuh subur di lingkungan yang kotor.
Dan juga merupakan suatu yang aksiomatik bahwa seorang muslim yang meyakini Islam yang rohmatan lil alamin, ketika islam sudah melekat dengan dirinya maka langkah rohmatan lil alamin akan bisa dirasakan di dalam lingkungannya sebagai kebaikan yang diperankan oleh seorang muslim. Oleh karena itu seorang muslim harus mampu menjaga lidah dan anggota badannya dari upaya menyakiti saudaranya yang lain. Oleh karena itu seorang muslim adalah orang yang senantiasa komitmen dengan kebenaran dan selalu mengeluarkan perbuatan yang positif seperti sebuah pohon yang dari waktu ke waktu selalu memberikan buah yang baik dan semakin banyak. Bahkan seorang muslim yang juga seorang aktivis dakwah menurut Ustadz Hasan Al Banna hendaknya dia bisa berperan sebagai sebuah pohon yang rindang daunnya, berbuah banyak dan manusia yang berada di sekelilingnya melemparinya dengan batu, tapi dia balas kejelekan, kedzaliman itu dengan sebuah kebaikan dengan menjatuhkan buahnya yang ranum kehadapan mereka.
» Diposting pada awan Care and Share, Dunia Pergerakan. Artikel lainnya pada awan ini: