Periodisasi Perjalanan Umat Islam

Diposting pada November 30, 2008 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

Ihsan Tanjung

Ceramah Oleh : Bapak Ihsan Tanjung

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’[231]. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.

[231]. Syuhada’ di sini ialah orang-orang Islam yang gugur di dalam peperangan untuk menegakkan agama Allah. Sebagian ahli tafsir ada yang mengartikannya dengan menjadi saksi atas manusia sebagai tersebut dalam ayat 143 surat Al Baqarah.

(Ali Imran : 139-140)

Ummat Islam dan non Islam juga sama-sama merasakan kesulitan. Ummat Islam saat ini merasakan kesulitan untuk mempertahankan keistiqomahan dan berpegang teguh dengan syari’at di tengah-tengah usaha untuk memarginalisasikan ummat Islam. Sementara itu kaum kuffar juga merasakan kesulitan untuk mempertahankan status quo mereka dan hegemoni mereka di dunia, di tengah-tengah maraknya nahdlatul ummah di berbagai negara, khususnya di negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim.

Kita merasakan kesulitan untuk mengejar hidup di bawah naungan ridho ilahi di tengah-tengah anggapan sebagian besar masyarakat yang lebih mementingkan ridho selain ridho Allah. Maka, ayat ini juga berfungsi sebagai ayat untuk menghibur ummat Islam. Allah menjelaskan, “masa kejayaan itu dipergilirkan di antara manusia”. Ada kalanya kaum mu’minin berjaya di muka bumi ini dan ada kalanya kaum kafir berjaya di muka bumi. Kejayaan kaum mu’minin adalah kejayaan sejati karena dipantau langsung oleh Allah SWT, sedangkan kejayaan kaum kuffar berada di luar hal tersebut. Pergantian zaman ini agar manusia mendapatkan pelajaran darinya, dan memisahkan sebagian diantara yang beriman dan kuffar, dan menjadikan sebagian dari yang beriman sebagai syuhada.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW riwayat Imam Malik, dijelaskan beberapa periode perjalanan ummat Islam :

1. Fase Nubuwwah

Fase ummat manusia saat dipimpin langsung oleh Nabi SAW secara langsung. Fase ini adalah fase paling gemilang dalam perjalanan sejarah ummat Islam. Ummat Islam merasakan bimbingan langsung dari Allah SWT melalui nabi-Nya yang mulia.

2. Khilafatan Ala Minhaj An Nubuwwah

Dimulai dengan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Masa ini merupakan masa setelah nabi di mana para pemimpin ummat Islam tunduk pada syari’at Islam. Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib adalah mereka yang menjadi panutan ummat Islam. Masa pertama dan masa kedua adalah masa teladan bagi ummat Islam hingga hari ini.

3. Mulkan ‘Aadhon (Raja-raja yang menggigit)

Tiga yang terkenal adalah dinasti Umayyah, dinasti Abbasiyyah, dan yang terakhir dinasti Utsmaniyyah. Abul Ala Al Maududi menulis Al Khilafatu wal Mulk, “Zaman ini secara formal memang disebut Khilafah secara formal, tapi secara teknik operasional dilakukan dengan metode kerajaan. Disebut Mulkan ‘Aadhon, karena sebagian dari mereka masih menggigit Alqur’an dan Sunnah, tapi sayang hampir lepas dan akhirnya lepas juga”. Zaman ini berakhir tahun 1924 karena berdirinya Dewan Nasional Turki yang dipimpin oleh Musthafa Kemal Attaturk. Ulama’-ulama’ saat itu yang masih istiqomah enggan menyebut Attaturk yang berarti “Bapaknya Turki”. Mereka lebih senang menyebutnya “A’datturk” (Musuhnya Turki). Partai Refah, cikal bakal dari AKP saat ini, saat itu memasang foto Attaturk dalam posisi tiduran, sedangkan partai-partai yang lain memasang dalam posisi berdiri gagah. Saat ditanya tamu yang berkunjung perihal foto tersebut, para aktivis Refah menjawab, “Kami memasang foto ini karena peraturan Turki Sekuler mewajibkan semua kantor memasang foto Nabi Sekuler ini. Nah, karena syaratnya memasang fotonya, kami pilih gambar Attaturk yang sedang tiduran, biar dia tidur sementara kami bekerja”. Setelah tahun 1924 dimana khilafah Utsmaniyyah runtuh, praktis ummat Islam masuk ke dalam fase berikutnya, sesuai dengan hadits Nabi.

4. Malikan Jabbariyyah (Raja Diktator)

Ummat Islam masuk dalam fase ini, dimana ummat ini tidak memiliki pelindung, imam, dan pemimpin sama sekali sejak 1924. Saat ini ummat Islam mencapai titik nadir perjalanan sejarahnya. Sebelum masa ini masih dirasakan adanya kesatuan antar ummat Islam pada berbagai wilayah Islam di dunia, betapapun raja-raja yang memimpin khilafah. Awal abad 20, di Indonesia ditemukan surat-menyurat antara sultan di Indonesia dan kekhilafahan Utsmaniyyah. Fatahillah sendiri belajar militer di Turki setelah pulang haji dari Makkah, sehingga bisa mengalahkan Portugis di Nusantara. Saat ini ummat Islam tidak bisa satu kata, bahkan dalam penentuan hari raya. Dengan izin dari Allah SWT, insya Allah suatu saat ummat Islam akan keluar dari zaman ini. Yang terpenting, kita bisa menyadari di periode mana kita berada. Kalau kita lihat kondisi saat ini, kita berada di masa yang keempat, dimana saat ini ummat Islam tidak lagi bersatu di bawah naungan khilafah Islamiyyah.

5. Khilafatan ‘Ala Minhaj An Nubuwwah

Masa ini adalah masa di mana ummat Islam kembali hidup dalam naungan syari’at dan kekhilafahan.

Pelajaran dan Hikmah

Ummat Islam saat ini hendaknya menyadari posisi dan perannya sebagai komponen utama shohwah Islamiyyah (kebangkitan Islam). Ustadz Sayid Quthb, mengatakan “Tidak mungkin ummat Islam mengejar ketertinggalan teknologi dari dunia Barat. Tidak mungkin ummat Islam ini bergantung sepenuhnya pada kemajuan yang bersifat materi. Sesuatu yang diharapkan oleh ummat manusia saat ini adalah sebuah kepemimpinan dunia yang memiliki aturan dan metode hidup yang jelas. Aturan dan metode ini hanya didapatkan pada segelintir manusia, yakni ummat Islam. Oleh karena itu, apabila kita menginginkan kebangkitan Islam, hendaknya kita mempersiapkan diri dengan meyakinkan dan melaksanakan aturan Islam yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW”

Untuk melaksanakan hal ini, langkah-langkah sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan melaksanakan tahapan-tahapan takwinul ummah (pembinaan ummat)  :

  1. Pembinaan Pribadi Islami (Asy-syakhsiyah Al-islamiy)
  2. Pembentukan keluarga Islami (Al Mar’ah Ash-sholihah)
  3. Pembentukan basis masyarakat Islam (Al-mujtama’ Al-islamiy)
  4. Pembentukan daulah Islam (Ad-daulah Al-islamiy)
  5. Pembentukan khilafah Islam (Khilafah Islamiy)
  6. Islam sebagai ustadziyyatul ‘alam (guru bagi semesta alam)
Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Kebersihan dan Berkah Sebuah Negeri
  • » [Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur
  • » Mari Memudahkan, Semoga Dimudahkan!
  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa’
  • » Kajian Ramadhan
  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah…
  • Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya