Virus Wahn dan Makelar Dakwah

Diposting pada December 14, 2008 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.

“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

(Al-Hadid: 20)

1. Penyejuk Ingatan

Berputra hampir enam, rumah masih kontrak di daerah pemukiman padat, tidak memiliki kursi tamu sehingga setiap tamu diterima dengan lesehan, tidak memiliki kendaraan pribadi sehingga pergi ke mana pun, termasuk ke kantor DPRD, memakai angkutan umum. Dan tahukah Anda bahwa Pak Zubair hanya mengambil gaji dari Dewan secukupnya dan selebihnya selalu diberikan kepada bendahara partai? Ini adalah sepenggal kisah yang saya dengar sendiri dari istri beliau, Ibu Dyah Rahmawati, sepanjang perjalanan di wilayah barat Jawa Tengah.

Bu Dyah, ceritakan kepada saya tentang kemanfaatan harta duniawi,” pinta saya pada beliau.

Beliau tersenyum sambil memandang mata saya, ”Harta duniawi itu kemanfaatannya tergantung pada kita. Kemanfaatannya terbagi menjadi tiga. Yang paling rendah adalah hisbusyaithan (jalan syetan), yaitu ketika kita tabsyir (menyia-nyiakan harta, bermegah-megah dan melupakan dhuafa). Tingkat berikutnya adalah intifa’ (kemanfaatan), yakni ketika kita memiliki harta dan kemanfaatannya dirasakan oleh kita, keluarga sekaligus umat. Contohnya bila kamu punya mobil,” katanya pada saya,”maka intifa’ ketika bermanfaat tidak hanya untuk diri dan keluarga tetapi juga untuk dakwah. Nah yang tertinggi itu fi sabilillah, yakni seluruhnya untuk dakwah, kita mengambil secukupnya saja, sekadarnya.” [1]

Cerita di atas adalah sepenggal cerita dahulu kala, dimana ada sebuah tekad yang kuat untuk menjadikan dakwah sebagai panglima, sehingga pada saatnya Indonesia akan menjadi sebuah negeri yang makmur dipimpin oleh orang-orang yang sholih. Banyak yang mengira, idealita seperti itu hanyalah mimpi. Hanya bisa terwujud di negeri dongeng. Namun, melihat gejala banyaknya pemimpin umat yang terlanda virus wahn (cinta dunia) saat ini, barangkali anggapan seperti itu bisa jadi benar. Naudzubillahi min dzaalik, semoga saja kita tetap bisa mewujudkan negeri dongeng itu menjadi sebuah kenyataan.

2. Definisi Wahn dan Kisah Salafush Sholih

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” [2]

Definisi wahn secara jelas telah didapatkan dari perkataan langsung baginda Nabi SAW. Beliau secara tegas menjelaskan bahwa definisi wahn adalah “cinta dunia dan takut mati”. Maka, para shahabat pun dengan segala cara menghindari wahn, salah satunya dengan menjaga jarak terhadap fitnah dunia dan harta. Hal ini bukan serta merta muncul dengan sendirinya. Ada sebuah qudwah yang jelas dari Rasulullah. Bahkan Umar bin Khattab pun sampai menangis tatkala melihat goresan tikar pada rusuk Rasulullah,

“Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia) dan Kaisar (raja Romawi) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah2.” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” [3].

Sikap dan ketegasan Rasulullah dan para shahabat terhadap virus wahn ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan apabila dakwah Islam sudah mulai menyentuh ”ranah rawan” dimana segala macam cara ditawarkan supaya Islam tidak mengisi kebijakan di pemerintahan. Menarik menyimak Umar Bin Abdul Aziz –yang melegenda karena menjadi figur qiyadah (pemimpin) teladan­ di zamannya – menolak risywah (suap), meskipun hanya berbentuk apel (bukan mobil atau rumah, atau bahkan jabatan politik) [4]. Meskipun beberapa ulama’ masih berbeda pendapat dibolehkannya risywah, terutama dalam konteks politik [5], namun bagi seorang muslim yang utama adalah sebisa mungkin menghindari wilayah abu-abu [6], terutama terkait dengan kepentingan ummat. Suap, tak lain adalah salah satu jalan ampuh muncul virus wahn pada diri seorang pemimpin. Itulah sebabnya Allah SWT mengingatkan kaum muslimin untuk tidak meneguk ”air sungai” terlalu banyak sebelum ”berperang”, sebagaimana dijelaskan dalam kisah perlawanan pasukan Thalut melawan Jalut pada Surat Al Baqoroh ayat 249 [7].

3. Berhati-hati Terhadap Makelar Da’wah

Saat dakwah Islam menyentuh “ranah rawan” sudah semestinya kajian tentang bahaya fitnah harta ini menjadi tema utama. Salah satu penyebabnya adalah idiom lama tentang politik praktis: politik praktis hanya mengenal ”kepentingan”, ia tidak mengenal “kawan” atau “lawan”. Maka, kepentingan yang bagaimanakah yang saat ini sedang diperjuangkan oleh para politisi Islam? Apabila ia membawa kepentingan Islam, maka seharusnya Islamlah yang menjadi identitas utama, bukan nasionalisme atau rekonsiliasi bangsa. Permasalahan ”qoluu bi qodri uqulihim” (berbicaralah sesuai dengan kadar akal mereka) menjadi kurang relevan apabila mengorbankan ideologi perjuangan yang dibangun sejak awal.  Apalagi menjadikan seorang mantan penguasa zhalim-yang terkenal kejam terhadap umat Islam yang berbeda pendapat dengannya- sebagai pahlawan dan guru bangsa. Tentu hal ini patut menjadi tanda tanya besar di benak umat Islam.  Ada apakah gerangan dengan para politisi Islam yang ikhlas menjual dakwah Islam untuk kepentingan suara? Masalah ini menjadi semakin rumit apabila menilik pola hidup para politisi Islam yang semakin jauh dari sunnah Rasulullah dimana gaya dan penampilan lebih utama dibandingkan dengan sikap dan ketegasan.

Sudah sepantasnya umat Islam saat ini berpikir kritis dan terus menerus mengawasi para politisi Islam. Nasihat, masukan, dan kritikan harus senantiasa diberikan untuk menjaga supaya tidak muncul makelar-makelar yang memperdagangkan nama dakwah Islam untuk kepentingan pribadi dan kroni-kroninya. Sudah sepantasnya, para politisi Islam ini semakin memperdalam kajian sejarah Rasulullah SAW dan Umar bin Abdul Aziz saat beliau berdua menghadapi fitnah kekuasaan. Bukan malah mencari justifikasi untuk membenarkan manuver politik dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan semangat perjuangan.

”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah ta’aala bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS Ash-shaff ayat 2-3)

Ya Allah, lindungilah kami dari berbagai jenis kejahatan yang terang-terangan maupun yang samar lagi berlindung di balik nama Dakwah di jalanMu. Amin.

Referensi :

[1] T. Rosa,Helvy&Jannah, Izzatul.2003.”Bukan Di Negeri Dongeng : Rejeki Milik Siapa?”. Syaamil Cipta Media: Bandung.

[2] HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745

[3] HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676

[4] “Umar bin Abdul Aziz: Kebijakan Politiknya Rahmat bagi Semesta Alam (2)”. Arsip diskusi Ar Royyan : http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg04650.html. Diakses pada tanggal: 14 Desember 2008

[5] Nasution, Rahmat H. “Suap, Antara Realitas dan Fatwa Agama”. Sumber: http://www.kafemuslimah.com/article_detail.php?id=613. Diakses pada tanggal: 14 Desember 2008.

[6]  HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599. “Hadits ke-6 : Dalil Halal dan Haram Sudah Jelas”. Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi – oleh: Syaikh Shalih Alu Syaikh.

[7] “Pelajaran dari Kisah Thalut”. Sumber : http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/pelajaran-dari-kisah-thalut.htm. Diakses pada tanggal: 14 Desember 2008.

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Kebersihan dan Berkah Sebuah Negeri
  • » [Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur
  • » Mari Memudahkan, Semoga Dimudahkan!
  • » Renungan Susu Jahe - Ar Rahman 39
  • » [Kliping] : Republika Online
  • » Dzaghridi Ya Samaa’
  • » Kajian Ramadhan
  • » Selamat Jalan, Mbah. Pertanyaanmu Terjawab Sudah…
  • Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya