Diposting pada December 18, 2008 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.
Gambar 1. Bolos kuliah menolak UU BHP
Gambar 2. Bakar Ban Mobil Biar Orang Pada Liat
3. Demo UU BHP di Makassar : Ganggu Perekonomian Rakyat Kecil
Saya heran dengan demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini. Entah kenapa, mereka tak lagi terlihat cerdas. Demo hanya sekedar “ritual kaderisasi” saja. Kalo nggak demo nggak militan, barangkali itulah yang muncul di benak mereka. Setelah kasus mahasiswa bakar ban dan merusak mobil, saya semakin tidak simpatik dengan ide-ide demonstrasi mahasiswa jaman sekarang. Bukannya apatis, tapi yang mereka lakukan cenderung anarkis dan tidak bertanggung jawab. Istilah jawa-nya : Waton nggasruk lan waton suloyo. Coba lihat yang mereka lakukan saat pengesahan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP). Gelagepan saat ditanya pasal mana yang memungkinkan terjadinya liberalisasi pendidikan. Saya pengen tanya (just wondering aja, kalo suatu saat liat mereka secara langsung),
“Dik-dik, emang situ bayar berapa kuliahnya? Sudah pernah denger kalau kuliah situ disubsidi negara 2/3-nya? Terus yang dikomersilkan apanya? Kamu udah baca tuntas belum yang kamu permasalahkan itu? Oya, terus IPK kamu berapa? Selain demo, kamu belajar nggak? Apa aja karya kamu buat bangsa kamu yang miskin ini? Yang sabar aja yah, namanya juga idup di negeri Indonesia. Bukan cuman kamu yang sebel, tapi bikin macet jalan nambahin sebel orang lain….”
*sambil ngeloyor pergi karena sebel liat demo asal bunyi dan bikin susah pengguna jalan yang ga berdosa.
» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini:
December 18th, 2008 at 9:33 pm
Sunu Wibirama: pendemo pendemo.
(mendemo demonstran
)
December 18th, 2008 at 9:53 pm
@Lambrtz
Hehe…ini bukan masalah “apa” tapi “bagaimana” nya, Mar. Boleh aja demo, asal ga berisik, asal kuliah lancar, dan asal ga bikin macet. Emang mereka bayar kuliah untuk jadi demonstran?
December 18th, 2008 at 10:41 pm
Ja, ja, saja paham, dan sebetoelnja dalam hal ini saja ada sependapat dengan Boeng poenja opini
December 19th, 2008 at 11:43 pm
waduh, keduluan sunu mau posting topik kaya gini…
ah untungnya dulu di sma udah kerap ikut demo… entah itu demo ekskul silat, demo masak, sampe demonstrasi saat pelajaran bahasa indonesia…
December 23rd, 2008 at 10:19 am
Coba simak percakapan dua orang mahasiswi yang juga aktivis ini:
E: “Ntar kalo ane lulus kuliah, ane pingiiin banget tinggal di pelosok-pelosok dan memanfaatkan ilmu disana.”(katanya, mantap)
D:”Kenapa?”
E:”Ane cuma pingin bener2 bisa memanfaatkan ilmu yang sudah ane dapetin selama sekolah dan kuliah untuk masyarakat.Coba bayangin, kita sekolah ni dah berapa lama, SD,SMP,SMA,trus kuliah,sudah berapa banyak subsidi pemerintah yang kita nikmati, apalagi kalo selama ini kita sekolah di sekolah negeri. Nah, setelah lulus nanti, saatnya lah kita memberikan kontribusi(baca:balasan)terbaik untuk negara kita ini.”(ujarnya, dan mengakhiri kalimat dengan tersenyum)
D: (manggut-manggut, terkesan dengan pernyataan temannya yang terdengar nasionalis dan mulia itu…)
BTW, begitulah letak perbedaan antara remaja dan dewasa, Idealis vs Realis. Akh Sunu ni kan, secara usia bisa dikatakan sudah menginjak masa dewasa (baca:bukan remaja lagi, gitu) cara berpikirnya sudah semakin ‘nyata’, temen2 kita yang di kampus ato SMA itu masih pada idealis yang seringkali mengabaikan realitas. Ketika idealisme mereka berkata, “bukan mahasiswa kalo nggak pernah demo” ya mereka akan selalu mewujudkannya, meski tanpa didasari alasan yang ‘nyata’ itu tadi. Kalo buat kita yang sudah ‘tua-tua’ nie, sudah lebih melek sama kehidupan ‘nyata’ , makanya sering kita denger pas kita lulus kuliah kemaren, “selamat datang di dunia nyata”, (karena sebelumnya masih di dunia mimpi…kale..)
ah antum, kaya’ gak pernah ‘muda’ aja….
December 23rd, 2008 at 10:37 am
@si ghuraba
hehe…idealis boleh saja, tapi cara harus santun. Sebab manusia terkadang tertarik bukan karena isu yang diusung, tapi bagaimana cara menyampaikan isu tersebut. So, kreatif dikit lah. Masak dari dulu bakar ban + bikin macet melulu, kasihan pakdhe/budhe yang jualan sayur, mas/mbak yang berangkat kerja/kantor. That’s the main point that i’d like to introduce in this article.