Diposting pada January 17, 2009 | Awan: Adventure | oleh : sunu wibirama.
Tertegun sejenak, saat saya memandangi foto-foto anak kecil Palestina yang tinggal di Libanon. Bukan karena begitu banyaknya jumlah pendemo junior di sana. Tapi coba perhatikan ikat kepala mereka. “Labbaik Ya Aqsho”, demikianlah kira-kira bunyi dari ikat kepala itu. Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kira-kira artinya “Kami sambut panggilanmu, Ya Aqsho”. Al Aqsho adalah salah satu dari tiga masjid yang disunnahkan Kanjeng Nabi SAW untuk diziarahi, selain Masjid Al Harom (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Masjid Al Aqsho memiliki sejarah yang cukup erat kaitannya dengan ummat Islam. Masjid ini bahkan adalah salah satu masjid tertua di dunia. Dahulu, sebelum Allah SWT memindahkan kiblat ke Makkah, kaum muslimin bersholat menghadap ke Masjid Al Aqsho.
“Sungguh kami (sering) melihat mukamu mengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan mukamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkan mukamu ke arahnya” (Surat Al Baqoroh : 144)
Dulu sebelum turunnya ayat Al-Qur’an tentang perintah kiblat menghadap Ka’bah, Rosululloh SAW sholat menghadap Masjidil Aqsho di Yarussalaem. Ketika ayat tersebut turun, Rosululloh SAW sedang melakukan sholat, saat itu juga di dalam sholatnya Rosululloh SAW dan jama’ahnya langsung berpindah/berputar arah kiblatnya dari arah Masjid Aqsho ke arah Masjidil Harom di Makkah, tanpa membatalkan sholat itu. Di Masjid inilah saat itu Rosululloh SAW melakukan sholat, karena itu Masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain, yaitu Masjid yang Kiblatnya ada dua arah.
Labbaik Ya Aqsho. Demikian seru anak-anak itu. Maka, argumen bahwa tragedi itu adalah perang untuk berebut wilayah semata menjadi dangkal. Apa yang diperjuangkan oleh orang-orang Palestina sebenarnya lebih dari asumsi para pengamat barat, yang mencoba menghapus motivasi utama jihad fisik di Palestina. Para pengamat ini tak bisa lepas dari rekayasa Zionis yang paranoid itu, yang tega menembaki bocah-bocah tak berdosa, dengan alasan supaya kelak tidak ada lagi benih-benih teroris di Palestina. Argumen para pengamat ini lalu didukung dengan opini menyesatkan, “Tak ada perang agama, yang ada adalah perebutan wilayah”. Opini yang keliru. Keliru besar apabila seorang muslim sampai terikat olehnya.
Labbaik Ya Aqsho. Mereka memperjuangkan aqidah Islam. Bukan hanya mereka, sebenarnya kita pun wajib melakukannya. Labbaik Ya Aqsho. Bukan karena penjajahan semata, tapi karena MASJID AL AQSHO. Karena masjid ini adalah masjid yang harus diperjuangkan kedudukannya. Ia nya tak beda dengan Masjid Al Harom dan Masjid Nabawi. Ia nya pernah menjadi tempat singgah Rosululloh SAW sebelum naik ke Sidrotul Muntaha, saat peristiwa Isro’ Mi’roj. Ia nya kini menjadi tempat plesiran, tak ubahnya candi-candi di Indonesia di mana seorang turis bisa dengan mudah berfoto di dalamnya, menginjakkan kaki, berkata-kata kotor dan meludah dengan leluasa. Kalau hati kita tak jua tergugah, maka aqidah kita perlu dipertanyakan ulang. Sudah Islamkah kita? Ataukah kita harus menunggu sampai Masjid Al Harom dan Masjid Nabawi luluh lantak oleh rudal helikopter Apache?
Labbaik Ya Aqsho…bi ruh, bi damn, nafdiika yaa Islam….
» Diposting pada awan Adventure. Artikel lainnya pada awan ini:
January 20th, 2009 at 9:01 am
labbaik ya Aqsho..