Diposting pada February 15, 2009 | Awan: Adventure, Daily Life, Travelling | oleh : sunu wibirama.
Entah sebuah kebetulan atau bukan, mahasiswa Indonesia yang hidup di luar negeri umumnya “mematok” dan “menyebut” golongan mereka sebagai kasta terendah diantara ekspatriat Indonesia lainnya. Sebuah fenomena yang sebenarnya menarik untuk didiskusikan. Sebab, tidak di Amerika, Singapura, Thailand, pun Jepang, rekan-rekan saya yang sedang melanjutkan studinya selalu berusaha untuk sehemat mungkin dalam memanfaatkan uang saku dan beasiswa mereka. Bahkan tak jarang dari mereka, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, memiliki pekerjaan sambilan meskipun sebenarnya uang sakunya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di Thailand misalnya, jarang rekan mahasiswa yang bepergian menggunakan taksi bila ia ingin pergi ke suatu tempat jika ia tidak dalam keadaan sangat terpaksa. Pilihan pertama adalah bus kota gratisan (di Thailand ada beberapa bus jalur khusus yang digratiskan oleh pemerintah). Tentu dengan berpura-pura menjadi orang Thai (dengan tampang sedikit memelas dan kuyu), aman sudah dari kecurigaan kondektur (hehehe). Begitu pula pilihan kedua, yakni “sepur kluthuk” (dalam bahasa thai: Rot Fai, artinya kereta api) yang gratis pula, kecuali orang asing. Untung orang Indonesia mirip dengan orang Thai, jadi “my pehn rai” (tak apa-apa) lah….

Katrok yo ben, sing penting gratis

Bus jadi pilihan utama para mahasiswa
Di Jepang, para mahasiswa Indo ini pun tak malu-malunya memungut laptop atau sepeda bekas yang dibuang di tempat daur ulang. Beberapa dosen saya dulu, saat sekolah di Jepang sampai berebut dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Yang diperebutkan pun tidak tanggung-tanggung, televisi yang cukup bagus yang sudah dibuang oleh pemiliknya. Yah maklum lah, musti hemat uang saku. Hasil “laku prihatin” ini juga cukup menggiurkan, salah seorang dosen teknik mesin UGM berhasil membangun sebuah rumah sederhana di sebuah wilayah di bilangan Yogyakarta dari hasil menabung saat ia menempuh studi di Jepang. Menggiurkan bukan? Maka, tak jadi soal bila mereka menyebut dan memposisikan diri mereka sebagai kasta terendah karena memang ada “goal” lain yang lebih besar, yang ingin mereka capai.

Sering-sering datang ke kedutaan, lumayan hemat uang makan ![]()
Soal cerita sambilan, sudah bukan barang baru lagi. Mahasiswa Indonesia adalah salah satu manusia tertangguh di dunia. Bagaimana tidak, karena sudah terbiasa “urip rekoso, ra mangan yo poso” (hidup susah, tidak makan ya puasa), maka bagi mereka kerja sambilan bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Salah seorang teman di Jepang, punya pekerjaan sambilan “asah-asah” alias jadi asisten juru masak bagian cuci piring. Istilah kerennya “Kitchen Driver” karena ibarat sopir yang memegang kemudi, ia memutar-memutar piring di dapur. Hasilnya lumayan. Dalam satu bulan, ia bisa mendapatkan jumlah yang hampir sama dengan beasiswa yang ia dapatkan. Gaji kerjanya dalam satu bulan 150 ribu yen. Beasiswa yang ia dapatkan sekitar 160 ribu yen (dan jelas masih sisa).
Mahasiswa di Amerika dan Inggris, pernah bercerita ke saya tentang kegiatan khusus pagi harinya. Saat semua orang masih lelap dalam selimut hangatnya, ia mengendarai sepeda pancal untuk mengantarkan koran ke para tetangga. Pernahkah Anda membayangkan seorang mahasiswa doktoral yang berprofesi sebagai loper koran? Tentu di Indonesia akan jadi bahan tertawaan. Tapi jangan salah, negara-negara maju menghargai profesi otot pula, meskipun dari sisi nominal masih kalah dengan kerja otak. Loper koran adalah profesi sampingan mahasiswa yang cukup favorit di Inggris dan Amerika.

Menunggu kereta di stasiun ala kadarnya
Bagaimana dengan saya sendiri? Meskipun lembaga penyedia beasiswa saya melarang keras para siswanya untuk bekerja, namun saat akhir pekan saya manfaatkan dengan “nyambi”, mengisi kelas iqro’ dan tahsin qur’an untuk sebuah keluarga ekspatriat di Bangkok. Pekerjaan yang datang dengan tidak sengaja karena hanya menggantikan posisi mahasiswa lama yang saat ini sedang mudik ke Indonesia. Toh tidak dilakukan pada hari kerja, bukan?
Kasta terendah bukanlah soal. Hakikat lebih utama, yang penting halal dan thoyyib ![]()
» Diposting pada awan Adventure, Daily Life, Travelling. Artikel lainnya pada awan ini:
February 20th, 2009 at 6:07 am
Tinggal Maisyahnya ditemenin Aisyah tuh..
Eh.. atau udah ya?
March 18th, 2009 at 8:37 am
o gitu ya kehiduppan mahasiswa indonesia diluar negri baru tau niyaudah apapun yang dilakukan adalh ibadah maka gunakkan lah dan jalankanlah dgn senang hati dan keiklassan salam semua percayalah hidup yang kalian jalankan cuman untuk kehiduppan kalian dimasa depan miskin harta tak masalah selagi kaya ilmu tak bakal kelapparran heeeeeeeeeee yang penting halal tiyba