Diposting pada March 23, 2009 | Awan: Iseng | oleh : sunu wibirama.
Peristiwa ini terjadi belum lama ini, kurang lebih dua minggu yang lalu. Namun demikian, efek traumatisnya masih terasa sampai dengan hari ini dan sepertinya tidak akan hilang seumur hidup. Begini ceritanya, kurang lebih dua minggu yang lalu, hari Minggu malam (8 Maret 2009) pukul 19.00, bapak saya berniat untuk membayar tagihan telepon di ATM (Anjungan Tunai Mandiri) Bank BNI di depan Purawisata, Yogyakarta. Kebetulan ATM ini adalah ATM terdekat dari rumah kami. Saat memasukkan kartu ATM, kartu tersebut nyangkut di mesin dan tombol CANCEL di mesin tersebut tidak berfungsi. Suasana saat itu sangat sepi, hanya ada seorang tukang parkir yang sedang ngobrol dengan seseorang (sebut saja si B). Bapak pun panik dan meminta tolong tukang parkir. Si B menawarkan diri untuk membantu bapak, bahkan ia mengeluarkan handphone supaya bapak bisa menghubungi nomer hotline yang ada di ATM tersebut. Nomer tersebut adalah 0274-30.14.389, terletak di sisi kanan mesin ATM. Saat di telepon, nomer tersebut berfungsi dan orang yang ada di seberang sana (sebut saja si C) memberikan berbagai macam instruksi untuk menekan tombol-tombol ATM, namun tetap saja ATM tidak keluar. Si C kemudian meminta data-data bapak, seperti data nama, tanggal lahir, nama orang tua dan nomer pin ATM dengan alasan data tersebut akan digunakan untuk memblokir ATM bapak yang nyangkut di mesin. Tanpa rasa bersalah, bapak memberikan data lengkap kepada orang yang ada di telepon tersebut. Hari Selasa (10 Maret 2009) bapak diminta untuk datang ke kantor BNI 46 terdekat untuk mengurusnya. Bapak pun pulang ke rumah sambil memperhatikan si B yang kemudian sibuk menelepon.
Sesampainya di rumah, ibu pun histeris dan berkata, “Wah mas, ….ketipu!” Ibu pun bercerita kejadian serupa pernah menimpa rekannya saat mengambil uang di ATM BCA di Ramai Mall Malioboro. Rekan ibu saya kehilangan uang sampai Rp. 39 juta gara-gara teledor menyebut nomer pin ke orang yang tak dikenal.
Hari Selasa, bapak mengurus ke BNI 46 UGM. Benar, bapak mengalami sebuah bentuk kejahatan yang disebut “card trapping” (jebak kartu). Hampir semua bank di Jogja pernah mengalami kejadian serupa. Walaupun bank tidak menanggung resiko, tetap saja nasabah yang menjadi korban. Petugas bank menjelaskan bahwa kasus itu bisa juga terjadi di mall, di Indogrosir, Ambarukmo Plaza, dan lain-lain.
Beberapa saran dari pihak bank, sebagai berikut:
(a) Jangan ambil uang di tempat ATM yang bukan di bank karena tak ada satpam atau petugas resmi, kecuali sangat terpaksa.
(b) Kalau sampai ATM macet, ditinggal saja, jangan sampai memberi tahu nomer pin kepada orang yang pura-pura menolong, karena kartu akan diambil dia dengan pinset dan uang akan di transfer. Petugas bank juga tidak berhak bertanya nomer pin.
(c) Nomer layanan hotline yang tertempel dengan stiker pada mesin ATM, sering nomer palsu. Jika nomer asli bank biasanya mudah di-ingat (nomer cantik), jadi memang nomer yang ditempel itu sengaja untuk menjebak. Bapak menelpon ulang ternyata itu nomer telkom-fleksi, dan dijawab oleh mesin.
Saldo tabungan bapak ternyata ditransfer Rp 1,2 juta dan disisakan Rp 77 ribu, pada hari yang sama dengan pengambilan uang, yakni Minggu (8 Maret 2009).
Bukan kali ini saja kami mengalami kejadian menyesakkan seperti ini. Tertipu mentah-mentah karena memberikan data pribadi kepada orang yang tidak kami kenal pernah pula terjadi. Maka, peristiwa ini menjadi pelajaran kesekiankalinya untuk keluarga kami. Sensitivitas kami terhadap orang-orang yang meminta data pribadi, seperti nama, tempat tanggal lahir, nomer HP atau telepon saat ini sudah mencapai batas maksimal. Kami tak akan pernah toleran memberikan data-data tersebut kepada orang yang belum pernah kami kenal sebelumnya dan belum pernah bertemu secara fisik. Terus terang, peristiwa tersebut benar-benar membuat saya pribadi seperti setengah paranoid, apalagi kami hidup di negeri orang di mana bantuan tak bisa semudah didapatkan saat kami berada di tanah air.
Untuk rekan-rekan yang lain, waspadalah. Semoga peristiwa ini bisa kita ambil hikmahnya.
» Diposting pada awan Iseng. Artikel lainnya pada awan ini:
March 27th, 2009 at 3:33 pm
Seorang teman saya pernah mengalami kertu “tertelan” mesin ATM di stasiun Gambir. Setelah bercucur keringat karena kebingungan, telpon ke rumah (di Yogya) untuk mencarikan nomer call centre BCA, akhirnya mendapat call center yang betul. Setelah komunikasi dan menyampaikan gejala2 yang muncul, dari pihak call centre justru memberi jawaban jelas: Oke pak, kartu bapak tertelan mesin, itu aman, laporan bapak sudah kami catat nomer sekina, nama saya sebagai operator yaitu A. Besuk ketika di Yogya bapak segera lapor ke bank BCA, dan mencari surat keterangan kehilangan dari polisi untuk keperluan administrasi pembuatan ATM yang baru”
Jadi, orang itu tidak menanyakan nomer pin, tanggal lahir dsb. Karena, petugas bank tidak berhak menanyakan nomer pin seseorang. Ciri ATM yang tertelan, yaitu semua tombol dan layar lalu berkedip-kedip menyala merah, kemudian restart, dan pada layar muncul ulang “silahkan masukan kartu anda, dan tekan nomer pin”.
Jika ATM kejepit, maka pesan yang muncul, layar tetap biru dengan tulisan putih, bahwa mesin mengalami gangguan (error), serta kalimat dalam bahasa inggeris-nya. Kartu tertelan akan lebih aman daripada kartu kejepit. Atau kalau kartu kejepit, ditinggal pergi saja, daripada ada seseorang yang pura-pura menolong tetapi nanti malah menanyakan nomer pin.
April 19th, 2009 at 10:04 pm
Betul, dijaman sekarang kita harus hati2 menerima bantuan dari seseorang yang tidak dikenal yang tiba2 menawarkan bantuan
April 21st, 2009 at 5:05 pm
terima kasih infonya pak..