Diposting pada May 4, 2009 | Awan: Adventure | oleh : sunu wibirama.
Kisah kali ini adalah pengalaman tak terduga saat berbincang dengan seorang warga negara asal Filipina yang akan bepergian ke Bangkok bersama istrinya. Ceritanya, kami bertemu di ruang boarding D4 international airport Soekarno-Hatta dengan tujuan yang sama, Thailand. Ia membuka pembicaraan dengan bertanya seputar kamera SLR, karena kebetulan ia juga seorang penggemar fotografi. Perbincangan menjadi semakin menarik karena ia tahu banyak tentang dunia fotografi dan beberapa tempat menarik di Asia Tenggara.
Ia juga seorang pengamat Indonesia, Indonesianist…barangkali begitu orang bilang. Ia sedikit banyak tahu tentang bahasa Indonesia, kultur orang Indonesia dan beberapa makanan khas Indonesia. Bahkan ia juga sudah mencoba Gudeg, makanan tradisional orang Jawa. Ia tahu tentang masakan Padang dan Manado yang pedas. Ia juga tahu bahwa di Indonesia iklimnya tak seberes beberapa tahun yang lalu. Namun sayangnya, ini dia yang ingin saya ceritakan, ia juga sangat mengerti dan paham betapa semrawutnya transportasi publik di negeri ini.
Hal ini saya sadari saat kami berbincang tentang transportasi di Thailand. Ia bertanya kepada saya tentang jenis-jenis transportasi yang bisa digunakan di Thailand. Saya pun menjelaskan beberapa jenis transportasi yang memang umum digunakan di Bangkok seperti bus, tuk-tuk (semacam bajaj), ojek, sampai MRT (Mass Rapid Transport) dan subway. Dua jenis yang terakhir ini tidak mereka lihat di Jakarta.
“I haven’t seen this kind of transportation here. However, Jadebotabek itself is a big area. I don’t understand why the local government stops the developing of monorail in Jakarta”, kata si istri. Suaminya hanya menimpali dengan senyum. “Yeah, but they have busway, right?” katanya kepada saya sambil tertawa kecil.
Upps….sampai di titik ini tenggorokan saya terasa kelu. Benar saja, wajar jika mereka menyindir kami. Barangkali mereka jengkel dengan semrawutnya Jakarta dan ketidakbecusan “ahlinya” (baca : gubernur DKI Jakarta) mengurus kotanya sendiri. Alih-alih mengirimkan saran ke pemprov (yang mungkin juga tidak ditindaklanjuti), mereka mencoba memberi “saran yang cukup pedas” itu ke kami.
“I don’t know exactly. I think, now we need it soon. We must build the MRT and subway system, because our Jakarta is too crowded now …”, saya menimpali mereka sekenanya. Wajar, sekali lagi, bila banyak orang yang bertanya tentang kebecusan gubernur Jakarta mengelola dana proyek JICA yang digunakan untuk melanjutkan proyek monorail itu. Apalagi mereka melihat proyek busway pun banyak menimbulkan masalah baru.
Saya mencoba merenung sepanjang perjalanan ke Bangkok. Aahh….sampai kapan ya, negeri yang kaya ini mampu mengurus dirinya sendiri? Tak ada yang tidak mungkin, karena Indonesia jauh lebih kaya daripada Singapura, negara kecil di Asia Tenggara yang memiliki sistem transportasi publik paling maju di antara negara lain di Asia Tenggara. Permasalahannya hanya satu : G.O.O.D.W.I.L.L
» Diposting pada awan Adventure. Artikel lainnya pada awan ini:
June 4th, 2009 at 10:18 am
biarpun telat komen, gapapa. emang, ibukota kita tu semrawut. tapi bikin monorail di jakarta tu rasanya gak sembarangan. kita harus mikirin kemampuan tanahnya yang bisa menahan pondasi untuk relnya yang segede apa. belum lagi jakarta yang sering banget banjir (tu pondasi bakalan kerendem air). apalagi tanah di jakarta sudah mulai ambles karena minimnya daerah hijau yang dapat menahan air dan akar tanaman yang menahan tanah. intinya, riskan banget,lah. menurutku, mending perbaiki kualitas transportasi umum yang sudah ada dengan menerapkan kualitas yang standar internasional dan meningkatkan pendapatan sopir ma kondekturnya (biar gak balapan di jalan), mengetatkan peraturan penggunaan kendaraan pribadi, dan yang penting mematuhi aturan lalin. gitu…