Diposting pada June 4, 2009 | Awan: Renungan | oleh : sunu wibirama.
Pemilihan legislatif tahun 2009 sudah kita lalui. Kini masyarakat Indonesia di luar negeri dan di dalam negeri dihadapkan pada agenda pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sebagaimana yang kita tahu, kini ada tiga kubu capres dan cawapres yang mencalonkan diri sebagai calon presiden dan wakil presiden. Beberapa isu politis pun dilontarkan, bak perang dingin AS dan Uni Sovyet di era 1980. Mulai dari isu Neoliberalisme, Jilbab, sampai dengan slogan masing-masing pasangan. Mereka masing-masing mulai tampil lebih Islami, dengan harapan suara ummat Islam akan lari kepada mereka. Lihatlah, di beberapa pertemuan, Pak Boed yang pengajar di Fakultas Ekonomi UGM ini menjadi lebih akrab dengan para pewarta dan peliput berita. Tak ketinggalan, di Ponpes Lirboyo, Pak Boed rajin menggalang dukungan. Meskipun demikian, sampai dengan artikel ini dibuat, isu “penganut paham Neoliberalisme Ekonomi” masih belum mampu ditepis dengan bersih. Pun dengan masih dipajangnya status Pak Boed sebagai gubernur IMF (masuk dalam jajaran Board of Governors), berat nian usaha Pak SBY dan Pak Boed menepis tuduhan ini. Jikalau Pak Boed berani mengundurkan diri dari IMF, tentu Indonesia bisa jatuh dan bangkrut (sementara), menyusul perusahaan General Motors yang sudah hampir kolaps diterpa krisis ekonomi.
Lain Pak Boed, lain pula Pak Jusuf Kalla dan Pak Wiranto. Pasangan berjuluk JK-WIN ini konon sedang mendapatkan angin karena beberapa kalangan marak membicarakan hijab yang dikenakan oleh istri dari kedua tokoh ini. Tak ketinggalan dengan Pak SBY, Pak JK dan Pak Win pun rajin menggalang dukungan dari kalangan Islam. Bahkan aktivitas kunjungan ke pesantren pun tak kalah dengan kunjungan anggota DPR yang wora-wiri studi banding ke luar negeri tapi nihil hasil. Khusus untuk masalah studi banding ini, tidak perduli partai Islam, partai kafir, partai sekuler, semua kompak mendukung usulan ini.
Calon lain, Bu Megawati dan Pak Prabowo juga rajin bersilaturrahmi politik ke umat Islam. Bahkan Pak Prabowo juga mencitrakan diri dengan berbaju safari layaknya Presiden Soekarno dahulu. Deklarasi pasangan ini pun dilakukan di kawasan kumuh, seolah-olah ingin bercerita kepada para rakyat miskin, “Ini lho, kami ada di sini untuk menemani dan membela hak-hak kalian”. Padahal beberapa tahun yang lalu, Pertamina pernah ribut gara-gara ulah kader PDIP saat itu yang bernama Laksamana Sukardi. Kasus penjualan tanker pun menjadi hangat, seiring dengan penjualan Indosat ke SingTel. Tentu hasil kiprah anak buah ini ikut mempengaruhi kas para bos-nya. Dan hasil dari dua buah prestasi yang luar biasa ini tentu akan menyejahterakan penduduk di kawasan kumuh itu jika 2,5% dari hasilnya mereka sedekahkan, instead of hanya berdeklarasi saja di sana.
Semua pasangan capres dan cawapres berhak memilih cara mereka sendiri untuk meraih dukungan. Sebatas tetap ingat dengan kewajiban negara (bagi presiden, wakil presiden saat ini) dan tidak menjual aset-aset nasional kepada pihak asing, sah-sah saja kampanye dilakukan. Masalah bukan ada pada mereka. Masalah ada pada para politikus partai Islam yang berkubang di event yang sering mereka sebut sebagai sebuah perang (meskipun kadang mereka tak hanya menikmati ghanimah yang berupa proyek-proyek berskala ratusan juta, tapi juga suap yang disebut sebagai mahar politik). Berbagai macam alasan pun mereka kemukakan. Salah satu alasan yang terlihat Islami, karena menggunakan bahasa Arab, adalah Muhtamal Rojih Fauzuhu (Berkoalisi dengan yang memungkinkan untuk menang).
Ummat Islam, baik mereka yang ada di kalangan perkotaan maupun yang ada di pedesaan, sebenarnya tak pernah beda jauh dari masalah taklid politik. Yang di desa, “Ndherek Mbah Kyai” sedangkan yang di kota “Taat pada Qiyadah (pemimpin)”. Awalnya, taklid politik ini sangat berasa dalam mendongkrak popularitas partai-partai Islam. Mudahnya menggerakkan kader di tingkat bawah, dengan berbagai macam wasiat, bayanat, taklimat, dan “at, at” yang lain barangkali membuat para kyai dan pemimpin di tingkat atas lupa, bahwa ummat Islam adalah ummat yang sangat memperhatikan sejarah dan nilai-nilai masa lalu. Wajar jika kini banyak kritik dan masukan yang mampir ke parpol Islam karena manuver politik mereka sangat jauh dari isi ceramah yang biasa mereka ajarkan di lingkup pertemuan kecil maupun ceramah umum. Semakin besar pengaruh manuver, semakin publik pula kritik yang disampaikan. Bahkan setingkat kader nasional pun sampai memberanikan diri mengkritik para pemimpinnya di sebuah harian nasional (yang dimuat kembali dalam situs Gubernur Jawa Barat).
Pemenang kali ini adalah sudah jelas : IDEOLOGI PRAGMATISME. Dan Islam pun kembali menjadi “Cita Rasa” di ranah politik. Bukan “Asas dan Ideologi Perjuangan”. Tak ada yang berani berterus terang dengan keislaman mereka. Tak ada yang berani berterus terang akan menegakkan syariah di ranah pemerintahan.
Ladkrabang, 4 Juni 2009
» Diposting pada awan Renungan. Artikel lainnya pada awan ini:
June 4th, 2009 at 5:44 am
mana mungkin berani menegakkan syariah di ranah pemerintahan, di tingkat keluarga pun masing-masing orang Indonesia belum mampu
June 13th, 2009 at 3:36 pm
Hmm…umat islam kembali menjadi mainan.
Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri…
dan perjuangan itu (ternyata) masih begituuuu….panjang……
Setiap bertanya kenapa, tak pernah ada jawaban yang memuaskan.Padahal, bukankah setiap amal itu harus dengan ilmu, ya tho?